Krakatau menjadi salah satu gunung api paling dikenal dalam sejarah karena letusan dahsyatnya pada 1883 mengubah kawasan Selat Sunda secara drastis. Erupsi pada 1883 bukan hanya menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau, tetapi juga memicu tsunami besar dan meninggalkan kaldera yang kemudian menjadi tempat lahirnya gunung api baru beberapa dekade setelahnya.
Aktivitas vulkanik kembali muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, material erupsi terus menumpuk, lalu membentuk gunung baru yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau. Sejak itu, gunung ini terus tumbuh sekaligus mengalami perubahan bentuk akibat rangkaian erupsi yang terjadi dari waktu ke waktu.
Perjalanan hampir satu setengah abad tersebut memperlihatkan siklus penghancuran dan pembangunan kembali tubuh gunung api di kawasan Krakatau. Dari erupsi 1883, kemunculan Anak Krakatau pada 1927 hingga 1929, sampai keruntuhan sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami pada 2018, kawasan ini terus menunjukkan bahwa bentang alam vulkanik dapat berubah secara signifikan dalam rentang waktu manusia.
