Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Hewan Bertahan Hidup saat Hutan Terbakar?

Bagaimana Hewan Bertahan Hidup saat Hutan Terbakar?
ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Malachi Brooks)
  • Satwa menghadapi kebakaran dengan melarikan diri ke area aman atau sumber air, terbang, serta berlindung di liang, tanah lembap, celah batu, atau batang pohon.
  • Setelah api padam, sebagian mamalia kecil memasuki torpor untuk menghemat energi; sejumlah satwa kembali ke area terbakar karena lebih aman sementara atau menyediakan makanan seperti serangga.
  • Kebakaran telah membentuk adaptasi satwa melalui seleksi alam, tetapi kebakaran ekstrem yang terlalu luas, panas, atau sering dapat menghambat penyelamatan diri dan pemulihan habitat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan bisa mengubah kawasan yang semula menjadi tempat berlindung dan mencari makan bagi satwa menjadi hamparan penuh asap dan api dalam waktu singkat. Bagi hewan yang hidup di dalamnya, kebakaran tentu merupakan ancaman serius. Namun, bukan berarti semua satwa yang berada di jalur api akan mati.

Selama jutaan tahun, kebakaran telah menjadi bagian dari banyak ekosistem alami. Karena itu, sejumlah hewan memiliki kemampuan dan perilaku tertentu yang membantu mereka menghadapi kebakaran, mulai dari melarikan diri, bersembunyi di dalam tanah, hingga memanfaatkan kondisi setelah api padam. Lantas, bagaimana sebenarnya hewan bertahan hidup saat hutan terbakar?

  1. 1. Melarikan diri secepat mungkin dari api

    Cara paling sederhana sekaligus efektif bagi hewan yang mampu bergerak cepat adalah menjauh dari sumber kebakaran. Mamalia berukuran besar seperti rusa dan kanguru dapat berlari menuju area yang lebih aman ketika mendeteksi kebakaran. Sebagian satwa juga bergerak menuju sungai, danau, atau sumber air lainnya untuk menghindari kobaran api.

    Sementara itu, burung memiliki keuntungan karena dapat terbang meninggalkan kawasan yang terbakar. Mereka bisa berpindah ke wilayah yang belum terdampak api dan kembali ketika kondisi sudah lebih aman.

    Namun, tidak semua hewan mempunyai kemampuan untuk melarikan diri sejauh itu. Hewan kecil, reptil, amfibi, dan berbagai jenis invertebrata sering kali menggunakan strategi yang berbeda.

  2. 2. Bersembunyi di bawah tanah

    Ketika berlari bukan pilihan, bersembunyi bisa menjadi cara terbaik untuk bertahan hidup. Lubang atau liang di dalam tanah dapat memberikan perlindungan dari panas dan api. Suhu di bawah permukaan tanah umumnya lebih rendah dibandingkan suhu di permukaan sehingga beberapa hewan dapat berlindung di sana ketika api melintas.

    Sejumlah reptil dan amfibi juga diketahui mencari perlindungan di tempat-tempat, seperti tanah lembap, lumpur, celah batu, atau area yang terlindung dari panas langsung. Bagi satwa kecil, tempat perlindungan semacam ini bisa menjadi pembatas penting antara hidup dan mati ketika kebakaran melanda.

  3. 3. Memanfaatkan celah batu dan tempat berlindung alami

    ilustrasi penanda lokasi dengan batu
    ilustrasi batu (pexels.com/alessandro pettorali)

    Tidak semua hewan memiliki liang sendiri. Sebagian memanfaatkan celah batu, batang pohon, atau tempat tersembunyi lainnya untuk mengurangi paparan panas dan api.

    Di Australia, beberapa mamalia kecil dapat bertahan dengan berlindung di celah-celah batu yang relatif aman dari kobaran api. Strategi ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi kebakaran, kemampuan menemukan tempat perlindungan yang tepat bisa sama pentingnya dengan kemampuan untuk melarikan diri.

  4. 4. Menurunkan aktivitas tubuh untuk menghemat energi

    Ancaman bagi hewan tidak berhenti ketika api sudah padam. Setelah kebakaran, makanan bisa menjadi sulit ditemukan dan tempat berlindung juga berkurang. Dalam kondisi seperti ini, beberapa mamalia kecil dapat memasuki kondisi yang disebut torpor, yaitu keadaan ketika aktivitas dan metabolisme tubuh menurun untuk sementara waktu.

    Dengan menurunkan kebutuhan energi, hewan dapat menghemat cadangan tubuh ketika sumber makanan di lingkungan sekitar sedang terbatas. Strategi tersebut berbeda dari hibernasi dalam arti sebenarnya, tetapi sama-sama membantu hewan menghemat energi selama kondisi lingkungan tidak menguntungkan.

  5. 5. Ada hewan yang justru kembali ke area yang baru terbakar

    Menariknya, sebagian hewan tidak selalu menjauh dari kawasan yang baru saja terbakar. Setelah api melewati suatu area, bahan bakar seperti rumput dan semak di tempat tersebut sudah terbakar. Artinya, area yang sama tidak langsung kembali terbakar dengan intensitas yang sama.

    Kondisi ini dapat menciptakan semacam tempat berlindung sementara bagi sebagian satwa. Selain itu, kawasan yang baru terbakar juga bisa menyediakan sumber makanan tertentu.

    Contohnya, serangga dapat ditemukan dalam jumlah yang meningkat di beberapa habitat pascakebakaran. Hal ini kemudian menarik burung pemakan serangga dan satwa lain yang memanfaatkan sumber makanan tersebut.

  6. 6. Kehidupan setelah kebakaran bisa berubah drastis

    ilustrasi kebakaran hutan
    ilustrasi kebakaran hutan (pixabay.com/Gerd Altmann)

    Berhasil melewati kobaran api bukan berarti perjuangan selesai. Setelah kebakaran, hewan harus menghadapi lingkungan yang sangat berbeda. Pepohonan mungkin sudah tumbang, vegetasi yang menjadi sumber makanan hilang, dan tempat berlindung menjadi jauh lebih sedikit.

    Satwa yang selamat juga bisa menghadapi peningkatan risiko dimangsa karena tempat persembunyian berkurang. Karena itu, mereka dapat mengubah pola mencari makan, memilih tempat berlindung baru, atau berpindah ke kawasan lain.

    Dengan kata lain, bertahan hidup dari kebakaran hanyalah tahap pertama. Tantangan berikutnya adalah bertahan di habitat yang sudah berubah.

  7. 7. Hewan telah berevolusi menghadapi kebakaran

    Kemampuan satwa dalam menghadapi kebakaran bukan muncul secara kebetulan. Di wilayah yang secara alami sering mengalami kebakaran, api telah menjadi salah satu kekuatan yang membentuk ekosistem selama waktu yang sangat panjang.

    Hewan yang mampu mendeteksi tanda-tanda kebakaran, menemukan tempat berlindung, atau berpindah ke lokasi yang lebih aman memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Dalam jangka panjang, proses seleksi alam dapat mempertahankan berbagai karakteristik dan perilaku yang membantu satwa menghadapi kondisi tersebut.

    Namun, penting diketahui bahwa kebakaran alami tidak selalu sama dengan kebakaran hutan ekstrem yang marak terjadi saat ini. Kebakaran yang terlalu luas, terlalu panas, atau terjadi terlalu sering dapat membuat satwa kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri. Habitat juga mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk pulih sebelum kembali terbakar.

    Pada akhirnya, kebakaran merupakan bagian dari kehidupan bagi banyak ekosistem, tetapi perubahan pola kebakaran dapat menjadi tantangan besar bagi satwa. Kemampuan hewan untuk bertahan hidup menunjukkan betapa luar biasanya adaptasi alam, sekaligus mengingatkan bahwa setiap habitat memiliki batas kemampuan untuk pulih.

    Referensi

    BBC. Diakses pada Agustus 2026. How Wildlife Survives After Wildfires
    National Forest Foundation. Diakses pada Agustus 2026. What Happens To Wildlife During A Wildfire?
    National Park Service. Diakses pada Agustus 2026. Assessing Wildlife Responses to Changing Fire Regimes
    Phys.org. Diakses pada Agustus 2026. The Tricks Animals Use to Survive Australia's Bushfires

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More