Karena Didymos dan Dimorphos saling terikat oleh gravitasi, keduanya mengorbit titik pusat massa bersama yang disebut barycenter. Saat Double Asteroid Redirection Test menabrak Dimorphos, dampaknya tidak hanya mendorong asteroid kecil tersebut, tetapi juga menyemburkan material ke luar angkasa.
Material yang terlempar ini membawa momentum keluar dari sistem, menciptakan efek “recoil” atau dorongan balik kecil. Para ilmuwan sebelumnya telah memprediksi bahwa efek ini bisa sedikit mengubah pergerakan keseluruhan pasangan asteroid tersebut saat mengelilingi Matahari.
Data dari September 2022 kemudian mengonfirmasi prediksi tersebut. Tabrakan itu memberikan dorongan kecil yang memperlambat kecepatan orbit sistem Didymos-Dimorphos sekitar 11,7 mikrometer per detik, atau setara dengan sekitar 42 milimeter per jam. Meski terdengar sangat kecil, perubahan ini cukup untuk membuktikan bahwa manusia mampu memengaruhi orbit objek alami di Tata Surya.
Pencapaian Double Asteroid Redirection Test membuktikan bahwa manusia kini tidak hanya mampu mengamati, tetapi juga memengaruhi dinamika Tata Surya. Meski skalanya masih kecil, langkah ini menjadi fondasi penting bagi upaya perlindungan Bumi dari ancaman asteroid di masa depan.
Referensi
Makadia, Rahil, Steven R. Chesley, David Herald, Davide Farnocchia, Nancy L. Chabot, Shantanu P. Naidu, Andrew S. Rivkin, et al. “Direct Detection of an Asteroid’s Heliocentric Deflection: The Didymos System After DART.” Science Advances 12, no. 10 (March 6, 2026): eaea4259.