Waktu gempa terjadi juga dapat memengaruhi jumlah korban. Gempa pada malam hari, misalnya, dapat membuat lebih banyak orang berada di dalam rumah ketika bangunan mengalami kerusakan. Sementara itu, gempa pada siang hari dapat berdampak pada orang yang berada di sekolah, kantor, jalan, atau tempat umum.
Selain guncangan langsung, gempa juga dapat memicu berbagai bahaya sekunder. Gempa di wilayah pesisir dapat memicu tsunami, sedangkan gempa di daerah perbukitan dapat menyebabkan longsor.
Kebakaran akibat kerusakan jaringan gas atau listrik dan kegagalan bendungan juga dapat memperbesar dampak gempa. Dengan demikian, jumlah korban dan kerusakan tidak selalu dapat diperkirakan hanya dari angka magnitudo.
Jadi, gempa dengan magnitudo yang sama bisa menimbulkan kerusakan berbeda karena energi yang dilepaskan di sumber gempa tidak langsung menentukan kondisi di permukaan. Karena kondisi setiap wilayah berbeda, gempa dengan magnitudo yang sama pun dapat meninggalkan tingkat kerusakan yang sangat berbeda.
Referensi
Al Jazeera. Diakses pada September 2026. Why do Shallow Earthquakes Cause More Destruction Than Deep Ones?
Business Standard. Diakses pada September 2026. Why Earthquakes of Similar Magnitude Can Have Very Different Outcomes
CNN. Diakses pada September 2026. When It Comes to Earthquakes, Size Matters but So does the Terrain
Earthquake Radar. Diakses pada September 2026. Why Do Some Earthquakes Cause More Damage Than Others
Science Atlas. Diakses pada September 2026. Why Some Earthquakes Tend To Be More Destructive
USGS. Diakses pada September 2026. Earthquake Magnitude, Energy Release, and Shaking Intensity