Tim peneliti yang mengkaji hal ini berasal dari beberapa institusi di Eropa. Penelitian tersebut melibatkan 48 bayi berusia satu hingga satu setengah tahun. Nah, cara bayi-bayi tersebut dapat berpikir logis (terkhusus silogisme disjungtif) ditunjukkan melalui proses eliminasi.
Seperti dalam situasi hanya A atau B yang benar dimana jika A salah maka B yang benar, begitu pula sebaliknya. Misalnya, ada cangkir berwarna merah dan biru, sehingga jika warnanya bukan merah, maka warnanya pastilah biru.
Tim peneliti tersebut membuat percobaan sederhana dengan menggunakan animasi yang ditujukan untuk para bayi. Nah, mulanya para bayi diminta untuk mengamati dua benda yang berbeda yaitu dinosaurus dan bunga. Kemudian, kedua benda ini ditutupi dengan papan peghalang berwarna gelap.
Selanjutnya, tim peneliti mengambil sebuah cangkir untuk menghilangkan dinosaurus. Lalu penghalangnya diangkat. Apabila dinosaurus dihilangkan, seharusnya hanya tersisa bunga. Akan tetapi ternyata dinosaurus juga ada di sana.