Nirgelar di 2026, Paceklik Indonesia di Kejuaraan Dunia Berlanjut

- Indonesia masih memperpanjang puasa gelar juara dunia bulu tangkis sejak 2019.
- Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah meraih perunggu setelah terhenti di semifinal Kejuaraan Dunia 2026.
- Medali Indonesia tetap hadir dalam beberapa edisi, meski belum kembali berupa emas.
Jakarta, IDN Times - Paceklik medali emas Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis tak juga berakhir. Ganda campuran, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, menjadi penyelamat wajah Merah Putih di edisi 2026 dengan meraih medali perunggu.
Amri/Nita terhenti di semifinal Kejuaraan Dunia 2026 usai kalah dari pasangan nomor satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, dengan skor 22-20, 14-20, 20-22 di Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India.
Ini menjadi capaian terbaik skuad Garuda di ajang bergengsi tersebut musim ini. Selain itu, hasil ini memastikan Indonesia masih memperpanjang puasa gelar juara dunia sejak 2019.
1. Sudah tujuh tahun menanti gelar Kejuaraan Dunia

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dalam acara perpisahan bertajuk Tribute to The Daddies di Istora Senayan Jakarta (IDN Times/Fauzan) Tim bulu tangkis Indonesia masih menanti gelar dari Kejuaraan Dunia. Terakhir kali Indonesia berdiri di podium tertinggi ajang bergengsi tersebut adalah pada edisi 2019.
Kala itu, ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan keluar sebagai juara dalam turnamen yang berlangsung di Basel, Swiss. Hendra/Ahsan kala itu menang atas pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, dengan skor 25-23, 9-21, 21-15.
2. Tren medali tetap terjaga

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah di podium ganda campuran Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 (Instagram.com/badminton.ina) Meski tak berhasil meraih gelar, Pasukan Garuda masih terus konsisten mempersembahkan medali untuk Indonesia. Pada edisi 2021, Indonesia tidak tampil pada Kejuaraan Dunia yang berlangsung di Huelva, Spanyol. PBSI menarik seluruh wakil Merah Putih karena pertimbangan keamanan dan keselamatan di tengah penyebaran varian Omicron COVID-19.
Pada 2022 di Tokyo, Ahsan/Hendra kembali membukukan hasil terbaik untuk Indonesia dengan menembus partai final. Namun, Hendra/Ahsan harus puas finis sebagai runner-up setelah kalah dari pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.
Bergeser pada edisi 2023, capaian terbaik Indonesia lagi-lagi berupa runner-up. Kali ini dari ganda putri, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, yang kalah dari wakil China, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, dengan skor 16-21, 12-21.
Edisi selanjutnya digelar setahun setelah Olimpiade 2024, Paris. Kejatuhan prestasi Indonesia dimulai. Kala itu, capaian terbaik skuad Garuda juga berupa peringkat tiga bersama yang diraih Putri Kusuma Wardani usai kalah di semifinal dari unggulan Jepang, Akane Yamaguchi, dengan skor 17-21, 21-14, 6-21.
3. Amri/Nita, tak diunggulkan tapi jadi penyelamat

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026 (Instagram.com/badminton.ina) Amri/Nita sejatinya tampil menjanjikan pada debut di Kejuaraan Dunia. Datang tanpa status unggulan, pasangan tersebut justru mampu menyingkirkan sejumlah pasangan unggulan dalam perjalanan menuju semifinal. Bagi Amri/Nita, medali perunggu ini menjadi bukti bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan untuk bersaing di panggung dunia.
"Medali perunggu ini untuk Indonesia dan untuk semua yang sudah selalu percaya kalau kami masih bisa bersaing. Untuk keluarga dan pelatih juga," kata Nita.
Amri/Nita menggunakan momentum ini untuk menyemangati skuad ganda campuran Indonesia. Di tengah peliknya bongkar-pasang tandem main, pergantian pelatih, hingga isu pelanggaran integritas yang menyeret nama beberapa atlet, skuad ganda campuran Merah Putih harus kembali merangkak membangun prestasi dari awal.
"Semoga hasil ini memotivasi tim ganda campuran yang mulai dari nol lagi. Ayo bareng-bareng, teman-teman, para pelatih, adik-adik, kita kerja keras lagi, kita coba lagi semaksimal mungkin," kata Amri.





















