“Kalau hanya analisisnya berdasarkan Nino 3.4 saja, kita akan terkecoh. Tetapi kalau faktor IOD dimasukkan, hasilnya akan memberikan analisis yang lebih akurat,” ujarnya.
BRIN: Kajian Super El Nino Harus Dilakukan dengan Hati-hati

- BRIN menyoroti proyeksi penguatan El Nino pada 2026 yang berpotensi meningkatkan kekeringan dan karhutla, terutama di Sumatera serta Kalimantan.
- Analisis tidak boleh hanya mengandalkan suhu Nino 3.4; IOD dan cold pool Indonesia perlu dihitung karena memengaruhi monsun Australia dan dampak periode kering.
- BRIN menandai Oktober–Desember 2026 sebagai periode pemantauan penting, serta menekankan kajian Super El Nino berbasis analisis ilmiah mendalam dan penguatan mitigasi.
Fenomena El Nino yang diproyeksikan menguat pada 2026 menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami dinamika iklim dan berbagai faktor yang memengaruhinya untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi. Hal tersebut dikaji Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer.
Indian Ocean Dipole perlu diperhatikan
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menyampaikan bahwa analisis El Nino tidak cukup hanya melihat suhu muka laut di wilayah Nino 3.4. Faktor Indian Ocean Dipole (IOD) dan cold pool di sekitar wilayah Indonesia juga perlu diperhitungkan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat.
IOD perlu mendapat perhatian yang sama seperti ENSO (El Nino-Southern Oscillation) Selama IOD tidak mendukung dan cold pool masih berada di kawasan Indonesia, dampak yang ditimbulkan diharapkan tidak separah kejadian pada 1997 maupun 2015.
Interaksi Nino 3.4, IOD, dan cold pool dapat memengaruhi kekuatan monsun Australia yang membawa udara kering ke wilayah Indonesia. Kondisi ini meningkatkan kerentanan wilayah dengan pola curah hujan monsunal, termasuk Sumatera dan Kalimantan, menjadi kawasan yang perlu mendapat perhatian ketika mengalami periode kering yang lebih panjang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan lingkungan, terutama pada wilayah yang memiliki ekosistem gambut.
Soroti periode akhir tahun

ilustrasi kemarau panjang (freepik.com/jcomp) Dalam kajiannya, Eddy menggunakan data pengamatan sekitar 76 tahun dengan mengombinasikan metode konvensional dan machine learning untuk menganalisis pola serta kekuatan El Nino dan periode kritis dampaknya terhadap Indonesia.
Lebih lanjut, dia menyoroti periode Oktober–Desember 2026 sebagai waktu yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan perkembangan fenomena tersebut.
“Keberadaan cold pool di wilayah timur Indonesia juga penting untuk dikaji lebih lanjut karena dapat memengaruhi dinamika El Nino,” kata Eddy.
Kajian Super El Nino harus dilakukan secara hati-hati
Selain membahas faktor iklim, Eddy menekankan bahwa perubahan iklim global juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Peningkatan kejadian ekstrem menunjukkan pentingnya penguatan sistem pemantauan dan mitigasi agar dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta sektor pangan dapat diminimalkan.
Kajian terhadap fenomena Super El Nino harus dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan analisis ilmiah yang mendalam agar informasi yang dihasilkan dapat menjadi dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak iklim ekstrem.
Sementara istilah Super El Nino atau Godzilla El Nino harus didukung kajian ilmiah yang mendalam dan tidak hanya didasarkan pada satu parameter. Dia berharap penguatan pemantauan dan mitigasi tetap diperlukan untuk mengantisipasi potensi dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, sektor pangan serta risiko karhutla




















