Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Sirkuit Mandalika Belum Cocok untuk Formula 1

5 min read
5 Alasan Sirkuit Mandalika Belum Cocok untuk Formula 1
pembalap di Sirkuit Mandalika (pexels.com/RaTio dWE)
  • Sirkuit Mandalika masih berlisensi FIA Grade 3 hingga 29 April 2028, sedangkan Formula 1 hanya menggelar balapan di sirkuit berstandar Grade 1.
  • Layout Mandalika memiliki satu lintasan lurus utama kurang dari 750 meter, tikungan cepat beruntun, serta area run-off tikungan ke-9 yang masih dikeluhkan pembalap.
  • Debu, panas, dan minimnya penggunaan lintasan memengaruhi konsistensi grip, sementara biaya hosting Formula 1 mencapai 20—60 juta dolar per musim di luar operasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sirkuit Mandalika sudah menjadi tuan rumah Grand Prix Indonesia sejak 2022 yang belum pernah terjadi di Formula 1. Daftar sirkuit berlisensi Federasi Otomotif Internasional (FIA) edisi 4 November 2026 mencatat, sirkuit di Lombok itu berada dalam Grade 3 dengan panjang 4,3 kilometer dan lebar 15 meter. Lisensi itu berlaku sampai 29 April 2028, sementara Formula 1 hanya berkompetisi di sirkuit Grade 1.

Sirkuit Mandalika memuat tikungan mengalir yang saling menyambung dan hanya satu lintasan lurus utama di garis start-finish. The Race menilai karakter tikungan itu menguntungkan motor bermesin empat silinder segaris dan membuat pembalap nyaris tidak mempunyai jeda sepanjang putaran. Namun, tata letak yang sama menyisakan sedikit ruang untuk mobil balap Formula 1 guna menyalip dalam kecepatan tinggi.

  1. 1. Lisensi Grade 3 menahan Sirkuit Mandalika dari kalender Formula 1

    Daftar sirkuit berlisensi FIA menempatkan Mandalika dalam Grade 3 dengan masa berlaku sampai 29 April 2028. Status itu tercatat bersama panjang 4,3 kilometer dan lebar 15 meter dalam pembaruan 4 November 2026. FIA mencantumkan Grade 1 sebagai kelas tertinggi dalam daftar yang sama.

    Formula 1 mensyaratkan sirkuit Grade 1 karena mobil balap bekerja dalam kecepatan dan beban downforce yang lebih tinggi dari mobil GT. Pemeriksaan Grade 1 mencakup geometri lintasan, area run-off, barrier, pagar pengaman, dan fasilitas medis permanen. Sirkuit Mandalika harus melewati seluruh pemeriksaan itu sebelum FIA menerbitkan lisensi terbaru.

    Kenaikan grade menuntut inspeksi ulang di tiap tikungan dan pembaruan fasilitas pendukung. Lisensi Grade 3 yang berlaku sampai 2028 memberi waktu untuk pengelola Sirkuit Mandalika guna membenahi area yang dinilai belum memenuhi standar mobil balap Formula 1. Lantas, status Grade 3 pada November 2026 menjadi penanda paling jelas bahwa sirkuit itu belum siap menggelar Formula 1.

  2. 2. Tata letak Sirkuit Mandalika menyisakan satu lintasan lurus pendek

    Sirkuit Mandalika membentang 4,31 kilometer dengan tikungan cepat yang saling menyambung hampir sepanjang putaran. Satu-satunya lintasan lurus utama berada di garis start-finish dengan panjang kurang dari 750 meter. Tata letak itu memaksa pembalap motor menjaga ritme karena hampir tidak ada jeda panjang di antara tikungan.

    Bagaimana pun, mobil balap Formula 1 membutuhkan lintasan lurus panjang untuk mengaktifkan sistem aerodinamika dan membangun kecepatan sebelum zona pengereman. The Race menilai Sirkuit Mandalika tidak menyediakan lintasan lurus yang cukup untuk mengejar keunggulan tenaga mesin. Lantas, mobil balap berpotensi tertahan di belakang rival selama sebagian besar balapan.

    Tikungan mengalir di sektor kedua dan ketiga membuat pembalap motor menghabiskan sebagian besar putaran dalam posisi miring. Namun, mobil balap Formula 1 melaju lebih cepat di tikungan dan membutuhkan ruang run-off yang lebih luas kalau terjadi kesalahan. Kombinasi lintasan lurus pendek dan tikungan cepat memperkuat alasan teknis untuk menunda wacana Formula 1 di Sirkuit Mandalika.

  3. 3. Beda tinggi gravel trap di tikungan ke-9 menyulitkan pembalap

    Fabio Quartararo terjatuh di tikungan ke-9 dalam sesi latihan bebas MotoGP Indonesia 2026 dan terlempar saat menyentuh gravel trap. Pembalap Yamaha itu menyebut, beda tinggi antara aspal run-off dan gravel sebagai bagian terburuk dari kecelakaannya. Enea Bastianini mengalami masalah serupa pada sesi yang sama.

    Kritik terhadap beda tinggi gravel trap muncul sejak kecelakaan Marc Marquez pada 2025. Motorsport.com mencatat masalah yang sama belum tuntas saat Quartararo terjatuh pada 2026. Pembalap Yamaha itu meminta gravel trap diletakkan setinggi aspal agar pembalap tidak terlempar.

    Area run-off di sirkuit Grade 1 dihitung per tikungan karena mobil balap melaju lebih cepat daripada motor. Beda tinggi yang masih dikeluhkan pembalap motor menunjukkan bahwa area run-off di Sirkuit Mandalika belum mencapai standar yang dituntut Formula 1. Lantas, insiden di tikungan ke-9 menjadi bukti teknis bahwa sirkuit itu masih dalam proses pembenahan.

    “Saya pikir, kami perlu menaruh gravel setidaknya setinggi aspal karena posisinya sedikit lebih tinggi,” kata Quartararo seperti dilansir Motorsport.com.

  4. 4. Debu dan panas menyisakan satu garis bersih di lintasan

    Sirkuit Mandalika berada di tepi pantai Lombok, sekitar 8 derajat di selatan garis khatulistiwa. Angin laut membawa garam dan pasir sehingga permukaan lintasan sangat berdebu saat MotoGP tiba. Pembalap menghabiskan hari pertama untuk membersihkan jalur balap sebelum bisa mencatat waktu kompetitif.

    Matahari memanaskan aspal sampai suhu ekstrem dan menyisakan satu garis bersih di lintasan. Kawasan resor yang direncanakan di sekitar Sirkuit Mandalika belum terwujud, termasuk hotel yang menjadi bagian proyek awal. Lokasi yang terpencil membuat sirkuit itu jarang dipakai sehingga debu kembali menumpuk sebelum balapan selanjutnya.

    Mobil balap Formula 1 bekerja dengan downforce besar dan ban lebar sehingga membutuhkan permukaan lintasan yang konsisten. Debu dan satu garis bersih menyulitkan tim menemukan grip dalam sesi latihan dan kualifikasi. Kondisi permukaan itu menjadi alasan tambahan bahwa Sirkuit Mandalika belum ideal untuk Formula 1.

  5. 5. Biaya hosting Formula 1 menembus puluhan juta dolar per musim

    Promotor Formula 1 membayar biaya hosting tahunan antara 20—60 juta dolar atau sekitar Rp362 miliar sampai Rp1,09 triliun. Nilai itu belum termasuk biaya keamanan, staf, perawatan lintasan, dan operasional balapan. Rata-rata biaya hosting mencapai 30 juta dolar atau sekitar Rp543 miliar per musim.

    Biaya hosting naik sekitar 5 persen tiap tahun dalam banyak kontrak Formula 1. Sejumlah promotor merugi pada tahun-tahun awal karena pendapatan tiket dan sponsor tidak menutup biaya. India dan Korea menghentikan balapan setelah mencatat kerugian puluhan juta dolar.

    Formula 1 sering bergantung pada dukungan pemerintah karena pendapatan tiket jarang menutup biaya hosting. Bahkan, sejumlah Grand Prix mendapatkan subsidi dari pemerintah kota atau negara. Lantas, Sirkuit Mandalika membutuhkan komitmen anggaran jangka panjang sebelum memasuki kalender Formula 1.

    Grade 3, lintasan lurus yang pendek, gravel trap yang belum rata, debu, dan biaya hosting puluhan juta dolar membentuk satu kesimpulan yang sama. Sirkuit Mandalika memang sudah layak menjadi rumah bagi MotoGP. Namun, standar Formula 1 menuntut perubahan dalam banyak konsep sekaligus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More