Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Teknologi Geospasial Beberapa Negara untuk Atasi Karhutla
ilustrasi teknologi geospasial milik sebuah negara (commons.wikimedia.org/Forest Service Photography)
  • Teknologi geospasial seperti citra satelit, GIS, penginderaan jauh, AI, dan pemodelan spasial membantu mendeteksi indikasi api, memantau kondisi, serta menentukan prioritas respons karhutla.
  • Yunani, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Portugal, dan Korea Selatan memanfaatkan satelit atau integrasi data untuk hotspot, pemantauan api, risiko kebakaran, cuaca, dan perubahan vegetasi.
  • Kanada menyiapkan WildFireSat untuk pemantauan harian mulai target 2029; artikel menegaskan data satelit tetap memerlukan informasi pendukung dan verifikasi lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api yang melalap pepohonan. Bencana ini dapat menghancurkan habitat satwa liar, merusak kualitas udara, mengganggu kesehatan manusia, hingga melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Ketika kebakaran terjadi di wilayah terpencil, tantangan terbesarnya adalah menemukan titik api sedini mungkin sebelum api meluas dan sulit dikendalikan.

Perkembangan teknologi geospasial menawarkan cara baru untuk menghadapi persoalan tersebut. Melalui kombinasi citra satelit, sistem informasi geografis (GIS), penginderaan jauh, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan pemodelan spasial, petugas dapat memperoleh gambaran mengenai lokasi kebakaran, kondisi vegetasi, tingkat kekeringan, serta kemungkinan penyebaran api. Teknologi ini tidak menggantikan petugas pemadam kebakaran, tetapi membantu mereka menentukan lokasi yang perlu diperiksa dan sumber daya yang harus diprioritaskan.

Sejumlah negara telah memanfaatkan teknologi tersebut dengan pendekatan berbeda. Ada yang mengembangkan satelit khusus pendeteksi kebakaran, menggabungkan data dari beberapa satelit, hingga membangun sistem pemantauan yang mengintegrasikan informasi kebakaran dengan cuaca dan kondisi wilayah. Berikut tujuh teknologi geospasial beberapa negara untuk atasi karhutla yang menarik untuk dipelajari.

1. Yunani mengembangkan konstelasi satelit khusus untuk mendeteksi kebakaran

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Yunani (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

Yunani menjadi salah satu negara yang menarik perhatian melalui Hellenic Fire System, sebuah sistem pemantauan kebakaran hutan berbasis empat satelit kecil atau CubeSat. Menurut European Space Agency (ESA), keempat satelit tersebut diluncurkan pada Mei 2026 sebagai bagian dari program satelit nasional Yunani. Misi ini dirancang untuk memperkuat kemampuan negara tersebut dalam mendeteksi, memantau, dan mengamati karakteristik kebakaran hutan.

Teknologi yang digunakan berupa sensor inframerah gelombang menengah dan gelombang panjang. Sensor tersebut menangkap radiasi termal dari permukaan Bumi sehingga dapat membantu mengidentifikasi anomali panas yang mengindikasikan kebakaran aktif. Informasi itu juga dapat digunakan untuk memperkirakan intensitas radiasi panas api, salah satu parameter yang membantu ilmuwan memahami aktivitas kebakaran. ESA melaporkan bahwa sistem ini berhasil menghasilkan citra pertamanya pada 2026, tetapi keberhasilan tersebut tidak otomatis berarti seluruh layanan operasionalnya sudah berjalan penuh.

Keunggulan pendekatan Yunani terletak pada pengembangan satelit yang secara khusus ditujukan untuk pemantauan kebakaran. Namun, deteksi anomali panas tetap perlu dikonfirmasi menggunakan informasi tambahan dan pengamatan di lapangan. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana penginderaan jauh dapat membantu petugas mengenali indikasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau.

2. Jepang memanfaatkan satelit Himawari untuk memantau kebakaran

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Jepang (commons.wikimedia.org/Japan Meteorological Agency)

Jepang mempunyai pengalaman panjang dalam pemanfaatan penginderaan jauh untuk mengamati kebakaran hutan. Salah satu contohnya adalah AFFIRE (Automatic Forest Fire Information Reporting System), sistem yang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian Kehutanan dan Hasil Hutan Jepang. Sistem ini menggunakan data satelit untuk memperkirakan suhu permukaan, mengidentifikasi indikasi kebakaran hutan, serta mengirimkan informasi lokasi kejadian kepada lembaga penanggulangan bencana melalui surat elektronik.

Selain AFFIRE, satelit cuaca Himawari-8 juga menjadi objek penelitian untuk memantau kebakaran hutan mendekati waktu nyata. Satelit geostasioner ini menyediakan pengamatan pada interval sekitar 10 menit. Frekuensi pengamatan tersebut membantu peneliti mengkaji perkembangan kebakaran dan memperkirakan waktu antara kemunculan api dan berakhirnya kebakaran. Penelitian yang dipublikasikan melalui J-STAGE pada 2022, misalnya, mengevaluasi kemampuan Himawari-8 dalam mengamati kebakaran lahan gambut Indonesia pada 2015.

Meski demikian, kemampuan mendeteksi kebakaran bergantung pada ukuran api, karakteristik permukaan, tutupan awan, dan resolusi sensor. Data Himawari juga tidak berarti semua kebakaran kecil akan langsung terdeteksi. Penggabungan data dari beberapa satelit menjadi penting agar informasi yang diperoleh lebih lengkap dan keterbatasan masing-masing sensor dapat dikurangi.

3. Australia menggunakan Digital Earth Australia Hotspots

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Australia (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

Australia menghadapi risiko kebakaran hutan yang dapat mengancam kawasan permukiman, infrastruktur, dan ekosistem. Untuk membantu pemantauannya, Geoscience Australia mengembangkan Digital Earth Australia Hotspots, sistem nasional yang memanfaatkan data satelit untuk mendeteksi wilayah dengan pancaran radiasi inframerah tinggi. Area tersebut ditampilkan sebagai titik panas (hotspot) pada peta digital.

Informasi yang disajikan mencakup lokasi indikasi panas dan waktu pengamatan satelit terakhir. Dengan melihat distribusi titik panas, pengguna dapat mengenali wilayah yang perlu diperiksa lebih lanjut. Informasi spasial tersebut juga dapat dipadukan dengan peta permukiman, jalan, kawasan hutan, dan data cuaca untuk membantu menentukan prioritas pemeriksaan maupun penanganan.

Namun, satu titik panas tidak selalu berarti ada kebakaran hutan. Sumber panas lain juga dapat menghasilkan anomali yang serupa. Karena itu, data satelit harus ditafsirkan bersama informasi pendukung dan laporan lapangan. Sistem seperti ini menunjukkan pentingnya menyediakan informasi pemantauan yang dapat diakses oleh berbagai pihak, bukan hanya oleh lembaga teknis.

4. Kanada menyiapkan WildFireSat untuk memantau kebakaran setiap hari

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Kanada (commons.wikimedia.org/European Union Copernicus Sentinel-2)

Kanada memiliki kawasan hutan boreal yang sangat luas dan menghadapi kebakaran yang dapat berlangsung bersamaan di berbagai wilayah. Untuk meningkatkan kemampuan pemantauan, negara ini mengembangkan WildFireSat, misi satelit milik pemerintah yang dirancang khusus untuk mengamati aktivitas kebakaran hutan. Menurut Canadian Space Agency, peluncurannya ditargetkan pada 2029 dengan masa misi lima tahun dan kemungkinan perpanjangan.

WildFireSat dirancang untuk memantau kebakaran aktif di seluruh Kanada setiap hari. Data yang dihasilkan diharapkan membantu petugas memahami perilaku api, menilai kebakaran yang perlu diprioritaskan, serta memperoleh informasi berkaitan dengan asap dan kualitas udara. Informasi tersebut penting ketika jumlah kebakaran yang berlangsung bersamaan melebihi kemampuan sumber daya pemadaman yang tersedia.

Perlu dicatat bahwa WildFireSat masih dalam pengembangan, sehingga manfaat operasionalnya tidak boleh diperlakukan sebagai hasil yang sudah terbukti. Meski demikian, rancangan misinya memperlihatkan bahwa pemantauan satelit dapat diarahkan bukan hanya untuk mencari titik api, tetapi juga untuk mendukung keputusan tentang alokasi sumber daya. Dengan informasi yang lebih terarah, petugas diharapkan dapat menentukan kebakaran yang membutuhkan respons lebih cepat.

5. Amerika Serikat menyediakan NASA FIRMS untuk memetakan titik panas

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial USA (commons.wikimedia.org/Fire Information for Resource Management System)

Amerika Serikat memiliki Fire Information for Resource Management System (FIRMS), layanan NASA yang menyajikan informasi kebakaran aktif dan anomali termal dari pengamatan satelit. Sistem ini menggunakan data instrumen seperti MODIS dan VIIRS untuk menampilkan indikasi panas pada peta digital. Pengguna dapat melihat lokasi deteksi serta informasi pendukung yang membantu menafsirkan hasil pengamatan.

Salah satu keunggulan FIRMS adalah ketersediaan data kebakaran dalam rentang waktu yang relatif dekat dengan waktu pengamatan. Data VIIRS memiliki ukuran piksel sekitar 375 meter, sedangkan data MODIS sekitar satu kilometer. Perbedaan resolusi ini memengaruhi detail wilayah yang terwakili oleh setiap deteksi. FIRMS juga menyediakan informasi waktu pengamatan dan atribut deteksi yang dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.

NASA mengingatkan bahwa anomali termal tidak selalu menunjukkan kebakaran, karena sumber panas lain dapat terdeteksi oleh satelit. Tutupan awan juga dapat menghalangi pengamatan. Dengan demikian, FIRMS lebih tepat dipakai sebagai alat pemantauan dan penyaringan awal, bukan sebagai pengganti verifikasi lapangan. Layanan ini menunjukkan bagaimana data satelit global dapat mendukung pemantauan kebakaran lintas wilayah.

6. Portugal memetakan risiko kebakaran dengan citra satelit

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Portugal (commons.wikimedia.org/European Union Copernicus Sentinel-2)

Portugal menghadapi ancaman kebakaran hutan yang dapat meluas dengan cepat ketika vegetasi mengering, suhu meningkat, dan angin mendukung penyebaran api. Untuk memperkuat upaya pencegahan, negara ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan pemetaan risiko berbasis data spasial. Salah satu contoh yang dikembangkan pada 2026 adalah proyek pemantauan hutan berbasis satelit di wilayah Coimbra, hasil kerja sama EOS Data Analytics, komunitas antarkota CIM Coimbra, dan European Space Agency melalui program InCubed.

Proyek tersebut mencakup 19 munisipalitas di wilayah Coimbra dengan luas sekitar 4.336 kilometer persegi. Citra satelit EOS SAT-1 dan pemrosesan data digunakan untuk menyusun peta hutan, menilai risiko kebakaran, mengidentifikasi perubahan tutupan hutan, serta membantu perencanaan pemulihan setelah kebakaran. Portugal juga memiliki peta kerentanan kebakaran berbasis satelit beresolusi 10 meter yang dikembangkan untuk 2026. Peta tersebut memperhitungkan kondisi medan, kemiringan lereng, dan beban bahan bakar vegetasi yang dapat memengaruhi perkembangan api.

Selain pemetaan risiko, Portugal menggunakan sistem informasi cuaca dan kebakaran untuk membantu pengambilan keputusan. Institut Meteorologi Portugal (IPMA), misalnya, menyediakan peta bahaya kebakaran yang menggabungkan prakiraan cuaca, indeks kebakaran, dan informasi vegetasi. Informasi ini dapat mendukung penentuan prioritas pengawasan serta langkah pencegahan sebelum kebakaran berkembang menjadi kejadian besar. Meski begitu, peta risiko merupakan alat bantu analisis, bukan jaminan bahwa kebakaran dapat dicegah sepenuhnya.

7. Korea Selatan menggabungkan data dari berbagai satelit

ilustrasi hasil pengindraan teknologi geospasial Korea Selatan (commons.wikimedia.org/European Union Copernicus Sentinel-2)

Korea Selatan juga mengembangkan pendekatan pemantauan kebakaran yang menggabungkan data satelit untuk menghasilkan gambaran situasi yang lebih lengkap. Pada September 2026, pemerintah Korea Selatan mengumumkan uji layanan informasi pengawasan kebakaran berbasis beberapa satelit. Sistem tersebut menggabungkan pengamatan dari satelit geostasioner Cheollian-2A dengan satelit orbit rendah dari berbagai negara.

Menurut pengumuman Korea Meteorological Administration, penambahan data satelit orbit rendah ditujukan untuk membantu mendeteksi kebakaran berukuran kecil sekaligus memantau perkembangan garis api. Dalam pengumuman tersebut, tingkat deteksi kebakaran kecil dilaporkan meningkat dari 1,3 persen menjadi 9,8 persen dalam evaluasi yang disampaikan pemerintah. Angka tersebut merupakan hasil evaluasi sistem yang dilaporkan dalam pengumuman tersebut, bukan jaminan bahwa seluruh kebakaran kecil dapat ditemukan.

Pendekatan multisatelit memiliki manfaat karena setiap satelit mempunyai karakteristik sensor, waktu pengamatan, dan resolusi yang berbeda. Data yang saling melengkapi dapat membantu mengurangi keterbatasan pengamatan dari satu sumber. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa peningkatan kemampuan pemantauan tidak selalu harus dilakukan dengan mengandalkan satu satelit, tetapi dapat dicapai melalui integrasi data yang relevan.

Ketujuh teknologi geospasial beberapa negara untuk atasi karhutla menunjukkan bahwa perangkat tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi indikasi kebakaran, memantau aktivitas api, memetakan wilayah terdampak, dan membantu menentukan prioritas penanganan. Namun, kemampuan teknologi setiap negara tidak sama. Ada sistem yang telah digunakan untuk pemantauan, ada yang masih diuji, dan ada pula yang masih dalam tahap pengembangan. Perbedaan ini penting agar pembaca tidak menganggap semua teknologi telah memberikan hasil operasional yang setara.

Teknologi geospasial akan memberikan manfaat terbesar ketika data dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang tepat waktu. Peta yang akurat tidak otomatis memadamkan api, tetapi dapat membantu petugas mengetahui ke mana harus bergerak, apa yang perlu diprioritaskan, dan bagaimana dampak kebakaran dapat ditekan. Dalam menghadapi karhutla yang semakin kompleks, perpaduan sains, teknologi, kebijakan, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk melindungi hutan sekaligus mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article