- Polusi udara dan tanah - Racun seperti pestisida, logam berat, dan hujan asam diserap langsung melalui kulit amfibi, menyebabkan kelainan bentuk, kegagalan reproduksi, dan kematian massal. Tanda-tanda ini terlihat jauh sebelum dampaknya pada satwa liar lainnya.
- Perubahan iklim dan suhu ekstrem - Kenaikan suhu mengganggu siklus perkembangbiakan dan mengeringkan lahan basah, menyebabkan kekeringan dan penurunan laju metamorfosis. Ketergantungan amfibi pada habitat lembap memperkuat efek ini.
- Penyakit akibat jamur patogen - Chytridiomycosis, yang disebabkan oleh Batrachochytrium dendrobatidis, menyebar di perairan yang menghangat dan tercemar, mengikis lapisan kulit dan menyebabkan penurunan populasi yang cepat—kini menjadi pandemik amfibi global.
- Perusakan habitat dan urbanisasi - Deforestasi, jalan raya, dan pembangunan memecah tempat berkembang biak, meningkatkan angka kematian di jalan raya, dan paparan spesies invasif. Penurunan populasi menandakan degradasi ekosistem yang lebih luas.
Mengapa Amfibi Disebut Bioindikator Lingkungan?

- Amfibi adalah kelas hewan yang meliputi katak, kodok, salamander, newt, dan caecilian. Mereka hidup di air selama tahap larva dan di darat saat dewasa.
- Bioindikator adalah indikator awal perubahan biotik atau abiotik di lingkungan. Organisme sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti amfibi dan kerang-kerangan laut sering digunakan sebagai bioindikator.
- Amfibi disebut bioindikator karena kulitnya permeabel sehingga mudah menyerap oksigen dan racun. Mereka sensitif terhadap polusi udara dan air serta berperan penting dalam ekosistem.
Kerusakan lingkungan kerap terjadi secara perlahan dan tidak langsung terasa oleh manusia. Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari zat berbahaya, sementara perubahan kecil pada suhu atau kelembapan kerap luput dari perhatian. Di sinilah peran bioindikator lingkungan menjadi penting, karena keberadaan organisme tertentu dapat memberikan sinyal dini tentang kondisi ekosistem yang sebenarnya.
Amfibi, seperti katak, kodok, dan salamander, termasuk kelompok hewan yang paling sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kulitnya yang tipis dan permeabel, siklus hidup yang bergantung pada air dan darat, serta telur yang tidak memiliki pelindung keras membuat amfibi sangat rentan terhadap pencemaran dan perubahan habitat. Karena kepekaan inilah, perubahan pada kesehatan dan populasi amfibi sering dijadikan indikator awal untuk menilai apakah suatu lingkungan masih berada dalam kondisi sehat atau mulai mengalami degradasi.
1. Apa itu amfibi
Amfibi adalah kelas hewan yang meliputi katak, kodok, salamander, newt, dan caecilian. Istilah amfibi berasal dari kata Yunani amphibious. Amphi berarti "keduanya" dan bios berarti "kehidupan". Istilah ini merujuk pada dua kehidupan yang dijalani banyak amfibi, yaitu di air selama tahap larva dan di darat selama tahap dewasa.
Siklus hidup amfibi dimulai dengan telur. Telur kemudian menetas dan menjadi larva (larva katak dan kodok umumnya disebut berudu). Larva perlahan berkembang menjadi individu dewasa dengan menumbuhkan kaki dan lengan serta mengembangkan paru-paru. Selama tahap telur dan larva, amfibi hidup di dalam air. Saat metamorfosis selesai dan amfibi menjadi dewasa, mereka akan keluar dari air dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di habitat lembap di sekitarnya.
Amfibi adalah hewan vertebrata sama seperti ikan, mamalia, reptil, dan burung. Amfibi adalah hewan berdarah dingin, yang artinya suhu tubuh mereka diatur oleh suhu lingkungan sekitarnya. Amfibi juga dicirikan oleh kulitnya yang halus dan berlendir serta tidak memiliki sisik, bulu, atau rambut. Kulit mereka permeabel dan banyak amfibi bernapas melalui kulit, bukan melalui paru-paru.
2. Apa itu bioindikator
Bioindikator adalah indikator awal perubahan biotik atau abiotik di lingkungan. Bioindikator merupakan tambahan penting untuk penilaian konsentrasi polutan dalam air dan/atau sedimen. Organisme yang berfungsi sebagai bioindikator biasanya memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan lingkungan, baik terhadap kualitas air, udara, tanah, maupun iklim. Ketika terjadi pencemaran atau perubahan habitat, bioindikator akan merespons lebih cepat dibandingkan manusia, misalnya melalui penurunan populasi, perubahan perilaku, atau gangguan reproduksi
Selain amfibi, kerang-kerangan laut (kerang, tiram, kerang pipih) juga termasuk kelompok hewan laut yang paling banyak digunakan sebagai bioindikator. Ini karena kemampuan kerang-kerangan mengakumulasi kontaminan dalam jangka waktu yang relatif lama.
3. Mengapa amfibi disebut bioindikator lingkungan

Amfibi adalah biondikator yang kuat untuk polusi. Alasannya, mereka memiliki kulit yang permeabel sehingga mudah menyerap oksigen dan racun. Akibatnya, mereka sangat sensitif terhadap perubahan kualitas udara dan air.
Mereka seringkali menjadi hewan pertama yang terpengaruh oleh penggunaan pestisida di dalam atau di dekat ekosistem mereka. Banyak populasi amfibi mengalami penurunan drastis di seluruh dunia, sementara yang lain mengalami kelainan bentuk seperti kaki tambahan karena pestisida.
4. Apa yang terrjadi ketika populasi amfibi menurun
Amfibi menjaga populasi serangga tetap terkendali dengan cara memakannya. Amfibi juga mengelola pertumbuhan alga di perairan dan berperan dalam dekomposisi dan siklus nutrisi melalui ekskresi limbah. Mereka juga meningkatkan kualitas tanah dengan menggali liang. Selain itu, amfibi juga merupakan sumber makanan penting bagi berbagai jenis organisme.
Jika amfibi menghilang, ini akan memicu kekacauan ekologis: populasi serangga akan meledak dan meningkatkan penyebaran penyakit, ekosistem perairan akan menderita karena kurangnya pengendalian alga, dan jaring makanan akan runtuh karena predator kehilangan sumber makanan utama. Pada akhirnya, ini akan berdampak pada kesehatan manusia dan potensi ilmiah karena hilangnya pengendalian hama, senyawa medis, dan indikator kesehatan ekosistem.
5. Ancaman lingkungan yang mudah dideteksi oleh amfibi
Amfibi, dengan kulitnya yang permeabel dan gaya hidup ganda akuatik-terestrial, berfungsi sebagai spesies penanda kesehatan lingkungan. Sensitivitas mereka memungkinkan deteksi dini ancaman lingkungan, seperti:
Dengan segala sensitivitas biologisnya, amfibi menjadi cermin kesehatan lingkungan yang jujur. Ketika mereka mulai menghilang, itu menandakan ekosistem sedang berada dalam tekanan serius yang pada akhirnya juga akan berdampak pada kehidupan manusia.
Referensi
Atlanta Botanical Garden. Diakses pada Januari 2026. What is an Amphibian?
Coastal Wiki. Diakses pada Januari 2026. Bioindicator
National Geographic. Diakses pada Januari 2026. These Animals Offer Key Clues for Environmental Change
Wild DNA. Diakses pada Januari 2026. Why are Amphibians 'Bioindicators' - and What does This Mean?



















