Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pertama Kalinya, Manusia Berhasil Mengubah Orbit Benda di Tata Surya

Pertama Kalinya, Manusia Berhasil Mengubah Orbit Benda di Tata Surya
ilustrasi asteroid 29 Amphitrite (pixabay.com/AlexAntropov86)
Intinya Sih
  • NASA sukses menabrakkan wahana DART ke asteroid Dimorphos pada 2022 untuk menguji kemampuan manusia mengubah lintasan objek langit sebagai langkah mitigasi ancaman asteroid.
  • Hasil misi menunjukkan perubahan periode orbit Dimorphos terhadap Didymos hingga 33 menit, jauh melebihi perkiraan awal sekitar 7 menit dan membuktikan efektivitas metode tumbukan terkontrol.
  • Tabrakan menciptakan efek dorongan balik yang memperlambat orbit sistem Didymos-Dimorphos sekitar 11,7 mikrometer per detik, menandai pertama kalinya manusia berhasil mengubah orbit alami di Tata Surya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pada tahun 2022, NASA mencatat sejarah dengan sengaja menabrakkan wahana antariksa ke sebuah asteroid dalam misi Double Asteroid Redirection Test (DART). Tujuannya untuk menguji apakah manusia mampu mengubah lintasan objek langit sebagai langkah mitigasi potensi ancaman asteroid di masa depan.

Hasil awal sudah menunjukkan keberhasilan besar, dengan periode orbit pasangan asteroid Didymos dan Dimorphos berkurang hingga 33 menit. Namun, temuan terbaru mengungkap bahwa tabrakan tersebut tidak hanya mengubah orbit kecil di antara keduanya, tetapi juga menggeser jalur orbit seluruh sistem asteroid itu mengelilingi Matahari. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah manusia berhasil mengubah orbit objek alami di Tata Surya secara langsung.

1. Misi DART oleh NASA

Misi Double Asteroid Redirection Test dirancang sebagai bagian dari upaya pertahanan planet. Meski saat ini belum ada asteroid besar yang diprediksi akan menabrak Bumi dalam waktu dekat, para ilmuwan ingin memastikan manusia memiliki strategi jika skenario tersebut benar-benar terjadi.

Konsep DART sendiri menargetkan pasangan asteroid yang saling terikat gravitasi, yaitu Didymos yang berukuran sekitar 780 meter, dan Dimorphos yang lebih kecil dengan diameter sekitar 160 meter. Karena ukurannya lebih kecil, Dimorphos dipilih sebagai target utama, karena lebih mudah dipengaruhi lintasannya melalui tumbukan terkontrol.

2. Perubahan lebih besar dari yang diperkirakan

ilustrasi asteroid (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)
ilustrasi asteroid (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)

Sistem Didymos dan Dimorphos dipilih karena periode orbitnya sudah dipahami dengan sangat baik, sehingga perubahan sekecil apa pun bisa diukur dengan akurat. Dalam misi Double Asteroid Redirection Test, keberhasilan ditentukan dari seberapa besar tumbukan mampu mengubah periode orbit Dimorphos saat mengelilingi Didymos.

Tim ilmuwan awalnya memperkirakan perubahan sekitar 7 menit. Namun, hasilnya jauh melampaui ekspektasi. Periode orbit berubah hingga 33 menit. Temuan ini menjadi pencapaian yang sangat menggembirakan sekaligus membuktikan efektivitas metode tersebut.

Meski begitu, para peneliti tidak berhenti di situ. Mereka ingin mengetahui dampak yang lebih besar. Ilmuwan ingin tahu apakah tumbukan tersebut juga mampu mengubah jalur orbit keseluruhan sistem asteroid ini saat bergerak mengelilingi Matahari, bukan hanya interaksi lokal antara dua objek tersebut.

3. Tabrakan picu efek "dorongan"

Karena Didymos dan Dimorphos saling terikat oleh gravitasi, keduanya mengorbit titik pusat massa bersama yang disebut barycenter. Saat Double Asteroid Redirection Test menabrak Dimorphos, dampaknya tidak hanya mendorong asteroid kecil tersebut, tetapi juga menyemburkan material ke luar angkasa.

Material yang terlempar ini membawa momentum keluar dari sistem, menciptakan efek “recoil” atau dorongan balik kecil. Para ilmuwan sebelumnya telah memprediksi bahwa efek ini bisa sedikit mengubah pergerakan keseluruhan pasangan asteroid tersebut saat mengelilingi Matahari.

Data dari September 2022 kemudian mengonfirmasi prediksi tersebut. Tabrakan itu memberikan dorongan kecil yang memperlambat kecepatan orbit sistem Didymos-Dimorphos sekitar 11,7 mikrometer per detik, atau setara dengan sekitar 42 milimeter per jam. Meski terdengar sangat kecil, perubahan ini cukup untuk membuktikan bahwa manusia mampu memengaruhi orbit objek alami di Tata Surya.

Pencapaian Double Asteroid Redirection Test membuktikan bahwa manusia kini tidak hanya mampu mengamati, tetapi juga memengaruhi dinamika Tata Surya. Meski skalanya masih kecil, langkah ini menjadi fondasi penting bagi upaya perlindungan Bumi dari ancaman asteroid di masa depan.

Referensi

Makadia, Rahil, Steven R. Chesley, David Herald, Davide Farnocchia, Nancy L. Chabot, Shantanu P. Naidu, Andrew S. Rivkin, et al. “Direct Detection of an Asteroid’s Heliocentric Deflection: The Didymos System After DART.” Science Advances 12, no. 10 (March 6, 2026): eaea4259.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More