Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapan Abu Vulkanik Bisa Berhenti dan Kenapa Bisa Terbang Jutaan KM?
ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Pixabay)
  • Abu Anak Krakatau dapat menyebar jauh karena letusan kuat melontarkan partikel halus ke udara atas, lalu angin kencang membawanya sebelum jatuh ke tanah.
  • Hujan abu berhenti ketika pasokan magma segar habis dan tekanan dapur magma mereda; tanpa dorongan, material mendingin, mengeras, lalu menyumbat saluran gunung.
  • Waktu berakhirnya sebaran abu tidak bisa dipastikan; ahli memantau pola gempa, gas, serta deflasi dan deformasi gunung untuk menilai fase letusan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Abu vulkanik dari peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau tengah menjadi sorotan. Fakta sebarannya yang mencapai Jawa Barat serta bahayanya bagi kesehatan membuat masyarakat menjadi waspada.

Arah dan jauhnya sebaran abu sangat bergantung pada seberapa kuat letusan gunung dan ke mana angin bertiup. Saat gunung meletus kuat, abu halus terlempar sangat tinggi hingga mencapai lapisan udara atas.

"Di sana, angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan kilometer (km) sebelum akhirnya jatuh ke tanah," Dr. Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dalam keterangannya.

Kapan pasokan magma berhenti?

Berhentinya hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender. Letusan baru akan benar-benar berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali.

Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yg membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun (kadang tenang, kadang membesar).

Pasokan magma baru akan berhenti ketika dorongan alami dari dalam Bumi kehilangan tenaganya. Tanpa dorongan kuat, cairan di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya.

"Saat itulah gunung api kembali ke kondisi stabil dan tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan," jelas Daryono.

Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya bau gas yang menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi).

abu vulkanik gunung berapi (unsplash.com/yoshginsu)

Waktu berhentinya sebaran abu vulkanik sulit diprediksi hingga ke jam, tanggal atau bulan pastinya. Perut bumi berada puluhan kilometer di bawah tanah dan merupakan sistem alam yg sangat rumit.

Belum ada teknologi di dunia yang bisa mengukur sisa jumlah magma di dalam bumi secara persis—mirip kejadian gempa yg belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukan bumi.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Dengan memantau penurunan gempa dan kondisi badan gunung (deflasi, deformasi permukaan) secara terus-menerus, para ahli dapat mengetahui apakah gunung tersebut mulai lelah dan bergerak menuju akhir fase letusannya," jelas Daryono.

Curated For You

Editorial Team

Related Article