Kenapa Tidak Ada Spesies Penguin yang Hidup di Kutub Utara?

- Penguin tidak bermigrasi ke utara karena batas geografis dan sulitnya mencari daratan baru.
- Kondisi geografis Arktik kurang ideal bagi penguin karena perbedaan dengan Antarktika dan ancaman predator.
- Lebih banyak ancaman dari predator bagi penguin di Arktik, serta persaingan mencari makanan yang lebih sulit.
Kalau ditanya hewan apa yang identik dengan hamparan es putih di kutub Bumi, salah satu spesies yang langsung terpikirkan di benak kita pasti penguin (famili Spheniscidae). Kelompok burung tak bisa terbang ini memang jadi ikon dari kutub selatan yang aksinya selalu membuat kita merasa gemas. Tak hanya perilaku, penampilan mayoritas spesies penguin pun terbilang sangat lucu sehingga wajar kalau banyak orang yang memfavoritkan mereka.
Nah, ada satu fakta menarik terkait tempat tinggal penguin yang mungkin sudah kamu sadari sejak awal. Faktanya, hampir seluruh spesies penguin itu secara eksklusif hanya ditemukan di belahan Bumi bagian selatan (Antarktika). Kalaupun ada yang agak ke utara, hanya penguin galapagos (Spheniscus mendiculus) yang tinggal di Kepulauan Galapagos, dekat dengan garis khatulistiwa.
Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan, kenapa spesies burung spesialis suhu superdingin justru hanya ditemukan di satu bagian kutub Bumi saja? Lalu, jika kita membuat skenario dimana ada spesies penguin yang hidup di kutub utara (Arktik), apa yang akan terjadi pada mereka? Penasaran dengan jawaban lengkapnya, kan? Yuk, langsung simak ulasan di bawah ini!
1. Penguin tidak bermigrasi dalam jarak jauh

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penguin jadi spesies burung yang menghuni belahan Bumi selatan. Tak harus Antarktika, mereka juga tersebar di Selandia Baru, Australia, Afrika Selatan, sampai beberapa pulau di dekat garis khatulistiwa. Nah, khusus bagi spesies yang tinggal di dekat garis khatulistiwa, sebenarnya bisa saja mereka bergerak menuju belahan Bumi utara. Namun, sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan pergerakan spesies penguin ke sana.
Dilansir Penguin International, secara historis penguin tidak pernah melakukan perjalanan jauh alias migrasi, apalagi mencapai belahan Bumi utara. Batas geografis berupa bentang laut luas di antara belahan Bumi utara dan selatan mewajibkan penguin untuk berenang dalam jarak yang sangat jauh sebelum bisa bertemu daratan baru. Mereka memang mampu berenang secara lincah dan menyelam cukup dalam, tapi bukan berarti dapat bergerak untuk jarak yang jauh.
Kalau pun bisa menemukan dataran baru di atas garis khatulistiwa, nasib penguin yang nekat itu biasanya tak akan mujur, entah karena tak kuat menahan panasnya suhu di sana ataupun jadi sasaran mudah predator. Malahan, penguin galapagos yang dari tadi disebut tinggal dekat dengan garis khatulistiwa tak pernah meninggalkan Kepulauan Galapagos. Alasannya sederhana; wilayah itu sangat terisolir dari daratan lain sehingga sulit bagi penguin untuk bergerak ke tempat-tempat baru.
2. Kondisi geografis Arktik kurang ideal bagi penguin

Anggap lah ada beberapa ekor penguin yang bermigrasi ke belahan Bumi utara hingga mencapai kawasan Arktik. Kira-kira apa yang akan terjadi pada burung lucu yang satu ini? Untuk mengetahuinya, mula-mula kita harus tahu dulu soal perbedaan bentang geografis antara Arktik dengan Antarktika.
Simpelnya, Arktik yang ada di utara lebih banyak terdiri atas lautan yang membeku dan bisa cair saat musim panas tiba. Sementara itu, Antarktika adalah hamparan dataran (benua) yang ditutupi lapisan es tebal sepanjang tahun sehingga lebar daratannya terbilang tetap dari musim ke musim. Aurora Expeditions melansir kalau penguin adalah spesies burung yang berkembang untuk bertelur dan membesarkan anak di daratan. Faktor mencairnya hamparan es di Arktik inilah yang membuat mereka sulit bertahan di sana.
Tanpa dataran yang cukup, penguin juga semakin sulit untuk menghindari kejaran predator. Di Antarktika, hamparan es di atas permukaan laut jadi zona aman bagi mereka yang sulit untuk dipenuhi Arktik ketika musim panas tiba. Sekalipun ada dataran yang tersisa di Arktik, ancaman bagi penguin bukan hanya berasal dari bentang geografis, tapi juga keanekaragaman hayati yang sangat berbeda antara Antarktika dan Arktik.
3. Ada lebih banyak ancaman dari predator bagi penguin di Arktik

Di Antarktika, penguin sebenarnya memang bukan predator puncak. Di habitat alami, mereka rentan diburu keluarga anjing laut, singa laut, sampai pinnipedia seperti orca. Selain itu, spesies yang tidak tinggal di sekitar Antarktika, semisal Selandia Baru, Australia, Amerika Selatan, atau Afrika Selatan, terbilang rentan terhadap beberapa spesies predator darat. Pada skenario penguin yang hidup di Arktik, nasib sebagai mangsa potensial tetap ada, malah jauh lebih parah lagi.
Dilansir Discover Wildlife, kalau tinggal di Arktik, penguin jadi sasaran empuk bagi predator darat seperti beruang kutub, rubah arktik, sampai serigala. Kalau di sekitar belahan Bumi selatan mereka masih bisa kabur ke laut ketika dikejar predator darat, maka kesempatan itu semakin kecil karena predator darat di Arktik dipersenjatai dengan kemampuan berenang yang memadai. Selain dari daratan, di lautan Arktik yang luas juga ada banyak predator laut, semisal ikan predator, berbagai spesies anjing laut dan singa laut, serta pinnipedia.
Selain masalah predator, persaingan untuk mencari makanan di Arktik terbilang lebih sulit bagi penguin ketimbang di sekitar Antarktika. Ketersediaan sumber makanan favorit penguin, yakni ikan, harus dibagi oleh banyak spesies hewan lain di sana yang pastinya menyulitkan penguin untuk bertahan. Kalau di Antarktika, penguin dapat dengan mudah memperoleh ikan karena persaingan yang tak terlalu ketat dan ketersediaan yang sangat melimpah.
Namun, bukan berarti tak pernah ada penguin di sekitar Arktik!

Meski ada beberapa masalah yang mungkin dihadapi penguin kalau tinggal di Arktik, bukan berarti tidak pernah ada yang hidup di sana. Dulu, ada kerabat dekat penguin bernama alka besar (Pinguinus impennis) yang hidup di sekitar Arktik yang meliputi wilayah Kanada, Norwegia, Islandia, Greenland, sampai Kepulauan Faroe. Malahan, asal kata penguin yang kita ketahui saat ini justru berasal dari alka besar, lho. Sayangnya, mereka sudah puna sekitar tahun 1844 akibat perburuan besar-besaran oleh manusia.
Selain alka besar, sebenarnya manusia pernah bereksperimen untuk memindahkan spesies penguin di belahan Bumi selatan supaya tinggal di Arktik. Aurora Expeditions melansir kalau seorang penjelajah asal Norwegia bernama Lars Christensen pernah membawa 9 ekor penguin kaisar (Aptenodytes forsteri) pada tahun 1936. Lars meletakkan 9 ekor penguin itu di sebuah pulau bernama Lofoten, wilayah yang relatif aman dari predator darat yang mungkin mengincar mereka. Selain itu, spesies penguin lain seperti penguin makaroni (Eudyptes chrysolophus) turut dicoba diperkenalkan ke wilayah Arktik sekitar satu dekade setelahnya.
Sayangnya, program introduksi itu tidak berjalan mulus. Seluruh spesimen yang dibawa memang bisa bertahan sampai tahun 1949, tetapi setelah itu tak pernah ada lagi penguin yang tinggal di Arktik. Tidak diketahui apakah individu yang dibawa pernah bereproduksi dan tidak diketahui pula apa penyebab menghilangnya mereka dari wilayah Arktik.
Eksperimen itu jadi bukti kalau penguin sedari awal memang tidak mampu bertahan di Arktik. Perbedaan ini jadi kontras yang unik untuk menggambarkan kedua wilayah kutub di Bumi. Kalau di kutub utara (Arktik) kita akrab dengan beruang kutub, maka di kutub selatan (Antarktika) penguin lah yang jadi maskotnya.

















