AQUAIOT. Diakses pada Oktober 2026. Flash Flooding After Drought: Why the Driest Summer Ends in Surface Water
EBSCO. Diakses pada Oktober 2026. Floods and Flooding and Global Warming
Flood Risk America. Diakses pada Oktober 2026. The Effects of Droughts: Why Floods Follow Periods of Drought
Zurich. Diakses pada Oktober 2026. Flash Flooding after Drought: How Public Services and Voluntary Groups Can Prepare
Kenapa Banjir Bisa Terjadi setelah Kemarau Panjang?

Kemarau panjang dapat mengeraskan tanah atau membuatnya sulit dibasahi, sehingga hujan deras lebih banyak menjadi limpasan permukaan daripada meresap.
Hujan intens dalam waktu singkat dapat melampaui kemampuan tanah, sungai, dan drainase menampung air, memicu genangan hingga banjir bandang.
Vegetasi yang berkurang, sedimentasi atau sampah di saluran, serta permukaan kedap air di kota mempercepat banjir; pembersihan drainase dan ruang resapan membantu mengurangi risiko.
Banjir biasanya identik dengan musim hujan. Namun, beberapa wilayah justru mengalami banjir besar ketika hujan pertama turun setelah berbulan-bulan dilanda kemarau. Kondisi ini mungkin terdengar bertentangan dengan logika karena tanah yang lama tidak terkena hujan seharusnya mampu menyerap lebih banyak air.
Kenyataannya, kemarau panjang dapat mengubah kondisi tanah dan lingkungan sehingga air hujan lebih sulit meresap. Ketika hujan deras datang secara tiba-tiba, air justru mengalir di permukaan dan berpotensi menyebabkan banjir. Ada beberapa proses ilmiah yang menjelaskan mengapa banjir bisa terjadi setelah kemarau panjang.
1. Tanah yang terlalu kering sulit menyerap air
Tanah yang sehat bekerja seperti spons, yaitu menyerap air hujan, menyimpannya, kemudian melepaskannya secara perlahan. Namun, kemarau berkepanjangan dapat membuat permukaan tanah mengering, mengeras, dan membentuk lapisan kerak. Kondisi ini menghambat air untuk masuk ke lapisan tanah yang lebih dalam.
Ketika hujan deras turun, air tidak selalu langsung meresap ke tanah. Sebagian justru mengalir di atas permukaan atau disebut surface runoff (limpasan permukaan). Semakin besar volume air yang mengalir, semakin tinggi pula risiko terjadinya genangan dan banjir.
Pada kondisi tertentu, tanah yang sangat kering juga bisa menjadi hidrofobik atau sulit dibasahi air. Hal ini dapat terjadi akibat keberadaan senyawa organik yang bersifat menolak air. Kendati tidak semua tanah kering mengalami kondisi tersebut, sifat hidrofobik dapat memperbesar limpasan ketika hujan kembali turun.
2. Hujan deras datang lebih cepat daripada kemampuan tanah menyerap air
Banjir tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi tanah, tetapi juga intensitas dan durasi hujan. Banjir dapat terjadi ketika hujan turun dalam jumlah besar dalam waktu singkat atau ketika air yang terkumpul melebihi kemampuan tanah dan saluran air untuk menampungnya.
Setelah kemarau panjang, hujan pertama yang turun dengan intensitas tinggi dapat menghasilkan limpasan dalam jumlah besar. Misalnya, ketika hujan deras mengguyur suatu wilayah selama beberapa jam, air bisa mengalir menuju daerah rendah sebelum sempat meresap ke tanah.
Situasi ini dapat memicu banjir bandang, yaitu banjir yang berkembang dengan cepat. Aliran air bahkan dapat memenuhi sungai kecil yang sebelumnya mengering, jalan raya, hingga permukiman yang berada di dataran rendah.
3. Berkurangnya vegetasi membuat tanah kehilangan perlindungan

ilustrasi hutan gundul (unsplash.com/Jonas Gerlach) Tumbuhan memiliki peran penting dalam mengatur pergerakan air hujan. Akar membantu mempertahankan struktur tanah dan membentuk jalur masuknya air, sedangkan daun serta vegetasi penutup tanah mengurangi hantaman langsung tetesan hujan ke permukaan.
Selama kemarau panjang, sebagian tumbuhan dapat mengering, kehilangan daun, atau mati akibat kekurangan air. Akibatnya, semakin banyak permukaan tanah yang terbuka tanpa perlindungan vegetasi.
Ketika hujan deras turun, tetesan air langsung menghantam tanah dan melepaskan partikel-partikel kecil di permukaannya. Proses ini dapat meningkatkan erosi sekaligus membentuk kerak tanah yang menghambat penyerapan air.
Material tanah yang terbawa aliran hujan juga berpotensi mengendap di sungai dan saluran drainase. Jika terus menumpuk, endapan tersebut dapat mengurangi kapasitas saluran untuk mengalirkan air.
4. Saluran drainase dan sungai tidak mampu menampung aliran air
Selama musim kemarau, saluran drainase dan aliran sungai tertentu dapat mengalami penumpukan sedimen, dedaunan, ranting, serta sampah. Karena aliran air relatif sedikit, material tersebut mungkin tidak segera terbawa keluar dari saluran.
Masalah muncul ketika hujan deras kembali turun. Air yang seharusnya mengalir melalui drainase justru tertahan oleh berbagai material yang menyumbat saluran. Akibatnya, air meluap dan menggenangi jalan maupun permukiman.
Penyumbatan aliran sungai oleh material seperti kayu dan puing-puing dapat menjadi salah satu penyebab banjir. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan saluran air mengalirkan limpasan sama pentingnya dengan kemampuan tanah menyerap hujan.
5. Wilayah perkotaan lebih rentan mengalami genangan
Banjir setelah kemarau panjang tidak hanya terjadi di kawasan hutan atau pedesaan. Wilayah perkotaan juga memiliki risiko tinggi, terutama karena sebagian besar permukaannya tertutup aspal, beton, dan bangunan.
Berbeda dengan tanah yang masih memiliki ruang pori, permukaan kedap air tersebut hampir tidak memungkinkan air hujan meresap secara langsung. Akibatnya, sebagian besar air mengalir menuju jalan, selokan, dan saluran drainase.
Saat hujan turun deras, volume limpasan dapat melebihi kapasitas drainase perkotaan. Jika saluran juga tersumbat sampah atau sedimen, genangan akan terbentuk lebih cepat. Inilah sebabnya kawasan perkotaan dapat mengalami banjir meskipun sebelumnya tidak diguyur hujan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
6. Perubahan iklim dapat memperparah kondisi tersebut

ilustrasi kekeringan (pexels.com/jonathan) Perubahan iklim turut memengaruhi pola curah hujan dan kekeringan di berbagai wilayah. Peningkatan suhu dapat memperbesar penguapan dan memperparah kekeringan, sementara atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air sehingga berpotensi menghasilkan hujan yang lebih intens.
Peralihan dari kondisi sangat kering menuju hujan ekstrem dapat menciptakan kombinasi yang berbahaya. Tanah yang mengalami perubahan struktur atau kehilangan vegetasi harus menerima air dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Meski demikian, kemarau panjang tidak selalu meningkatkan risiko banjir. Pada beberapa jenis tanah, kondisi kering justru menyediakan lebih banyak ruang untuk menampung air. Dampaknya bergantung pada karakteristik tanah, kondisi vegetasi, intensitas hujan, dan sistem drainase di wilayah tersebut.
7. Risiko banjir setelah kemarau panjang bisa dikurangi
Menghadapi peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, persiapan lingkungan menjadi hal yang penting. Membersihkan selokan, gorong-gorong, dan saluran drainase sebelum hujan deras datang dapat membantu mencegah penyumbatan aliran air.
Menjaga vegetasi juga tak kalah penting. Pepohonan, rerumputan, dan tanaman penutup tanah membantu melindungi permukaan dari erosi sekaligus mendukung penyerapan air. Di wilayah perkotaan, permukaan berpori dan penyediaan ruang resapan dapat membantu mengurangi limpasan. Masyarakat juga perlu memperhatikan peringatan cuaca dan menghindari aktivitas di jalur aliran air atau kawasan rawan banjir bandang ketika hujan ekstrem terjadi.
Pada akhirnya, banjir setelah kemarau panjang bukanlah fenomena yang bertentangan dengan kondisi kekeringan. Tanah yang sulit menyerap air, berkurangnya vegetasi, saluran drainase yang tersumbat, dan hujan berintensitas tinggi dapat saling memperburuk keadaan. Karena itu, berakhirnya musim kemarau bukan berarti risiko bencana ikut berakhir.
Referensi
























