Prabowo Dorong BRIN Kembangkan Riset Vaksin Malaria hingga Obat Herbal

Presiden Prabowo mendorong BRIN mempercepat riset vaksin malaria dan mewujudkan kemandirian produksi vaksin di Indonesia.
BRIN memiliki empat kandidat vaksin malaria dan berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan serta Bio Farma.
BRIN juga menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk mencapai status fitofarmaka melalui berbagai tahapan pengujian.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mendorong agar Indonesia mandiri di sektor kesehatan nasional. Prabowo pun mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat riset vaksin malaria, sekaligus memaksimalkan potensi obat herbal dalam negeri.
"Bapak Presiden beberapa kali menelepon saya untuk menanyakan perkembangan vaksin, khususnya mengenai kemandirian produksi vaksin di Indonesia," ujar Kepala BRIN, Arif Satria, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Saat ini, Indonesia memiliki beberapa opsi formula untuk calon vaksin malaria yang sedang diuji coba secara intensif, demi menekan angka kasus penularan.
"Saat ini, BRIN sedang melakukan riset vaksin malaria dan telah memiliki empat kandidat vaksin. Secara keseluruhan, terdapat sekitar lima atau enam kandidat vaksin yang sedang dikembangkan di Indonesia," ucap Arif.
"Dalam pengembangannya, kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan Bio Farma," sambungnya.
1. Prabowo beri dukungan BRIN

Kepala BRIN, Arif Satria (IDN Times/Istimewa) Menurut Arif, dukungan penuh dari orang nomor satu di Indonesia ini diharapkan mampu memangkas durasi riset secara signifikan, tanpa mengurangi standar keamanan medis.
"Bapak Presiden meminta agar proses riset vaksin ini dipercepat. Kami berharap dengan dukungan penuh dari beliau, pengembangan vaksin tersebut dapat dipercepat hingga tiga tahun dari jadwal yang seharusnya, khususnya untuk vaksin malaria," kata dia.
2. Membidik varian parasit malaria yang belum ada penangkalnya

Kepala BRIN, Arif Satria (IDN Times/Istimewa) Langkah akselerasi ini dinilai sangat mendesak, kata Arif, karena karakteristik persebaran penyakit malaria di Tanah Air memiliki keunikan tersendiri. Keberhasilan riset ini nantinya diproyeksikan membawa dampak positif bagi skala internasional.
"Hal ini penting karena beberapa parasit malaria yang ditemukan di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satunya adalah Plasmodium vivax, yang hingga saat ini belum memiliki vaksin yang tersedia. Jika kita mampu mengembangkan dan memproduksi vaksin tersebut di Indonesia, hal ini dapat menjadi salah satu kontribusi Indonesia bagi dunia," kata dia.
3. BRIN siapkan 19 kandidat obat herbal menuju level fitofarmaka

Kepala BRIN, Arif Satria (IDN Times/Ilman Nafi'an) Selain itu, Presiden Prabowo juga mendorong BRIN agar mengembangkan obat herbal. Sebab, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah.
"Bapak Presiden juga menekankan kemandirian obat merupakan hal yang harus segera diwujudkan," kata dia.
Kolaborasi lintas sektor digalakkan untuk menyaring belasan kandidat komoditas herbal potensial, agar kualitasnya diakui secara klinis dan setara obat modern.
"Menurut saya, obat herbal memiliki potensi yang sangat besar. BRIN pun telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pengembangan obat herbal di Indonesia. Saat ini, BRIN memiliki 19 kandidat obat herbal yang diarahkan untuk dapat mencapai status fitofarmaka," ucap dia.
Riset juga terus berjalan demi meningkatkan kelas produk obat herbal tradisional terstandar, agar bisa lolos uji klinis tahap akhir. BRIN juga berkoordinasi dengan BPOM dalam mengembangkan obat herbal.
"Beberapa obat yang dikembangkan BRIN masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandar (OHT). Selanjutnya, kita ingin mendorong obat-obat tersebut agar dapat mencapai status fitofarmaka. Untuk mencapai status tersebut, diperlukan berbagai tahapan pengujian, termasuk uji klinis. Saat ini, proses tersebut sedang kami lakukan," ujar dia.






















