Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Profil Eileen Gu, Bintang Ski Putri di Olimpiade Musim Dingin 2026

Profil Eileen Gu, Bintang Ski Putri di Olimpiade Musim Dingin 2026
potret Eileen Gu (Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0/Martin Rulsch)
Intinya Sih
  • Eileen Gu menorehkan sejarah di Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan total enam medali, menjadikannya atlet ski gaya bebas paling berprestasi sepanjang masa.
  • Selain di arena olahraga, ia sukses sebagai mahasiswi Stanford dan model internasional, meraih pendapatan tinggi dari berbagai kerja sama merek global.
  • Keputusannya membela Tiongkok memicu kontroversi identitas dan tekanan publik, namun ia tetap konsisten menginspirasi generasi muda melalui prestasi dan pengaruh lintas budaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sorotan global tertuju kepada Eileen Gu saat tampil gemilang di Olimpiade Musim Dingin 2026. Ia memasuki arena bukan hanya sebagai atlet berprestasi, melainkan juga sebagai figur dengan pencapaian luar biasa di luar olahraga dan perdebatan identitas lintas negara. Tiap aksinya di halfpipe menghadirkan lebih dari sekadar nilai teknis, karena publik membaca makna politik dan budaya di balik lompatannya.

Ia tidak semata-mata mengejar podium, tetapi juga terus merangkai kisah tentang posisinya di antara Amerika Serikat dan China. Penonton memandangnya sebagai atlet elite sekaligus representasi generasi global yang melampaui batas kewarganegaraan konvensional. Pada usia 22 tahun, ia telah berkembang menjadi sosok yang pengaruhnya meluas jauh di luar dunia ski.

1. Eileen Gu raih medali emas pertamanya di Olimpiade Musim Dingin pada usia 18 tahun

Eileen Feng Gu atau Gu Ailing lahir di San Francisco, Amerika Serikat, pada 3 September 2003 dari ibu asal China dan ayah berkewarganegaraan AS. Ia mulai bermain ski pada usia dini di kawasan Lake Tahoe, California, dan bergabung dengan tim Northstar California Resort ketika masih anak-anak. Pada fase awal kariernya, ia mewakili AS sebelum memutuskan membela China pada 2019 saat berusia 15 tahun.

Ia mencatat pencapaian penting di level junior ketika memenangi ajang internasional dan tampil impresif di panggung besar. Pada 2021, ia meraih 2 emas dan 1 perunggu di X Games sebagai debutan serta meraih 2 emas dan 1 perunggu di Kejuaraan Dunia International Ski and Snowboard Federation (FIS). Ia juga mencatat sejarah sebagai atlet ski gaya bebas pertama yang meraih 2 emas dalam 1 edisi Kejuaraan Dunia.

Di Olimpiade, namanya melesat tajam. Pada Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, ia meraih 2 medali emas di nomor halfpipe dan big air serta 1 medali perak di slopestyle. Ia menjadi atlet ski gaya bebas termuda yang meraih emas Olimpiade pada usia 18 tahun dan menjadi atlet ski gaya bebas pertama yang meraih 3 medali dalam 1 edisi Olimpiade Musim Dingin.

Empat tahun kemudian, ia kembali membuktikan konsistensi di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026. Ia mengoleksi 1 emas di halfpipe dan 2 perak di slopestyle serta big air, sehingga total koleksinya mencapai 6 medali Olimpiade, yakni 3 emas dan 3 perak. Catatan itu menjadikannya atlet gaya bebas paling berprestasi dalam sejarah Olimpiade, baik putra maupun putri.

Selain itu, Gu mencatat 20 kemenangan World Cup hingga Januari 2026, termasuk kemenangan ke-20 di Laax, Swiss. Ia tampil konsisten di tiga disiplin sekaligus, yakni halfpipe, slopestyle, dan big air, meski jadwal kompetisi sering kali merugikan atlet multidisiplin. Ia bahkan secara terbuka mengkritik federasi karena penjadwalan yang membuatnya kehilangan waktu latihan halfpipe akibat benturan dengan final big air.

Walaupun telah meraih berbagai prestasi mentereng, Gu memandang medali sebagai ukuran progres, bukan tujuan akhir. Ia menyebut dirinya sebagai orang dengan mentalitas pembuktian yang percaya pada hasil nyata lewat kerja keras, bukan afirmasi kosong. Ia bertaruh kepada dirinya sendiri dengan tetap turun di tiga nomor sekaligus pada 2026, meski risiko cedera dan kelelahan mengintai.

2. Tak hanya bersinar di ski gaya bebas, Eileen Gu juga sukses di luar arena olahraga

Eileen Gu membangun identitasnya tidak hanya di atas salju, tetapi juga di ruang akademik dan panggung mode. Ia merupakan mahasiswi di Stanford University dan mengambil jurusan Hubungan Internasional. Ia juga mengikuti program akademik di Oxford University sambil menyeimbangkan jadwal latihan dan kompetisi tingkat internasional.

Ia bergabung dengan IMG Models yang diisi nama-nama tenar, seperti Gigi Hadid, Hailey Bieber, dan Kate Moss, dan menjelma sebagai figur tetap di Milan serta Paris Fashion Week. Ia berjalan di runway dan tampil di berbagai sampul majalah, termasuk Vogue dan Time. Ia memandang fesyen sebagai medium untuk mengekspresikan feminitas dan kekuatan dalam olahraga yang lama didominasi laki-laki.

Ia menjalin kemitraan dengan sejumlah merek global, seperti Louis Vuitton, Victoria's Secret, Porsche, Red Bull, Anta Sports, dan TCL Electronics. Ia memanfaatkan latar belakang AS-China sebagai jembatan dua pasar terbesar dunia. Ia mengelola citra sebagai atlet global yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin.

Menurut laporan Forbes pada 2025–2026, ia meraup sekitar 23,1 juta dolar AS (Rp386,9 miliar) per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 100 ribu dolar AS (Rp1,6 miliar) yang berasal langsung dari ski, sedangkan sisanya datang dari endorsement dan kerja sama komersial. Ia menempati jajaran atlet perempuan dengan bayaran tertinggi di dunia, bahkan menjadi atlet dengan bayaran tertinggi di Olimpiade Musim Dingin 2026.

Fenomena Gu memperlihatkan lahirnya atlet multidimensional. Ia memadukan olahraga, akademik, dan industri hiburan dalam satu narasi personal. Ia menunjukkan, olahraga dapat menjadi platform, bukan batas bagi pengaruh global. Ia menjadikan kepiawaian di papan seluncur untuk membangun persona perempuan modern yang menekankan keberagaman identitas dan integritas proses.

3. Keputusannya membela China membuat Eileen Gu tak lepas dari sorotan dan tekanan berbagai pihak

Walaupun dikenal sebagai atlet berprestasi, Eileen Gu tak serta merta bebas dari kontroversi. Keputusannya pada 2019 untuk membela China memicu perdebatan luas bagi publik AS. Sejumlah figur publik, termasuk politisi Tucker Carlson, mengkritik pilihannya dan menyebutnya tidak patriotik. Di sisi lain, sebagian warganet China juga menuduhnya bermuka dua dan mempertanyakan komitmennya.

Laporan Wall Street Journal menyebut, otoritas olahraga Beijing membayar Gu dan atlet lain sebesar 6,6 juta dolar AS (Rp110,5 miliar) pada 2025 serta 14 juta dolar AS (Rp234,5 miliar) dalam 3 tahun terakhir. Perwakilannya tidak memberikan komentar atas laporan tersebut. Fakta ini memperkuat persepsi jika keputusannya turut membawa konsekuensi finansial yang signifikan.

Gu juga menghadapi tekanan personal. Ia mengaku menerima ancaman, mengalami intimidasi di kampus, bahkan menghadapi insiden yang melibatkan aparat keamanan kampus. Ditambah lagi, ia menyebut dirinya kerap memikul beban identitas dua negara di pundaknya tiap kali tampil berkompetisi.

Di balik kontroversinya, Gu tetap menyuarakan misi untuk menginspirasi lebih banyak anak perempuan China agar mencoba olahraga musim dingin. Ia mengutip data pemerintah China yang menyebut ratusan juta orang mulai mengenal olahraga es dan salju sejak 2022. Ia menilai dampak sosial jangka panjang lebih penting daripada popularitas sesaat.

Gu berdiri sebagai simbol generasi z yang menolak dikotomi identitas. Ia memadukan nasionalisme, kosmopolitanisme, dan kalkulasi profesional dalam satu keputusan strategis. Publik boleh bertanya apakah ia oportunis secara komersial atau visioner lintas budaya, tetapi rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan narasi yang ia pilih.

Eileen Gu membangun karier dengan memadukan keberanian teknis dan keteguhan personal. Ia tidak hanya melompat lebih tinggi dari pesaingnya, tetapi juga melampaui batas tradisional tentang apa arti menjadi seorang atlet pada era global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More