Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah Krakatau, dari Letusan Dahsyat 1883 hingga Lahirnya
Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Tyke)
  • Letusan Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, memicu tsunami besar, dan membentuk kaldera di Selat Sunda.
  • Aktivitas dari dasar kaldera pada akhir 1920-an menumpuk material hingga Anak Krakatau muncul di atas laut pada Januari 1929.
  • Anak Krakatau terus berubah melalui erupsi, termasuk keruntuhan sebagian tubuhnya pada 2018 dan erupsi lava fountain pada 4 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1883

Rangkaian letusan besar Krakatau berlangsung dan menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Kaldera terbentuk di bawah laut.

27 Agustus

Ledakan terbesar Krakatau terjadi sekitar pukul 10 pagi waktu setempat.

1927

Aktivitas Anak Krakatau mulai terlihat ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut.

29 Desember 1927

Gejala erupsi kembali muncul dari dasar kaldera.

Januari 1929

Tumpukan material erupsi muncul di atas permukaan laut dan mengeluarkan asap, menandai terbentuknya Anak Krakatau.

2016

Badan Geologi mencatat aktivitas Anak Krakatau kembali muncul.

Februari 2017

Terjadi letusan Strombolian di Anak Krakatau.

2018

Keruntuhan sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami.

September 2018

Ketinggian Anak Krakatau tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut.

4 September 2026 kemarin

Badan Geologi mencatat erupsi berjenis lava fountain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Letusan Krakatau 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, memicu tsunami, dan membentuk kaldera. Anak Krakatau kemudian tumbuh dari kaldera tersebut.
  • Who?
    Krakatau, Anak Krakatau, dan Badan Geologi terlibat dalam catatan aktivitas vulkanik kawasan Selat Sunda.
  • Where?
    Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra.
  • When?
    Letusan besar berlangsung pada 1883, sedangkan erupsi lava fountain tercatat pada 4 September 2026 kemarin.
  • Why?
    Aktivitas vulkanik Krakatau berkaitan dengan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
  • How?
    Material letusan bawah laut menumpuk hingga membentuk Anak Krakatau, sementara erupsi berikutnya menambah atau dapat menghilangkan sebagian tubuh gunung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunung Krakatau meletus besar pada 1883 di Selat Sunda. Gunung itu hancur sebagian dan membuat tsunami besar. Lalu dari dasar laut tumbuh Anak Krakatau. Anak Krakatau muncul di atas laut pada Januari 1929. Sekarang gunung ini masih berubah karena erupsi, termasuk erupsi lava fountain pada 4 September 2026 kemarin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Catatan perubahan Krakatau dan Anak Krakatau menunjukkan proses geologis yang dapat ditelusuri dari kehancuran, pembentukan kaldera, hingga pertumbuhan gunung baru. Rangkaian aktivitas pada berbagai periode juga memperlihatkan adanya dokumentasi mengenai bentuk, ketinggian, dan jenis erupsi Anak Krakatau yang terus berubah dari waktu ke waktu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Krakatau menjadi salah satu gunung api paling dikenal dalam sejarah karena letusan dahsyatnya pada 1883 mengubah kawasan Selat Sunda secara drastis. Erupsi pada 1883 bukan hanya menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau, tetapi juga memicu tsunami besar dan meninggalkan kaldera yang kemudian menjadi tempat lahirnya gunung api baru beberapa dekade setelahnya.

Aktivitas vulkanik kembali muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, material erupsi terus menumpuk, lalu membentuk gunung baru yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau. Sejak itu, gunung ini terus tumbuh sekaligus mengalami perubahan bentuk akibat rangkaian erupsi yang terjadi dari waktu ke waktu.

Perjalanan hampir satu setengah abad tersebut memperlihatkan siklus penghancuran dan pembangunan kembali tubuh gunung api di kawasan Krakatau. Dari erupsi 1883, kemunculan Anak Krakatau pada 1927 hingga 1929, sampai keruntuhan sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami pada 2018, kawasan ini terus menunjukkan bahwa bentang alam vulkanik dapat berubah secara signifikan dalam rentang waktu manusia.

Krakatau terbentuk di kawasan vulkanik Selat Sunda

gambar erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1883 (commons.m.wikimedia.org/Anonymous)

Krakatau merupakan bagian dari kompleks gunung api di Selat Sunda yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Kawasan ini terdiri dari sejumlah pulau vulkanik, termasuk Rakata, Panjang, dan Sertung, sementara aktivitas vulkanik Krakatau berkaitan dengan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Sebelum erupsi besar 1883, Krakatau sudah tercatat sebagai gunung api aktif dan pernah mengalami aktivitas sebelumnya. Namun, rangkaian erupsi yang berlangsung pada Agustus 1883 kemudian menjadi peristiwa yang paling menentukan karena skalanya jauh melampaui aktivitas yang terjadi sebelumnya.

Aktivitas tersebut pada akhirnya tidak hanya mengubah bentuk gunung, tetapi juga lanskap kawasan Selat Sunda. Sebagian besar tubuh Krakatau hancur dan sebuah kaldera terbentuk di bawah laut, menciptakan kondisi geologis yang beberapa dekade kemudian menjadi tempat pertumbuhan Anak Krakatau.

Letusan 1883 menjadi titik paling penting dalam sejarah Krakatau

Rangkaian letusan besar Krakatau berlangsung pada tahun 1883. Ledakan terbesar terjadi pada 27 Agustus sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, sementara suara letusannya dilaporkan dapat terdengar hingga wilayah yang berjarak ribuan kilometer, termasuk Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia.

Erupsi tersebut melontarkan abu vulkanik hingga atmosfer dan memicu tsunami yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra. Materi yang menjadi sumber artikel mencatat korban jiwa sekitar 36 ribu orang, dengan tsunami menjadi salah satu penyebab utama besarnya dampak bencana.

Dampaknya bahkan tidak berhenti di kawasan Selat Sunda. Abu vulkanik menyebar secara luas di atmosfer, memengaruhi kondisi cahaya dan temperatur global selama periode setelah letusan, sementara langit berwarna merah saat matahari terbit dan terbenam dilaporkan muncul di berbagai belahan dunia.

Dari kaldera Krakatau, gunung baru mulai tumbuh

Setelah kehancuran 1883, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau tetap berlanjut. Aktivitas Anak Krakatau mulai terlihat pada 1927 ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut, sementara sumber lain mencatat gejala erupsi kembali muncul dari dasar kaldera pada 29 Desember 1927.

Letusan bawah laut kemudian terus menghasilkan material vulkanik yang menumpuk. Pada Januari 1929, tumpukan material tersebut sudah muncul di atas permukaan laut dan mengeluarkan asap, menandai terbentuknya tubuh gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Nama Anak Krakatau menggambarkan hubungan geologisnya dengan kompleks Krakatau lama. Gunung baru tersebut tumbuh di kawasan kaldera hasil letusan 1883 dan secara bertahap membangun tubuhnya melalui akumulasi lava, abu, serta material vulkanik lainnya dari rangkaian erupsi berikutnya.

Anak Krakatau terus membangun tubuhnya lewat erupsi

Potret Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/ Uprising)

Berbeda dari gunung yang bentuknya relatif stabil dalam jangka pendek, Anak Krakatau masih berada dalam fase pertumbuhan aktif. Sejak muncul dari laut, rangkaian erupsi terus menambahkan material baru ke tubuh gunung, membuat ketinggian dan bentuknya berubah dari waktu ke waktu.

Karakter erupsinya cenderung berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, selain erupsi efusif yang menghasilkan aliran lava. Aktivitas semacam ini membuat proses pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung secara bertahap selama puluhan tahun.

Pada September 2018, ketinggian Anak Krakatau tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Angka tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah pertumbuhannya sebelum perubahan besar kembali terjadi beberapa bulan kemudian.

Proses pertumbuhan belum selesai

Keruntuhan sebagian tubuh Anak Krakatau pada 2018 bukan akhir dari aktivitasnya. Gunung ini kembali mengalami erupsi dalam tahun-tahun berikutnya, melanjutkan proses perubahan tubuh yang sudah berlangsung sejak kemunculannya hampir seabad lalu.

Badan Geologi mencatat aktivitas kembali muncul dalam berbagai periode sebelum dan sesudah 2018, termasuk aktivitas pada 2016, letusan Strombolian pada Februari 2017, hingga erupsi berjenis lava fountain pada 4 September 2026 kemarin. Pola tersebut memperlihatkan karakter Anak Krakatau sebagai gunung api yang masih terus berkembang. Setiap periode erupsi dapat sekaligus menambah material baru, mengubah bentuk permukaan, atau dalam kondisi tertentu justru menghilangkan sebagian tubuh gunung yang sebelumnya sudah terbentuk.

Curated For You

Editorial Team

Related Article