4 Bintang Los Angeles Lakers yang Tak Disangka Pernah Main di Eropa

- Empat legenda Los Angeles Lakers—Magic Johnson, Dennis Rodman, Ron Artest, dan Lamar Odom—pernah mencicipi pengalaman bermain di klub Eropa pada berbagai fase karier mereka.
- Motivasi mereka beragam, mulai dari proyek pribadi, efek lockout NBA, hingga keinginan mencari pengalaman baru setelah masa kejayaan di liga Amerika Serikat.
- Kisah singkat para bintang ini menunjukkan bahwa perjalanan karier pemain basket bisa melampaui NBA dan memperlihatkan sisi global serta manusiawi dari olahraga tersebut.
Fans NBA, terutama generasi milenial dan gen z, tidak jarang menganggap Eropa sebagai jalur masuk bagi pemain yang belum siap bersaing di liga terbaik dunia. Padahal, realitasnya jauh lebih unik. Bahkan, beberapa nama besar yang pernah bersinar bersama Los Angeles Lakers sempat mencicipi atmosfer basket Benua Biru.
Ada yang datang karena alasan finansial, ada yang datang karena lockout NBA. Ada juga yang sekadar mencari pengalaman baru jauh dari rumah. Menariknya, momen singkat di Eropa itu sering terlupakan karena karier mereka di NBA terlalu besar untuk dilupakan.
1. Magic Johnson merantau ke Swedia untuk membela timnya
Nama Magic Johnson identik dengan era kejayaan Los Angeles Lakers pada 1980-an. Dia adalah ikon Showtime Lakers sekaligus playmaker genius yang membawa timnya meraih lima gelar juara NBA. Tidak heran kalau banyak orang kaget saat mengetahui pemain bernama asli Earvin Johnson Jr itu pernah bermain di Eropa.
Hal itu terjadi pada 1999 saat sang pemain sudah lama pensiun dari NBA. Dia membuat keputusan yang cukup mengejutkan dengan bergabung bersama tim Swedia, Magic M7 Boras. Tim tersebut kebetulan dimiliki olehnya sendiri. Jadi, ini semacam proyek pribadi sekaligus petualangan basket yang unik.
Magic Johnson hanya bermain dalam beberapa pertandingan, tetapi kehadirannya langsung menjadi magnet besar bagi basket Swedia. Arena selalu penuh, media ramai meliput, dan fans lokal mendapatkan kesempatan langka. Mereka bisa melihat legenda NBA bermain langsung di liga mereka. Meski sebentar, pengalaman itu menunjukkan, legenda sebesar dirinya masih punya rasa penasaran untuk menjajal basket di tempat yang tidak terduga.
2. Dennis Rodman terbang ke Inggris dan bermain di Brighton
Dennis Rodman dikenal sebagai salah satu rebounder paling brutal dalam sejarah NBA. Rambut warna-warni dan kepribadian eksentrik sekalgius gaya bermain tanpa komprominya membuatnya menjadi figur yang tidak pernah membosankan. Sebagian fans Los Angeles Lakers mungkin lupa bahwa Rodman juga sempat menjadi bagian dari tim tersebut pada akhir kariernya di NBA pada 1999.
Setelah masa-masa kejayaannya bersama Chicago Bulls, Rodman berkelana ke berbagai liga di luar Amerika Serikat. Salah satu petualangannya terjadi di Inggris pada 2006. Dia saat itu bergabung bersama Brighton Bears.
Rodman sebenarnya sudah berusia lebih dari 40 tahun saat itu. Namun, kehadirannya langsung mengangkat popularitas liga basket Inggris, yang saat itu tidak terlalu mendapat sorotan global. Rodman bahkan tetap menunjukkan karisma yang sama meski masa bermainnya di Inggris singkat. Dia energik, penuh drama, dan selalu menarik perhatian.
3. Ron Artest menerima pinangan tim Yunani karena lockout NBA
Ron Artest, yang juga dikenal sebagai Metta Sandiford-Artest (dahulunya Metta World Peace), adalah salah satu pemain paling kompleks dalam sejarah NBA. Dia bisa menjadi defender elite, scorer solid, sekaligus sosok kontroversial. Di Los Angeles Lakers, Artest menjadi bagian penting dari tim juara NBA 2010.
Jauh sebelum itu, dia sendiri sempat merasakan atmosfer basket Eropa. Hal itu terjadi saat lockout NBA 2011. Ada banyak pemain NBA memilih bermain di liga luar negeri sambil menunggu liga dalam negeri kembali berjalan.
Ron Artest memutuskan bergabung dengan tim Yunani, Kavala BC. Sebentar saja di sana, pengalaman tersebut memberinya perspektif berbeda tentang basket internasional. Permainan di Eropa terkenal lebih taktis dan kolektif dibanding NBA. Bagi Artest yang terbiasa dengan gaya fisik dan atletis NBA, adaptasi tersebut menjadi pengalaman yang cukup menarik.
4. Lamar Odom sebentar di Spanyol sebelum pensiun
Lamar Odom salah satu pemain paling unik yang pernah dimiliki Los Angeles Lakers. Dengan tinggi hampir 2,10 meter, kemampuan ball-handling-nya seperti guard. Odom sering membuat matchup lawan menjadi mimpi buruk.
Setelah meninggalkan NBA, perjalanan karier sang pemain tidak langsung berakhir. Pada 2014, dia sempat mencoba kembali bermain secara profesional di Spanyol bersama Laboral Kutxa Baskonia. Langkah itu dianggap cukup mengejutkan karena Odom sudah lama tidak bermain di level kompetitif. Banyak fans penasaran apakah dia masih mampu menunjukkan sentuhan lamanya.
Sayangnya, masa bermain Odom di Spanyol tidak berlangsung lama. Meski begitu, pengalaman tersebut tetap menjadi catatan menarik dalam perjalanan kariernya. Seorang mantan Sixth Man of the Year NBA mencoba bangkit lewat basket Eropa.
Basket adalah olahraga global dan jalur karier seorang pemain sering kali tidak sesederhana yang terlihat di highlight YouTube. Bahkan, bintang sebesar Magic Johnson, Dennis Rodman, Ron Artest, dan Lamar Odom pernah merasakan kerasnya kompetisi di Eropa. Kisah-kisah ini mengingatkan bahwa dunia basket jauh lebih luas dari sekadar NBA.
Di balik gemerlap Staples Center dan sorotan Hollywood, ada cerita-cerita unik dari liga lain. Mereka ikut membentuk perjalanan para pemain besar. Terkadang, cerita-cerita kecil itulah yang membuat sejarah olahraga terasa lebih manusiawi.


















