Erupsi gunung berapi (snexplores.org)
Selain meningkatkan limpasan, aliran permukaan juga dapat membawa material vulkanik yang telah terdeposisi di permukaan. Material tersebut kemudian dapat terangkut bersama air menuju saluran, sungai, dan wilayah yang lebih rendah.
Ir. Joko menjelaskan bahwa besarnya dampak sangat bergantung pada jumlah material yang tersedia, intensitas hujan, serta seberapa banyak material tersebut dapat terangkut oleh aliran permukaan. Material vulkanik yang terbawa aliran dengan konsentrasi sedimen tinggi dapat membentuk aliran debris. Dalam konteks gunung api, aliran tersebut dikenal sebagai lahar.
Menurutnya, konsentrasi sedimen menjadi salah satu pembeda penting antara banjir biasa dan aliran debris. Ketika konsentrasi material yang terbawa relatif rendah, aliran yang terjadi lebih menyerupai banjir biasa.
Namun, apabila material hasil erupsi yang tercampur dengan air hujan cukup banyak dan konsentrasinya tinggi, aliran dapat berkembang menjadi banjir lahar atau yang sering disebut lahar dingin.
Perbedaan konsentrasi material juga berpengaruh terhadap karakter bahaya yang ditimbulkan. Aliran dengan konsentrasi sedimen tinggi memiliki massa dan momentum yang lebih besar sehingga dapat memberikan dampak yang lebih berat dibandingkan banjir biasa.
Perbedaan tersebut terlihat setelah aliran surut. Banjir biasa pada umumnya meninggalkan sedimen yang lebih halus atau lumpur. Sementara itu, aliran debris atau lahar dapat meninggalkan material yang lebih kasar dan dalam jumlah besar.
Material yang tertinggal juga dapat membuat proses pemulihan menjadi lebih sulit. Pada kondisi tertentu, timbunan material hasil aliran debris dapat mencapai ketinggian yang menyulitkan proses pembersihan dan pemulihan lingkungan maupun permukiman.
“Ketika surut, banjir lahar atau aliran debris akan menyisakan material kasar dan sulit untuk dibersihkan seperti semula. Bahkan di beberapa kasus, jika sudah tertimbun aliran debris hingga mendekati atap akan sulit dibersihkan,” katanya.