Mengapa Norwegia Begitu Digdaya di Olimpiade Musim Dingin?

Olimpiade Musim Dingin 2026 yang berlangsung di Milano-Cortina, Italia, baru saja usai pada Minggu (22/2/2026). Norwegia sekali lagi mengukuhkan dominasinya di panggung olahraga salju. Mereka pulang berkalungkan 41 medali yang terdiri dari 18 emas, 12 perak, dan 11 perunggu. Atas hasil itu, mereka keluar sebagai juara umum dan mencatatkan beberapa rekor baru.
Kedigdayaan Norwegia di Olimpiade Musim Dingin sudah menjadi pemandangan yang berulang dalam beberapa edisi terakhir. Negara Skandinavia itu tak tergoyahkan di puncak klasemen dalam beberapa edisi terakhir. Lantas, apa sebenarnya yang membuat Norwegia begitu perkasa di Olimpiade Musim Dingin?
1. Norwegia selalu memecahkan rekor pada tiga edisi terakhir Olimpiade Musim Dingin
Rekam jejak Norwegia di Olimpiade Musim Dingin begitu mengesankan. Dalam tiga edisi terakhir saja mereka salalu keluar sebagai juara umum. Tidak cukup sampai di situ, pada tiga edisi tersebut mereka juga selalu memecahkan rekor baru.
Di Olimpiade Musim Dingin 2018 Pyeongchang, Norwegia keluar sebagai juara umum dengan menggondol 39 medali yang terdiri dari 14 emas, 14 perak, dan 11 perunggu. Jumlah medali mereka saat itu mencatatkan rekor baru sebagai negara dengan jumlah medali terbanyak dalam satu edisi Olimpiade. Tidak hanya itu, emas yang mereka raih juga menyamai rekor Kanada di Olimpiade Musim Dingin 2010 Vancouver sebagai negara dengan emas terbanyak dalam satu edisi.
Rekor baru kembali ditorehkan Norwegia di Olimpiade Musim Dingin 2022 Beijing. Mereka memecahkan rekor sebagai negara yang menyabet emas terbanyak dalam satu edisi Olimpiade Musim Dingin dengan 16 emas, 8 perak, dan 13 perunggu. Itu mengalahkan rekor Kanada pada 2010 dan rekor mereka sendiri pada 2018.
Empat tahun berselang, di Olimpiade Musim Dingin 2026 Milano-Cortina, Norwegia membukukan rekor baru. Mereka memecahkan rekor mereka sendiri pada 2018 dengan meraup total 41 medali. Emas mereka yang berjumlah 18 turut memecahkan rekor mereka lainnya pada 2022.
2. Kondisi alam dan budaya Norwegia mendukung
Banyak yang menyebut keberhasilan Norwegia di Olimpiade Musim Dingin tidak lepas dari kondisi alamnya. Terletak di kawasan Nordik, Norwegia memang mempunyai bentang alam yang mendukung untuk olahraga musim dingin. Pegunungan dari banyaknya pulau dengan iklim dinginnya menjadi padu padan sempurna yang membuat Norwegia lebih mudah mengembangkan olahraga musim dingin.
Kondisi geografis yang ada melahirkan budaya yang mengakar kuat di masyarataknya. Mengutip laman University of Tromsø, budaya bermain ski di Norwegia lahir sejak 4.000 hingga 8.000 tahun yang lalu. Salah satu suku yang mendalami daerah di sana, yakni suku Sami, disebut sebagai yang pertama menggunakan papan dan tongkat ski. Mereka melibatkan ski dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari berburu, menggembala, hingga moda transportasi.
Sejarah panjang itu kemudian membentuk identitas nasional yang lekat dengan aktivitas musim dingin di Norwegia. Tradisi itu mengakar kuat dan membuat masyarakat Norwegia tumbuh dengan keterampilan dasar menghadapi medan bersalju sejak usia dini. Maka dari itu, tidak heran jika ada sebutan bahwa orang Norwegia lahir dengan sepatu ski di kakinya.
3. Pembinaan yang menekankan pada 'kebahagiaan' juga mempunyai peran besar
Kondisi alam dan budaya yang medukung tentu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembinaan yang memadai. Di sinilah rahasia sesungguhnya dari kedigdayaan Norwegia di Olimpiade Musim Dingin. Mereka mempunyai pembinaan yang rapi dan terstruktur dari level akar rumput.
Salah satu prinsip utama yang dipegang adalah menempatkan generasi muda di bidang olahraga dengan bahagia tanpa adanya tekanan. Mengutip CNN, 93 persen penduduk Norwegia pada usia 25 tahun telah terlibat dalam berbagai olahraga yang terstruktur. Angka tersebut sudah cukup untuk menunjukkan betapa luasnya partisipasi olahraga di Norwegia.
Rahasia tingginya pertisipasi itu adalah sistem yang dibangun tanpa adanya tekanan. CNN melaporkan bahwa hingga usia 12 tahun, anak-anak di Norwegia tidak diperbolehkan menghitung skor dalam pertandingan resmi, bahkan tidak ada klasemen liga di level tersebut. Artinya, fokus utama bukanlah menang atau kalah, melainkan pengalaman bermain itu sendiri untuk mengeksplorasi berbagai cabang olahraga.
Hal itu juga ditegaskan langsung oleh Manajer Tim Olimpiade Norwegia, Tore Ovreboe, dalam laporan Reuters. Ia membeberkan bahwa konsistensi negaranya di Olimpiade Musim Dingin lahir dari budaya panjang yang mengutamakan kebahagiaan anak-anak dan akses olahraga yang merata. Ia juga menyebutkan bahwa sistem yang kolaboratif ini sudah terbangun sejak 1988 dengan kerja sama yang baik dari berbagai pihak.
Pendekatan tersebut bukan berarti tanpa arah. Mengutip NBC Olympics, setelah memasuki usia 13 tahun, barulah proses identifikasi bakat dilakukan secara lebih sistematis. Atlet yang dinilai memiliki potensi kemudian mendapatkan pembinaan lebih intensif, dukungan fasilitas, serta investasi pengembangan jangka panjang.
Kesuksesan Norwegia di Olimpiade Musim Dingin bukanlah hasil instan. Prestasi membanggakan ini merupakan hasil dari sistem terstruktur yang tidak mereka bangun dalam semalam. Menarik menantikan kiprah Norwegia di Olimpiade Musim Dingin yang akan datang. Akankah penampilan mereka semakin garang atau justru dominasinya terpatahkan?


















