12 Penemuan Paling Mengejutkan di Greenland, Ada Mumi Bayi

Pulau Greenland dikenal sebagai negeri yang penuh misteri. Ditutupi oleh lapisan es tebal lebih dari 1,6 kilometer, rupanya misteri di Greenland ini tidak mudah diungkapkan. Namun, dengan kemajuan teknologi abad ini, para arkeolog, paleontolog, dan geolog secara bertahap menembus es untuk mengungkap misteri Greenland. Beberapa penemuan tersebut sungguh spektakuler dan mengejutkan.
Nah, karena Greenland sangat dingin, jadi tidak heran jika di pulau ini ditemukan beberapa hal menakjubkan seperti katedral dari Abad Pertengahan (yang pertama di Amerika Utara), reptil, dinosaurus, tumbuhan, mumi, dan bahkan piramida alami. Penemuan-penemuan ini memungkinkan para ilmuwan dan sejarawan untuk merekonstruksi sejarah klimatologi, geologi, dan sosial pulau tersebut dari Periode Trias hingga koloni Nordik di Abad Pertengahan.
Berikut ini kita akan membahas beberapa hal yang lebih mengejutkan dan menarik yang telah ditemukan di Greenland dalam abad terakhir ini.
1. Grand Canyon Greenland

Salah satu ngarai terpanjang di dunia adalah Ngarai Yarlung Tsangpo di Tibet, yang mencapai panjang sekitar 496 kilometer. Namun, dikutip NPR, para ilmuwan menemukan ngarai besar yang membentang di Greenland. Ngarai ini lebih dari dua kali lebih panjang dari ngarai di Tibet, dengan panjang sekitar 740 kilometer. Meskipun lebih dangkal daripada Grand Canyon di Arizona atau Grand Canyon di Tibet.
Nah, yang paling menarik, para ilmuwan dari University of Massachusetts Amherst meyakini kalau ngarai yang disebut Grand Canyon Greenland ini terbentuk dengan cepat lewat beberapa peristiwa bencana. Sebab, lapisan es Greenland telah mengalami serangkaian periode pemanasan yang membuatnya mencair. Dr. Benjamin Kiesling berpendapat bahwa setiap kali lapisan es mencair, danau-danau di bawah gletser yang terbuka membengkak dan meluap dengan air dan es. Dengan demikian, danau-danau ini mengering, dan limpasan airnya mengakibatkan banjir besar yang seiring waktu mengukir Grand Canyon Greenland.
Dr. Benjamin Kiesling dan rekan-rekan penelitinya yakin kalau banjir besar ini, terjadi akibat dari mencair dan meluasnya lapisan es. Nah, kemungkinan besar akan memengaruhi permukaan laut dan samudra dunia. Kendati begitu, hal ini belum sepenuhnya dipahami.
2. Kawah Hiawatha di Greenland

Seperti yang dilansir Science, Bumi mengalami penurunan suhu mendadak sekitar 13.000 tahun yang lalu, yang disebut Younger Dryas. Meskipun zaman es terakhir sudah berakhir, pada periode tersebut justru terjadi zaman es di bagian utara Bumi. Para peneliti telah mengidentifikasi penyebab perubahan suhu ini.
Nah, di antara beberapa hipotesis, ada makalah berjudul "Evidence for an Extraterrestrial Impact 12,900 Years Ago that Contributed to the Megafaunal Extinctions and the Younger Dryas Cooling," yang ditulis oleh R. B. Firestone, dkk., di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (2007), yang mengemukakan dampak kepunahan di Amerika Utara. Dampak ini memusnahkan megafauna Amerika Utara dan membuat suhu turun hingga 8 derajat Celcius. Tim peneliti tersebut justru dikritik, tetapi penemuan beberapa tahun yang lalu menunjukkan kemungkinan adanya dampak akibat jatuhnya komet atau meteor. Teori ini berarti benar, meskipun efeknya dilebih-lebihkan.
Menurut penelitian berjudul "A Large Impact Crater Beneath Hiawatha Glacier in Northwest Greenland," yang ditulis Kurt H. Kjær, dkk., dalam jurnal Science Advances (2018), para peneliti menemukan kawah berdiameter 31 kilometer di bawah Gletser Hiawatha di Greenland. Dampak tersebut diperkirakan terjadi pada Zaman Pleistosen, yang berlangsung dari 2.588.000 tahun yang lalu hingga sekitar 11.700 tahun yang lalu. Rentang waktu ini cukup luas.
Sebuah studi berbeda berjudul "Large Pt anomaly in the Greenland ice core points to a cataclysm at the onset of Younger Dryas," yang ditulis Michail I. Petaev, dkk., yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (2013), yang menganalisis sampel inti es lainnya di Greenland dari sebelum penelitian Younger Dryas menunjukkan bahwa Kawah Hiawatha mungkin terkait dengan peristiwa pendinginan tersebut. Kawah tersebut mengandung sejumlah besar platinum, seperti halnya inti es dari tempat lain di Greenland.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa kadar platinum yang anomali itu mungkin berasal dari luar angkasa. Nah, mungkin saja itu merupakan meteorit atau objek lain yang menabrak Gletser Hiawatha, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Jadi, meskipun pertanyaan ini butuh penelitian lebih lanjut, pertanyaan tentang asal-usul Younger Dryas selangkah lebih dekat untuk dipecahkan.
3. Fosil reptil dan amfibi di Greenland

Jika kamu kira kalau Greenland bukanlah tempat yang cocok untuk amfibi dan reptil, kamu salah. Tapi bagaimana bisa, fosil hewan berdarah dingin ini hidup di iklim yang membeku? Nah, seperti yang dicatat oleh Science Nordic, fosil amfibi dan reptil ditemukan di Greenland dan tersembunyi di bawah es.
Rupanya, 210 juta tahun yang lalu, dunia sangat berbeda. Alih-alih tujuh benua, daratan dunia terkumpul menjadi satu superbenua tunggal yang disebut Pangaea. Greenland, sebagai bagian dari superbenua tersebut, terletak jauh lebih selatan di dekat khatulistiwa. Itulah sebabnya, Greenland beriklim lebih hangat. Menurut ilmuwan Denmark Jesper Milan, Greenland pada masa itu adalah surga subtropis yang dipenuhi danau dan sungai hangat yang menjadi tempat berkembang biak bagi kehidupan amfibi dan reptil.
Jauh setelah pecahnya Pangaea, maksimum termal Paleosen-Eosen membuat suhu Bumi melonjak hingga 8 derajat Celsius. Nah, dengan demikian, seperti yang dicatat oleh CU Boulder, iklim yang lebih hangat mengubah Arktik (termasuk sebagian Greenland) menjadi wilayah yang ramah bagi kehidupan reptil dan amfibi. Sebagian wilayah Greenland menyerupai rawa-rawa di Amerika Serikat bagian Tenggara, tempat hidupnya buaya, kura-kura darat, dan penyu air, atau tempat yang sangat berbeda dari yang kita lihat saat ini.
4. Fosil tumbuhan berusia 1 juta tahun di Greenland

Menurut Universitas Buffalo, pada tahun 1960-an, para peneliti AS mengebor sedalam 1,6 kilometer di bawah lapisan es Greenland di dekat bekas pangkalan udara AS Camp Century di ujung utara Greenland. Sampel yang dikirim ke Universitas Kopenhagen ini justru diabaikan hingga tahun 2019. Nah, ketika para peneliti Amerika mengakses kembali sampel tersebut, mereka menemukan bahwa sampel-sampel ini penuh dengan fosil tumbuhan. Namun, agar tumbuhan bisa tumbuh subur di Greenland, dibutuhkan lapisan es yang lebih sedikit atau seharusnya tidak ada sama sekali.
Sebuah studi yang berjudul "A Multimillio Year Old Record of Greenland Vegetation and Glacial History Preserved in Sediment Beneath 1.4 km of Ice at Camp Century," yang ditulis oleh Andrew J. Christ, dkk., dan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (2021), mencatat bahwa fosil-fosil tersebut merupakan ciri khas dari tumbuhan tundra seperti lumut cokelat, bersama dengan beberapa tumbuhan dengan batang berkayu (kemungkinan semak). Seperti yang dicatat oleh para penulis dalam jurnal tersebut, tumbuhan-tumbuhan ini tidak akan bertahan hidup kecuali esnya telah mencair dan mengekspos tanah di bawahnya.
Di sisi lain, lapisan es Greenland mengalami serangkaian periode interglasial (atau periode hangat), yaitu ketika suhu melonjak di atas normal dan lapisan es menyusut atau bahkan menghilang. Dengan tanah yang terbuka, tumbuhan tundra akan tumbuh subur di lingkungan ini, setidaknya sampai lapisan es terbentuk kembali dan menguburnya sampai ditemukan pada tahun 1960-an.
Para penulis studi tersebut mencatat bahwa informasi itu berguna untuk mengantisipasi pemanasan global di masa depan, jika hal itu terjadi. Dalam kasus seperti itu, hal ini memberikan gambaran tentang jenis ekosistem apa yang akan muncul di wilayah kutub jika suhu global kembali menyusutkan lapisan es.
5. Seekor hiu berusia 500 tahun

Hiu merupakan predator bertulang rawan yang jarang ditemukan di iklim kutub, hanya delapan yang tercatat di Arktik. Namun, salah satu spesies hiu Arktik ini, ternyata ada Hiu Greenland (Somniosus microcephalus). Hiu ini memangsa bangkai paus dan narwhal, meskipun Hiu Greenland juga mampu menangkap ikan kecil seperti salmon. Hiu Greenland biasanya dianggap lambat. Nah, saking lambatnya, suku Inuit bahkan mampu menarik hiu ini dari air hanya dengan tangan kosong.
Namun, ternyata masih banyak yang perlu dipelajari tentang Hiu Greenland. Adapun, hiu ini cukup lincah untuk menangkap mangsa dengan gerakan mendadak yang cepat. Hal ini mungkin berkaitan dengan lingkungan hiu tersebut.
Sebab, di laut Arktik yang dingin, metabolisme Hiu Greenland melambat untuk menghemat energi. Namun, kecepatan ini bisa diaktifkan saat dibutuhkan. Sebuah laporan CBC bahkan menjelaskan bahwa hiu ini mampu berenang ke hulu sungai dan membunuh rusa kutub saat rusa ini sedang minum.
Hiu Greenland juga memegang gelar sebagai vertebrata tertua di dunia. Menurut Prof. Tobias Wang dari Universitas Aarhus, ada satu spesimen yang berusia 512 tahun. Nah, ini perkiraan tertingginya. Perkiraan terendahnya, usia hiu ini mencapai 272 tahun. Namun bagi hiu ini, 200 tahun bukan apa-apa. Seperti yang dicatat NOAA, hiu-hiu ini bahkan belum mencapai kematangan seksual hingga berusia sekitar 100 tahun, lho.
6. Spons laut Arktik di Greenland

Spons laut biasanya ditemukan di lingkungan dengan arus laut yang relatif kuat. Pasalnya, karena spons laut menggunakan penyaringan untuk menangkap nutrisi, arus laut yang lebih kuat membawa lebih banyak material organik untuk mereka konsumsi. Dengan demikian, para peneliti Jerman terkejut karena menemukan ekosistem spons laut yang hidup di gunung berapi mati dan tidak ramah di utara Greenland.
Spons ini istimewa. Para ahli biologi dari Institut Max Planck mencatat bahwa sedimen tempat spons tersebut penuh dengan fosil cacing yang telah lama mati, yang berkembang di antara lubang hidrotermal vulkanik ketika gunung berapi tersebut masih aktif. Namun yang lebih mengejutkan adalah pola makan mereka, nih.
Menurut sebuah studi yang berjudul "Giant Sponge Grounds of Central Arctic Seamounts are Associated with Extinct Seep Life," yang ditulis oleh T. M. Morganti, dkk., dan diterbitkan di Nature, menjelaskan bahwa spons laut ini bergantung pada fosil untuk bertahan hidup. Studi tersebut menemukan bahwa spons laut ini membentuk hubungan simbiosis dengan bakteri yang membantu mendegradasi material seperti kitin, zat yang membentuk eksoskeleton serangga dan artropoda lainnya. Hubungan ini memungkinkan spons laut Greenland untuk bertahan hidup dan berkembang di lingkungan yang sekilas tampak tandus dan tidak ramah bagi kehidupan.
7. Fosil dinosaurus yang dinamai Issi Saaneq di Greenland

Science Alert melansir kabar bahwa para paleontolog yang bekerja di Greenland menemukan kerangka dinosaurus pertama di pulau itu pada tahun 1994. Awalnya, kerangka tersebut diklasifikasikan sebagai Plateosaurus, spesies herbivor berleher panjang purba yang hidup pada Periode Trias. Namun pada tahun 2020 sampai 2021, para peneliti dari Portugal menemukan bahwa kemungkinan besar itu adalah spesies tersendiri.
Seperti yang diungkapkan di sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Diversity, Victor Beccari dan rekan-rekannya di Lisbon merekonstruksi dinosaurus tersebut dari sisa-sisa dua tengkoraknya. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun kerabat dekat Plateosaurus, dinosaurus tersebut adalah spesies tersendiri yang berbeda. Para peneliti meyakini hal ini dari serangkaian fitur anatominya yang unik untuk dinosaurus baru ini.
Menurut Universitas Martin Luther, dinosaurus baru tersebut diberi nama Issi Saaneq (tulang dingin) sebagai penghormatan kepada Greenland dan bahasa Inuit yang digunakan di sana. Dinosaurus yang hidup sekitar 214 juta tahun yang lalu ini memiliki kerabat terdekat di Brasil dan Jerman. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa dinosaurus itu merupakan hasil migrasi sauropodomorph dari Amerika Selatan ke utara seiring dengan semakin ramahnya iklim bagi kehidupan. Pada akhirnya, beberapa dinosaurus tersebut sampai ke Eropa.
8. Katedral Gardar di Greenland

Menurut buku The Viking Discovery of America, Greenland berkembang pesat di Abad Pertengahan. Permukiman timur yang makmur ini memiliki 23 gereja. Umat Kristen di Greenland berkembang cukup banyak untuk menerima seorang uskup. Seorang uskup membutuhkan katedral, dan karena itu Katedral Gardar yang didedikasikan untuk Santo Nicholas dibangun sebagai pusat kehidupan Katolik di Greenland pada Abad Pertengahan.
Gereja ini menjadi kediaman seorang uskup sejak tahun 1106, dan merupakan keuskupan tituler bahkan setelah koloni Greenland ditinggalkan. Lokasi tepatnya hilang hingga sekitar tahun 1920. Namun, begitu para arkeolog menggali, mereka menemukan kekayaan yang melebihi ekspektasi.
Reruntuhan tersebut ditemukan pada tahun 1926 dan mengungkapkan sebuah gereja yang telah diperluas beberapa kali hingga mencakup menara lonceng. Di sekitar gereja terdapat sebuah peternakan yang berisi 100 ekor sapi dan kompleks istana yang dimanfaatkan sebagai kediaman para uskup di Greenland. Para uskup ini bertani dan memancing, juga bertahan hidup dengan mengendalikan ekspor gading walrus. Ketika gading walrus sangat diminati, hal itu membuat Keuskupan Greenland menjadi sangat kaya. Sayangnya, seiring menurunnya permintaan dan mendinginnya iklim, permukiman tersebut ditinggalkan bersama dengan katedralnya, yang merupakan katedral pertama dari jenisnya di Amerika Utara.
9. Ditemukannya butiran barley (jelai) di Greenland

Bangsa Nordik terkenal karena kecintaannya pada bir dan pesta pora. Birnya sendiri dibuat dari biji barley atau jelai (yang juga digunakan untuk roti dan oatmeal). Jadi ketika bangsa Nordik menetap di Greenland, mereka menghadapi masalah baru. Yap, iklim Greenland tidak cocok untuk menanam barley.
Namun, National Museum of Copenhagen menemukan bahwa bangsa Nordik di Greenland memiliki barley, karena beberapa butirnya ditemukan di tumpukan sampah. Namun, arkeolog Peter Henriksen mencatat bahwa itu bukanlah barley impor, karena kapal Viking tidak bisa untuk mengangkut sejumlah besar biji-bijian melintasi Atlantik Utara. Peter Henriksen justru berpendapat bahwa barley tersebut ditanam pada saat Greenland di bagian selatan jauh lebih hijau dan subur ketimbang saat ini.
Dengan demikian, bangsa Nordik di Greenland mampu meniru gaya hidup Skandinavia di rumah baru mereka. Namun, diperkirakan bahwa hal itu bisa menelan biaya yang besar. Sebagaimana dikutip Smithsonian Magazine, pemukiman bangsa Nordik di Greenland bertepatan dengan Periode Pemanasan Abad Pertengahan, yang menyebabkan suhu lebih tinggi dan iklim lebih ringan bahkan di bagian utara bumi. Namun, ketika Zaman Es Kecil melanda pada abad ke-13, Greenland menjadi wilayah yang tidak layak huni.
Nah, inilah yang membuat bangsa Nordik tidak lagi dapat menanam tanaman pokok mereka. Apalagi masalah ini diperparah oleh Black Death (Wabah Hitam), yang membunuh setengah dari populasi Norwegia—yang menjadi tumpuan Greenland untuk impor Eropa. Meskipun beberapa pemukim beradaptasi dengan perubahan baru seperti berburu anjing laut, tapi banyak yang lainnya memilih pergi meninggalkan Greenland, dan menyisahkan penduduk seperti suku Inuit.
10. Ditemukannya pulau paling utara di dunia

Greenland memegang gelar sebagai wilayah yang memiliki pulau paling utara di dunia. Dikutip Arctic Today, ada sebuah ekspedisi Swiss-Denmark pada 2021 yang mencoba mendarat di tempat yang saat itu dianggap sebagai pulau paling utara. Namun, mereka terkejut saat menemukan tempat baru tersebut.
Ekspedisi ini mencoba mencapai pulau Oodaaq Qeqertaa, yang telah tercatat sebagai pulau paling utara pada tahun 1978. Mereka menemukannya dan mendarat di sebuah pulau kecil yang digambarkan oleh anggota ekspedisi Martin Breum sebagai wilayah yang terdiri dari gundukan kerikil yang sederhana, es laut, gumpalan salju yang tertiup angin, lumpur kekuningan, dan sejumlah tumpukan kerikil dan batu berbentuk kerucut. Ekspedisi Martin Breum ini pun menancapkan bendera Greenland.
Beberapa bulan kemudian, ekspedisi tersebut meminta koordinat tempat pendaratan mereka untuk memastikan bahwa mereka telah mengunjungi Oodaaq Qeqertaa. Ternyata mereka meleset sejauh 800 meter, dan pulau itu sudah tidak ada lagi. Ekspedisi tersebut malah menemukan pulau baru.
Menurut Martin Breum, pulau-pulau ini sering terbentuk di pantai Greenland ketika es laut mendorong batuan dan sedimen ke permukaan. Jadi, pulau tersebut adalah gunung es yang terdampar dan tertutup sedimen. Dengan demikian, gelar pulau paling utara di dunia kemungkinan akan selalu berubah. Namun, menurut Cambridge University Press & Assessment, pulau paling utara yang diakui saat ini adalah pulau moraine, Inuit Qeqertaat (Pulau Kaffeklubben).
11. Ditemukannya piramida Geikie di Greenland

Semenanjung Geikie di Greenland Timur tidak begitu dikenal, mungkin karena letaknya yang terpencil dan sulit diakses. Namun, tempat ini memiliki salah satu pemandangan paling spektakuler di dunia. Menurut NASA, wilayah pegunungan ini terdiri dari pegunungan basal yang muncul selama pembentukan Samudra Atlantik setelah benua super Pangaea terpecah.
Pegunungan Geikie berbentuk seperti piramida yang terdiri dari lapisan basal yang terpotong dengan halus. Penampilan pegunungan tersebut merupakan hasil dari pergerakan gletser yang mengikis dan memahat basal selama jutaan tahun. Nah, dari kejauhan, lapisan dan bentuk piramida pegunungan tersebut tampak hampir sempurna. Di samping piramida terdapat deretan tebing seperti jari kaki. Dengan demikian, ada beberapa yang percaya bahwa basal Geikie buatan manusia. Namun sebenarnya, Geikie adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling menakjubkan.
12. Ditemukannya mumi Qilakitsoq di Greenland

Seperti yang diungkapkan Atlas Obscura, pada tahun 1972, dua orang laki-laki yang ingin berburu belibis menemukan delapan mumi yang terkubur di bawah tumpukan batu di sebuah desa Inuit yang ditinggalkan di Qilakitsoq, Greenland. Dinginnya Greenland rupanya mengawetkan mumi ini hingga rambut-rambutnya. Pemeriksaan ilmiah menyimpulkan bahwa mumi tersebut merupakan enam perempuan dan dua anak laki-laki, termasuk tiga saudara perempuan dan seorang perempuan berusia 60 tahun, yang semuanya meninggal pada pertengahan abad ke-15.
Sebuah studi di Anatomical Record mencatat bahwa hampir semua mumi tersebut menunjukkan masalah kesehatan. Nah, yang tertua menderita kanker. Sementara itu, hampir semua dari mereka memiliki kutu di dalam dan di luar tubuhnya. Selain itu, paru-paru mereka hitam karena menghirup asap dari lampu minyak di ruangan tertutup. Satu anak menderita Trisomi-23 (Down Syndrome).
Jadi, bagaimana mereka meninggal? Kemungkinan besar, mumi perempuan ini meninggal karena menderita masalah kesehatan. Nah, karena mereka masih berkerabat, mereka semua pun dikuburkan bersama. Namun, ada salah satu anak, yang menurut beberapa pengamat dikubur hidup-hidup. Menurut Dr. Bo Albrechtson dari Museum Nasional Greenland, hal ini bisa saja terjadi.
Pasalnya, cerita rakyat suku Inuit menyebutkan bahwa terkadang, anak yatim piatu dikubur hidup-hidup bersama ibu mereka, mungkin untuk menyelamatkan anak tersebut dari penderitaan akibat kelaparan dan kurangnya kasih sayang. Namun, cerita itu hanyalah sebuah mitos, yang mana bisa salah.
Greenland menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan. Itulah kenapa wilayah ini sangat kaya akan historis dan sumber daya alamnya. Meskipun dingin, keunikannya tidak mudah dilupakan.
















