Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Siapa yang Rentan?

Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Siapa yang Rentan?
ilustrasi iritasi kulit akibat paparan abu vulkanik (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Iritasi kulit akibat abu vulkanik tidak selalu terjadi. Keluhan yang mungkin muncul meliputi gatal, perih, kemerahan, dan kulit terasa kering.

  • Orang dengan dermatitis atopik atau lapisan pelindung kulit yang sedang rusak dapat lebih mudah mengalami perburukan keluhan.

  • Jangan menggosok abu dalam keadaan kering. Bilas kulit dengan air bersih, cuci secara lembut, lalu gunakan pelembap tanpa pewangi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lapisan abu tipis menempel pada tangan dan wajah setelah seseorang keluar rumah. Karena terlihat seperti debu biasa, abu mungkin langsung diseka dengan tangan atau handuk kering. Padahal, gesekan tersebut dapat membuat kulit makin tidak nyaman.

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Butirannya keras, abrasif, serta bisa memiliki sifat sedikit korosif.

Meski demikian, tidak semua orang yang terkena abu akan mengalami masalah kulit. Iritasi kulit akibat abu vulkanik sebagai efek yang tidak umum, tetapi tetap dapat terjadi, terutama jika abu bersifat asam.

  1. Bagaimana abu vulkanik mengiritasi kulit?

    Iritasi bisa terjadi melalui dua cara.

    Pertama, butiran abu yang keras bergesekan dengan kulit, apalagi jika abu digosok, menumpuk di balik pakaian, atau menempel dalam waktu lama.

    Kedua, sebagian abu yang baru jatuh dapat membawa lapisan zat asam. Sifat dan jumlah lapisan tersebut berbeda pada setiap letusan. Karena itu, tingkat iritasi tidak dapat ditentukan hanya dari warna atau ketebalan abu.

    Keluhan yang mungkin muncul meliputi:

    • Kulit gatal atau terasa perih.
    • Kemerahan atau perubahan warna kulit.
    • Kulit kering dan terasa tertarik.
    • Ruam atau perburukan penyakit kulit yang telah ada.

    Menggaruk kulit yang gatal dapat memperparah kerusakan lapisan kulit serta ada risiko infeksi sekunder akibat garukan.

  2. Orang dengan eksim mungkin lebih rentan

    Ilustrasi anak dengan eksim atau dermatitis atopik, terlihat ruam kemerahan dan kulit kering pada tubuhnya.
    ilustrasi eksim atau dermatitis atopik (commons.wikimedia.org/NIAID)

    Orang dengan dermatitis atopik atau eksim memiliki lapisan pelindung kulit yang lebih mudah kehilangan kelembapan dan ditembus bahan iritan. Paparan abu dapat menjadi salah satu pemicu memburuknya gatal dan peradangan.

    Sebuah penelitian retrospektif menilai 67 pasien dermatitis atopik setelah erupsi Gunung Etna pada Agustus 2024. Sebanyak 18 pasien atau 26,9 persen melaporkan perburukan gejala kulit. Skor Eczema Area and Severity Index—ukuran luas serta tingkat keparahan eksim—juga meningkat setelah erupsi.

    Meski demikian, temuan tersebut belum membuktikan bahwa abu vulkanik satu-satunya penyebab.

    Selain orang dengan eksim, orang yang kulitnya sangat kering, ada luka terbuka, atau kulitnya sudah teiritas perlu mengurangi kontak dengan abu. Petugas dan warga yang membersihkan endapan abu juga dapat terpapar lebih lama.

  3. Apakah abu vulkanik bisa membakar kulit?

    Abu yang jatuh jauh dari gunung biasanya sudah dingin. Karena itu, rasa gatal atau perih setelah terkena hujan abu tidak otomatis menandakan luka bakar.

    Risiko luka bakar panas lebih berkaitan dengan material yang masih panas di dekat gunung, seperti aliran piroklastik dan lontaran material erupsi. Sementara itu, hujan yang menjadi asam akibat sulfur dioksida dan gas vulkanik lain dapat mengiritasi kulit serta menimbulkan rasa menyengat.

    Abu dingin di permukiman, material panas, dan paparan gas asam merupakan bahaya yang berbeda. Masyarakat tetap harus menjauhi zona terlarang serta mengikuti arahan lembaga penanggulangan bencana.

  4. Cara melindungi dan membersihkan kulit

    Seorang perempuan mengoleskan pelembap pada wajah sebagai ilustrasi perawatan kulit sehari-hari.
    ilustrasi penggunaan pelembap untuk kulit (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Sebisa mungkin hindari area yang mengalami hujan abu bila memungkinkan. Kalau harus keluar atau membersihkan rumah, tutupi kulit menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, sarung tangan, dan sepatu tertutup.

    Jika abu sudah menempel pada kulit, lakukan langkah-langkah ini:

    • Jangan menggosok abu dalam keadaan kering. Hindari menyekanya dengan handuk, sikat, loofah, atau scrub karena butirannya bersifat abrasif.
    • Bilas dengan air bersih. Alirkan air untuk mengangkat partikel sebelum mencuci kulit. Pedoman penanganan dermatitis kontak juga menganjurkan pembilasan secepat mungkin setelah kulit terkena bahan iritan.
    • Cuci secara lembut. Gunakan pembersih ringan tanpa pewangi. Hindari air yang terlalu panas serta sabun atau antiseptik keras pada kulit yang sedang teriritasi.
    • Keringkan dengan menepuk perlahan. Jangan menggosok kulit pakai handuk.
    • Gunakan pelembap tanpa pewangi. American Academy of Dermatology menganjurkan pelembap atau krim perbaikan pelindung kulit saat kulit masih sedikit lembap setelah dicuci.

    Pakaian yang tertutup abu sebaiknya dilepas sebelum memasuki ruang utama rumah dan dicuci sebelum digunakan kembali.

    Abu mentah dari letusan juga tidak boleh digunakan sebagai masker wajah atau bahan eksfoliasi. Bahan tersebut tidak sama dengan kandungan mineral yang telah diproses dan diformulasikan dalam produk perawatan kulit.

    Iritasi ringan biasanya membaik setelah kontak dihentikan dan kulit dibersihkan. Pemeriksaan medis diperlukan jika ruam tidak membaik, terus meluas, terasa sangat nyeri, atau mengganggu tidur dan aktivitas.

    Segera cari pertolongan jika muncul lepuhan luas, pembengkakan pada wajah, luka yang mengeluarkan cairan atau nanah, demam, maupun kemerahan yang menyebar. Keluhan setelah terkena abu panas atau cairan yang diduga sangat asam juga memerlukan penanganan segera.

    Referensi

    U.S. Geological Survey, “Volcanic Ash,” diakses September 2026.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Ash,” diakses September 2026.

    Federica Trovato et al., “Retrospective Study on Acute Effects of Mount Etna Volcanic Eruption in Patients with Atopic Dermatitis,” Allergies 5, no. 3 (2025): article 27, https://doi.org/10.3390/allergies5030027.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Gases,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: After a Volcanic Eruption,” diakses September 2026.

    National Health Service, “Contact Dermatitis,” diakses September 2026.

    American Academy of Dermatology Association, “Eczema Types: Contact Dermatitis Tips for Managing,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More