Hujan abu vulkanik akibat erupsi Anak Gunung Krakatau tidak bisa dipastikan berhenti pada tanggal atau waktu tertentu. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa letusan baru benar-benar berhenti ketika pasokan magma segar dari dalam bumi sudah habis dan tekanan di dapur magma kembali tenang. Artinya, selama masih ada dorongan magma dari dalam bumi, aktivitas erupsi yang menghasilkan abu masih dapat terjadi.
Aktivitas tersebut juga tidak selalu berlangsung dengan intensitas sama. Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan dapat berlangsung secara naik-turun. Gunung api bisa terlihat lebih tenang untuk sementara, kemudian kembali mengalami peningkatan aktivitas. Kondisi inilah yang membuat durasi hujan abu tidak dapat ditentukan hanya dengan menghitung berapa lama erupsi sudah berlangsung.
Waktu berhentinya erupsi juga sulit diprediksi hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan. Perut bumi berada jauh di bawah permukaan dan merupakan sistem alam yang sangat kompleks. Sampai sekarang, belum ada teknologi yang mampu mengukur secara persis berapa banyak magma yang masih tersisa di dalam bumi.
Oleh karena itu, para ahli vulkanologi tidak menebak tanggal berakhirnya erupsi. Melainkan lebih pada memantau perubahan aktivitas gunung secara terus-menerus untuk melihat apakah aktivitasnya mulai menurun.