Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Perbedaan Hotspot dan Titik Api dalam Pemantauan Karhutla
ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)
  • Hotspot adalah anomali panas yang terdeteksi sensor satelit, bukan lokasi api yang presisi; satu piksel MODIS sekitar 1 kilometer dapat memuat satu atau lebih sumber panas.
  • Titik api atau active fire menunjukkan aktivitas kebakaran yang terdeteksi satelit saat suhu area jauh lebih tinggi dari sekitarnya, tetapi hasilnya bergantung pada kondisi pengamatan.
  • Satu kebakaran dapat memunculkan banyak hotspot pada piksel berdekatan, sehingga jumlah titik di peta tidak otomatis mencerminkan jumlah kejadian kebakaran di lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya aktivitas titik panas yang terdeteksi satelit. Dalam pemantauan karhutla, istilah hotspot dan titik api kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi kebakaran. Namun, keduanya sebenarnya tidak memiliki arti yang sama.

Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang dideteksi oleh sensor satelit pada lokasi dan waktu tertentu. Sementara itu, titik api merujuk pada lokasi kebakaran yang telah teridentifikasi atau terkonfirmasi melalui pemantauan lebih lanjut. Lalu, apa saja perbedaan hotspot dan titik api yang perlu diketahui? Yuk, simak di bawah ini!

1. Hotspot bukan berarti titik api

ilustrasi hotspot di beberapa wilayah Kalimantan. (firemap.live)

Hotspot yang terlihat pada peta karhutla bukan berarti menunjukkan lokasi api secara persis di permukaan. Menurut NASA, deteksi hotspot merupakan indikasi adanya anomali panas (thermal anomaly) yang ditangkap oleh sensor satelit. NASA menjelaskan, satu deteksi MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) merepresentasikan pusat piksel berukuran sekitar 1 kilometer yang mengandung satu atau lebih sumber panas.

Oleh karena itu, satu hotspot dapat menunjukkan adanya aktivitas panas di suatu area, tetapi tidak serta-merta berarti hanya ada satu titik api di lokasi tersebut. Posisi hotspot juga tidak dapat digunakan untuk menentukan secara tepat ukuran maupun lokasi kebakaran di permukaan. Dengan demikian, hotspot lebih tepat dipahami sebagai indikator awal untuk mendeteksi kemungkinan adanya kebakaran atau sumber panas, bukan sebagai titik api yang pasti.

2. Titik api menunjukkan kebakaran yang terdeteksi

ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (pexels.com/K)

Titik api merupakan hasil deteksi sensor satelit terhadap aktivitas kebakaran di permukaan Bumi. NASA menerangkan, sistem deteksi kebakaran memanfaatkan anomali panas untuk mengidentifikasi area yang memiliki indikasi aktivitas api. Deteksi tersebut kemudian ditampilkan sebagai active fire atau titik api pada peta pemantauan kebakaran.

Mengutip dari Copernicus, program pemantauan Bumi milik Uni Eropa, active fire ditentukan ketika suhu suatu area terdeteksi jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya. Artinya, kemunculan titik api menunjukkan adanya aktivitas kebakaran yang berhasil terdeteksi oleh satelit pada waktu pengamatan tertentu. Namun, deteksi tersebut tetap bergantung pada kondisi pengamatan satelit sehingga tidak semua kebakaran di permukaan otomatis dapat terdeteksi.

3. Satu kebakaran bisa memunculkan banyak hotspot

ilustrasi peta hotspot di beberapa wilayah Indonesia, Singapura, dan Malaysia. (dok. ASEAN Specialized Meteorological Centre)

Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot yang terdeteksi oleh satelit. Dilansir NASA, sebuah kebakaran dapat dipahami sebagai kumpulan hotspot yang berada pada area yang saling berdekatan. Hal ini terjadi karena sensor satelit mendeteksi aktivitas panas berdasarkan piksel-piksel pada citra permukaan Bumi.

Ketika kebakaran meluas hingga mencakup beberapa piksel, masing-masing piksel yang memenuhi kriteria deteksi dapat tercatat sebagai hotspot. NASA juga menjelaskan bahwa satu piksel MODIS dapat berukuran sekitar 1 kilometer dan dapat mengandung satu atau lebih sumber api. Jadi, banyaknya hotspot pada peta tidak selalu berarti terdapat banyak kejadian kebakaran yang berbeda.

Memahami perbedaan hotspot dan titik api ini penting agar informasi tentang kebakaran dari pemantauan satelit tidak disalahartikan. Jumlah titik yang terlihat pada peta tidak selalu menggambarkan jumlah kejadian kebakaran yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jadi, hotspot merupakan hasil deteksi aktivitas panas oleh satelit, sedangkan banyaknya hotspot tidak selalu berarti banyaknya kebakaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article