Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Bintang yang Kita Lihat Sebenarnya Bisa Berasal dari Masa Lalu?
ilustrasi bintang di langit malam (pixabay.com/Bru-nO)
  • Cahaya bergerak sekitar 299.792 kilometer per detik, tetapi jarak antarbenda langit sangat luas sehingga yang terlihat dari Bumi selalu merupakan kondisi masa lalu.
  • Cahaya Matahari tiba dalam sekitar 8 menit 20 detik; Proxima Centauri, Sirius, dan Vega terlihat seperti 4,25, 8,6, serta 25 tahun lalu.
  • Teleskop Hubble dan JWST menangkap cahaya dari nebula maupun galaksi sangat jauh, sehingga astronom dapat mempelajari sejarah alam semesta hingga miliaran tahun lalu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat malam tiba dan langit sedang cerah, ribuan bintang mungkin terlihat berkelap-kelip di atas kepala. Sekilas, kita mungkin mengira sedang melihat kondisi bintang-bintang tersebut secara langsung. Namun, ada fakta menarik di balik pemandangan itu: bintang yang kita lihat saat ini sebenarnya adalah gambaran dari masa lalu.

Bukan karena bintangnya benar-benar kembali ke masa lalu, melainkan karena cahaya membutuhkan waktu untuk menempuh perjalanan dari bintang menuju Bumi. Semakin jauh sebuah bintang berada, semakin lama pula cahaya yang kita terima telah mengembara di luar angkasa. Lantas, bagaimana sebenarnya prosesnya?

1. Cahaya tidak sampai ke Bumi secara instan

Cahaya memang bergerak luar biasa cepat. Di ruang hampa, kecepatannya mencapai sekitar 299.792 kilometer per detik. Meski demikian, alam semesta begitu luas sehingga cahaya tetap membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Untuk menggambarkan jarak yang sangat jauh di luar angkasa, astronom menggunakan satuan tahun cahaya. Satu tahun cahaya merupakan jarak yang dapat ditempuh cahaya selama satu tahun, yaitu sekitar 9,46 triliun kilometer.

Karena cahaya membutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan, kita tidak pernah benar-benar melihat benda langit dalam kondisi "sekarang". Kita melihatnya sebagaimana keadaannya ketika cahaya yang sampai ke mata kita pertama kali meninggalkan benda tersebut. Dengan kata lain, semakin jauh sebuah benda langit, semakin jauh pula kita melihat ke masa lalunya.

2. Matahari yang kita lihat juga merupakan masa lalu

Tidak perlu melihat bintang yang jaraknya ratusan tahun cahaya untuk memahami fenomena ini. Matahari saja sudah menjadi contoh yang sangat jelas.

Matahari merupakan bintang terdekat dengan Bumi, tetapi cahayanya tetap membutuhkan waktu sekitar 8 menit 20 detik untuk mencapai kita. Artinya, ketika sinar matahari menyentuh kulitmu saat ini, cahaya tersebut sebenarnya meninggalkan permukaan Matahari lebih dari delapan menit sebelumnya. Jadi, secara sederhana, Matahari yang kita lihat sekarang adalah Matahari sekitar delapan menit yang lalu.

Hal yang sama terjadi pada bintang-bintang lain, hanya saja waktunya jauh lebih lama. Proxima Centauri, sistem bintang terdekat setelah Matahari, berjarak sekitar 4,25 tahun cahaya. Artinya, cahaya yang kita lihat dari sana malam ini telah melakukan perjalanan selama lebih dari empat tahun.

Bintang Sirius bahkan berjarak sekitar 8,6 tahun cahaya, sedangkan Vega sekitar 25 tahun cahaya. Jadi, ketika melihat Vega di langit, kita sebenarnya sedang melihat cahaya yang meninggalkan bintang tersebut sekitar 25 tahun lalu.

3. Langit malam seperti mesin waktu alami

ilustrasi langit malam (unsplash.com/Dylan Taylor)

Inilah bagian yang membuat langit malam begitu menarik. Setiap bintang yang terlihat sebenarnya membawa "rekaman" dari waktu yang berbeda.

Bayangkan kamu sedang melihat beberapa bintang sekaligus. Bintang pertama mungkin berjarak 10 tahun cahaya, sementara bintang lainnya berjarak 100 tahun cahaya. Cahaya dari kedua bintang itu tentu tidak berangkat pada waktu yang sama untuk sampai ke mata kita.

Akibatnya, langit malam bisa diibaratkan sebagai mesin waktu alami. Kita dapat melihat berbagai periode masa lalu hanya dengan mengarahkan pandangan ke objek yang berbeda.

Fenomena ini menjadi jauh lebih luar biasa ketika astronom mengamati objek yang sangat jauh. Cahaya dari Nebula Orion, misalnya, membutuhkan sekitar 1.300 tahun untuk sampai ke Bumi. Sementara itu, cahaya dari galaksi yang berjarak miliaran tahun cahaya bisa membawa informasi tentang kondisi alam semesta miliaran tahun yang lalu.

Itulah sebabnya teleskop seperti Hubble dan James Webb Space Telescope (JWST) dapat digunakan untuk mempelajari alam semesta pada masa awal. Mereka bukan sekadar melihat objek yang jauh, tetapi juga menangkap cahaya kuno yang telah melakukan perjalanan selama miliaran tahun.

4. Apakah ada bintang yang sebenarnya sudah mati

Lalu muncul pertanyaan menarik: kalau kita melihat bintang dari masa lalu, apakah mungkin bintang yang terlihat malam ini sebenarnya sudah mati? Secara teori, bisa saja.

Misalnya, sebuah bintang berjarak 500 tahun cahaya dari Bumi. Jika bintang tersebut mengalami ledakan besar 100 tahun yang lalu, kita belum tentu mengetahuinya sekarang. Informasi tentang peristiwa tersebut masih membutuhkan waktu untuk sampai ke Bumi.

Namun, bukan berarti banyak bintang yang kita lihat dengan mata telanjang sebenarnya sudah mati. Sebagian besar bintang yang dapat dilihat tanpa teleskop berada cukup dekat dan memiliki umur yang jauh lebih panjang dibandingkan waktu yang dibutuhkan cahayanya untuk mencapai Bumi. Jadi, kemungkinan sebuah bintang yang terlihat jelas di langit malam ternyata sudah mati memang ada, tetapi umumnya kecil.

5. Melihat langit berarti melihat sejarah alam semesta

Fenomena perjalanan cahaya ini menjadi salah satu alasan mengapa astronomi begitu menarik. Ketika kita menatap langit malam, kita tidak hanya sedang melihat titik-titik cahaya, tetapi juga sedang melihat potongan sejarah alam semesta.

Bintang yang berjarak puluhan tahun cahaya menunjukkan kondisi puluhan tahun lalu. Galaksi yang berjarak jutaan tahun cahaya memperlihatkan bagaimana galaksi tersebut tampak jutaan tahun sebelumnya. Semakin jauh kita melihat, semakin tua pula cahaya yang berhasil kita tangkap.

Jadi, lain kali saat melihat bintang berkelap-kelip di langit malam, ingatlah bahwa cahaya tersebut mungkin sudah melakukan perjalanan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai ke mata kita. Langit malam bukan sekadar pemandangan indah, melainkan jendela untuk melihat masa lalu alam semesta.

Referensi

Curiosmos. Diakses pada September 2026. How Do Telescopes See the Past? The Simple Reason Every Star Is History
Futura. Diakses pada September 2026. The Light Touching You Now Began Its Journey Thousands of Years Ago—Why?
Sentinel Mission. Diakses pada September 2026. Why Is Looking Far Away Looking Back In Time?
Times of India. Diakses pada September 2026. In 1992, Scientists Found Out That Light Formed in the Sun's Core Takes 1,70,000 Years to Reach Its Surface; Why does the Sunlight That Takes 8 Minutes to Reach Earth Require Lakhs of Years to Come Out?

Curated For You

Editorial Team

Related Article