Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Mitos Hunter's Moon, Puncak Purnama Oktober 2026

4 min read
3 Mitos Hunter's Moon, Puncak Purnama Oktober 2026
ilustrasi hunter's moon (unsplash.com/Ganapathy Kumar)
  • Hunter’s moon, purnama pertama setelah harvest moon, mencapai puncak pada 26 Oktober 2026; namanya berasal dari tradisi berburu dan menyiapkan makanan menjelang musim dingin.
  • Kepercayaan bahwa purnama membawa kesialan, bencana, atau perilaku aneh belum didukung bukti ilmiah kuat, sehingga lebih tepat dipahami sebagai cerita rakyat.
  • Purnama dapat memicu spring tide yang meningkatkan risiko banjir pesisir dalam kondisi tertentu, sedangkan Bulan yang tampak besar di cakrawala merupakan moon illusion.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam kalender astronomi, Oktober 2026 menjadi momen terbaik untuk menyaksikan fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai hunter’s moon. Istilah ini merujuk pada bulan purnama pertama setelah harvest moon atau purnama yang berkaitan dengan musim panen. Di Oktober ini, hunter’s moon akan mencapai puncaknya pada 26 Oktober 2026.

Nama hunter’s moon sendiri berasal dari tradisi masyarakat masa lalu yang memanfaatkan cahaya Bulan untuk berburu dan mempersiapkan persediaan makanan menjelang musim dingin. Seiring waktu, purnama ini dikaitkan dengan berbagai cerita rakyat dan kepercayaan yang berkembang di sejumlah kebudayaan. Mulai dari anggapan membawa pertanda buruk hingga kepercayaan bahwa purnama bisa memengaruhi perilaku manusia.

Lalu, apa saja cerita di balik hunter’s moon dan bagaimana sains menjelaskan fenomena tersebut? Simak selengkapnya di bawah ini, yuk!

  1. 1. Hunter's moon dan kepercayaan tentang pertanda buruk

    ilustrasi hunter's moon
    ilustrasi hunter's moon (unsplash.com/Federico Di Dio photography)

    Hunter’s moon merupakan bulan purnama yang dalam tradisi masyarakat dikaitkan dengan berbagai kepercayaan, termasuk pertanda baik dan buruk. Mengutip dari The Old Farmer’s Almanac, nama-nama bulan purnama berasal dari tradisi masyarakat yang menghubungkan perubahan alam dengan aktivitas sehari-hari. Dalam sejumlah kepercayaan rakyat, bulan purnama dianggap memiliki pengaruh terhadap keberuntungan dan kejadian tertentu.

    Namun, kepercayaan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa Bulan membawa pertanda buruk. Dilansir Scientific American, anggapan bahwa bulan purnama memicu perilaku aneh atau gangguan mental telah lama berkembang, tetapi bukti ilmiah yang mendukung hubungan tersebut masih lemah. Dengan demikian, anggapan bahwa hunter’s moon membawa kesialan lebih tepat dipahami sebagai bagian dari cerita dan kepercayaan masyarakat, bukan fakta astronomi yang telah terbukti.

  2. 2. Bulan purnama sebagai simbol bencana dan kesialan

    ilustrasi hunter's moon
    ilustrasi hunter's moon (unsplash.com/Davide Sibilio)

    Dalam berbagai kebudayaan, bulan purnama kerap dikaitkan dengan pertanda buruk, mulai dari kesialan hingga datangnya bencana. Kepercayaan ini muncul karena penampakan Bulan yang terang dan mencolok sering dikaitkan dengan kejadian alam yang dianggap tidak biasa. Namun, tidak semua fenomena yang terjadi saat purnama merupakan pertanda mistis karena sebagian dapat dijelaskan secara ilmiah.

    Salah satunya adalah fenomena spring tide, yaitu kondisi ketika perbedaan ketinggian air laut saat pasang dan surut menjadi lebih besar karena gravitasi Bulan dan Matahari bekerja bersamaan, sebagaimana dijelaskan NASA. Mengutip dari NOAA, pasang laut yang sangat tinggi, terutama ketika bulan purnama berada dekat dengan Bumi, dapat meningkatkan risiko banjir di wilayah pesisir jika disertai kondisi lain yang mendukung. Jadi, meskipun hunter’s moon tidak terbukti membawa kesialan, pasang tinggi saat purnama tetap bisa menimbulkan risiko nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir rob.

  3. 3. Hunter's moon yang terlihat lebih besar dipercaya memengaruhi manusia

    ilustrasi hunter's moon
    ilustrasi hunter's moon (unsplash.com/Sotiris Savvides)

    Hunter’s moon sering terlihat lebih besar ketika muncul di dekat cakrawala, sehingga membuat sebagian orang merasa Bulan tampak lebih dekat dan istimewa dibandingkan biasanya. Dilansir NASA, fenomena ini disebut moon illusion, yaitu ilusi penglihatan yang membuat Bulan terlihat lebih besar apabila diamati dari Bumi. Penyebab pasti ilusi ini masih diperdebatkan, tetapi salah satu penjelasannya berkaitan dengan cara otak membandingkan Bulan dengan objek di sekitar cakrawala, seperti bangunan atau pepohonan.

    Selain penampakannya, bulan purnama juga kerap dipercaya memengaruhi emosi dan perilaku manusia, misalnya membuat seseorang lebih gelisah atau bertindak tidak biasa. Namun, berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Innovations in Clinical Neuroscience pada 2019, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara fase Bulan dan perilaku pasien di rumah sakit psikiatri yang mereka teliti. Jadi, meskipun hunter’s moon terlihat besar dan memicu berbagai kepercayaan, penampakan tersebut merupakan ilusi penglihatan, sementara anggapan bahwa purnama mengubah perilaku manusia belum didukung bukti ilmiah yang konsisten.

    Hunter’s moon yang terjadi pada 26 Oktober 2026 bukan sekadar fenomena langit yang menarik untuk diamati, tetapi juga menyimpan cerita dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sains membantu kita membedakan mana fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan mana yang masih berupa mitos. Menurutmu, apakah kepercayaan tentang bulan purnama akan terus bertahan meskipun sains sudah memberikan penjelasannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More