Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Tandus ke Hijau, Gurun Taklamakan Kini Serap Emisi Karbon

Dari Tandus ke Hijau, Gurun Taklamakan Kini Serap Emisi Karbon
Ilustrasi oasis (unsplash.com/Willian Justen de Vasconcellos)
Intinya Sih
  • Program penanaman pohon selama hampir lima dekade mengubah Gurun Taklamakan menjadi penyerap karbon, membuktikan bahwa pendanaan dan kebijakan stabil dapat menghasilkan dampak nyata bagi iklim.
  • Analisis satelit menunjukkan vegetasi di tepi gurun meningkatkan penyerapan karbon, menekan badai pasir, serta melindungi lahan pertanian sekitar meski penghijauan tidak mencakup seluruh wilayah.
  • Keberhasilan ini sulit diterapkan di tempat lain karena kondisi unik Taklamakan, namun tetap memberi harapan bahwa upaya berbasis alam bisa berkontribusi pada solusi krisis iklim global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Salah satu wilayah terkering di dunia sedang diubah menjadi penyerap karbon melalui program penanaman pohon skala besar jangka panjang. Gurun Taklamakan yang terkenal sebagai “hyperarid” kini perlahan berubah menjadi penyerap karbon (carbon sink), berkat program penanaman pohon berskala besar yang telah berlangsung selama hampir lima dekade.

Upaya jangka panjang ini berhasil membuat wilayah tersebut menyerap lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan yang dilepaskannya. Temuan ini menjadi bukti bahwa dengan pendanaan yang memadai dan stabilitas kebijakan, proyek penghijauan di daerah ekstrem sekalipun bisa memberikan dampak nyata dalam upaya mengatasi krisis iklim.

1. Analisis satelit ungkap perubahan besar

Perubahan di sekitar Gurun Taklamakan dianalisis oleh tim ilmuwan dari Amerika Serikat dan China menggunakan pemodelan data satelit selama beberapa tahun. Mereka mengamati kadar CO₂, tutupan vegetasi, serta pola cuaca untuk memahami bagaimana wilayah yang sebelumnya nyaris “mati” secara biologis ini mulai berubah.

Selama ini, hutan besar seperti Hutan Amazon sering menjadi sorotan sebagai penyerap karbon utama. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa sabuk vegetasi yang lebih kecil, seperti pohon dan semak di tepi gurun, juga bisa memberikan kontribusi signifikan.

Para peneliti bahkan menyebut Taklamakan sebagai “kekosongan biologis” karena kondisi iklimnya yang sangat keras, mencakup area sekitar 337.000 kilometer persegi. Meski demikian, hasil ini membuka kemungkinan bahwa gurun lain di dunia juga dapat direhabilitasi dengan pendekatan serupa.

2. Mulai ubah keseimbangan karbon

ilustrasi oasis di gurun sahara (unsplash / Sandra Gabriel)
ilustrasi oasis di gurun sahara (unsplash / Sandra Gabriel)

Meski selama ini gurun jarang dianggap sebagai penyerap karbon, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi tersebut bisa berubah, tergantung berbagai faktor seperti pola cuaca dan pergerakan pasir. Di Gurun Taklamakan, program penanaman pohon yang difokuskan di area pinggiran ternyata memberikan dampak signifikan terhadap tingkat karbon secara keseluruhan.

Data menunjukkan bahwa penyerapan karbon di wilayah ini semakin kuat, terutama selama musim hujan antara Juli hingga September, serta di area yang telah ditumbuhi vegetasi baru. Artinya, meski tidak dilakukan di seluruh wilayah gurun, penghijauan di bagian tepinya sudah cukup untuk mengubah dinamika ekosistem secara luas.

Selain menyerap karbon, program ini juga membawa manfaat tambahan: mengurangi erosi akibat angin, menekan frekuensi dan intensitas badai pasir, serta melindungi lahan pertanian di sekitarnya.

3. Tidak bisa diterapkan di semua tempat

Meski keberhasilan di Gurun Taklamakan terlihat menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa kondisi unik wilayah ini tidak mudah direplikasi di tempat lain. Salah satu faktor penting adalah keberadaan pegunungan di sekitarnya yang menyediakan aliran air hujan, membantu pohon-pohon yang ditanam tetap bertahan di lingkungan ekstrem.

Selain itu, kapasitas penyerapan karbonnya saat ini masih tergolong terbatas. Bahkan jika seluruh gurun tersebut berhasil dihijaukan, dampaknya diperkirakan hanya mampu mengimbangi sekitar 60 juta ton karbon dioksida. Ini jumlah yang sangat kecil dibandingkan emisi global tahunan yang mencapai sekitar 40 miliar ton.

Namun demikian, setiap tambahan carbon sink tetap berarti. Di tengah meningkatnya kadar karbon di atmosfer, temuan ini memberikan secercah harapan bahwa upaya berbasis alam, meski kecil, tetap bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang menghadapi krisis iklim.

Meski bukan solusi tunggal, transformasi Gurun Taklamakan menunjukkan bahwa upaya kecil yang konsisten dapat menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim, pendekatan seperti ini membuka peluang baru untuk memanfaatkan alam sebagai bagian dari solusi global.

Referensi

Noor, Salma, Xun Jiang, Xinyue Wang, Jiani Yang, Sally Newman, King-Fai Li, Liming Li, Le Yu, Xiyu Li, and Yuk L. Yung. “Human-induced Biospheric Carbon Sink: Impact From the Taklamakan Afforestation Project.” Proceedings of the National Academy of Sciences 123, no. 4 (January 20, 2026): e2523388123.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More