Kaliadem, Merapi (commons.wikimedia.org/Ryan Gustiawan Putra)
Aktivitas gunung berapi tidak hanya membentuk kerucut gunung, tetapi juga terus mengubah bentang alam di sekitarnya setiap kali terjadi erupsi. Meski letusan dapat menimbulkan kerusakan, proses tersebut kerap meninggalkan kaldera, kawah, maupun daratan baru yang kemudian berkembang menjadi daya tarik wisata. Tidak sedikit destinasi vulkanik populer di Indonesia yang lahir dari jejak letusan besar pada masa lalu.
Salah satu contohnya adalah Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 27 Agustus 1883. Dari aktivitas vulkanik tersebut kemudian muncul Anak Krakatau pada 1927 yang kini menjadi tujuan wisata sekaligus lokasi penelitian. Gunung Tambora di Pulau Sumbawa juga menyimpan jejak letusan besar pada 1815 yang membentuk kaldera luas dan kini menjadi salah satu tujuan pendakian di Indonesia.
Perubahan bentang alam akibat erupsi juga terlihat di Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah erupsi besar pada 2010, kawasan Kaliadem berkembang menjadi destinasi lava tour yang memungkinkan wisatawan melihat langsung sisa material vulkanik dari jarak yang aman. Sementara itu, Gunung Agung di Bali tetap menjadi tujuan favorit pendaki berkat panorama matahari terbitnya, meski sempat mengalami rangkaian erupsi pada periode 2017 hingga 2019.
Kenapa Indonesia memiliki banyak gunung berapi berkaitan erat dengan proses geologi yang telah membentuk kepulauan Nusantara selama jutaan tahun. Proses alam tersebut menghadirkan bentang vulkanik dengan karakter yang berbeda di setiap daerah sehingga menciptakan pengalaman wisata yang beragam. Itulah sebabnya gunung berapi di Indonesia tidak hanya memiliki nilai penting dari sisi geologi, tetapi juga terus menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang paling diminati.