Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rekam Jejak Per Mertesacker Kembangkan Akademi Arsenal

Bagian depan Emirates Stadium
potret bagian depan Emirates Stadium (unsplash.com/Nelson Ndongala)
Intinya sih...
  • Per Mertesacker menanamkan empat pilar utama dalam membangun akademi Arsenal
  • Akademi Arsenal era Per Mertesacker menghasilkan kualitas sekaligus pendapatan
  • Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe contoh sukses generasi awal Hale End
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Per Mertesacker bukan sosok yang berdiri di pinggir lapangan sambil berteriak memberi arahan atau muncul di media, tetapi jejaknya justru terasa sangat dalam bagi Arsenal saat ini. Sejak pensiun sebagai pemain pada 2018, ia mengambil peran strategis sebagai manajer akademi di Hale End, posisi yang jarang mendapat sorotan publik. Dalam senyap, Mertesacker membangun fondasi jangka panjang yang kini menopang stabilitas teknis, kultural, dan finansial The Gunners.

Namun, pria asal Jerman ini memutuskan mundur dari jabatannya pada akhir 2025/2026, yang menandai akhir dari sebuah periode penting dalam sejarah Arsenal. Selama 8 tahun memimpin akademi, ia bukan hanya menghasilkan pemain siap pakai, melainkan juga membentuk sistem dan nilai yang terintegrasi dengan arah tim utama. Dampak dari perannya kini mulai terlihat, seiring Arsenal perlahan dihadapkan pada pertanyaan besar mengenai kesinambungan warisan yang ia bangun.

1. Per Mertesacker menanamkan empat pilar utama dalam membangun akademi Arsenal

Sejak ditunjuk sebagai manajer akademi pada 2018, Per Mertesacker langsung memosisikan Hale End sebagai proyek jangka panjang, bukan sekadar jalur cepat menuju tim utama. Ia dikenal sebagai manajer akademi yang aktif mengawal proses dari awal hingga akhir, sesuatu jarang dilakukan figur selevel mantan juara dunia, termasuk hadir langsung dalam proses perekrutan pemain usia sangat dini. Dilansir The Athletic, ia bahkan kerap menjadi sosok yang berbicara langsung kepada orangtua calon pemain di level U-8 dan U-9.

Dalam komunikasi tersebut, Mertesacker menolak menjual mimpi secara berlebihan. Ia secara konsisten menekankan hanya sekitar 1 persen pemain akademi yang akan mencapai level profesional tertinggi. Pendekatan realistis ini mencerminkan visinya jika akademi bukan sekadar mesin ambisi, melainkan ruang pembelajaran yang jujur dan bertanggung jawab.

Fondasi ideologis Hale End kemudian dirumuskan dalam proyek “Strong Young Gunners”. Konsep ini berdiri di atas empat pilar utama: champion mentality, lifelong learner, effective team player, dan effective mover. Keempatnya menjadi kerangka kerja yang menuntun seluruh proses pembinaan, dari latihan teknis hingga pembentukan sikap di luar lapangan.

Champion mentality diterjemahkan sebagai kemampuan bersaing dan bertanggung jawab dalam berbagai situasi, baik saat unggul maupun tertekan. Lifelong learner menekankan kesiapan pemain untuk terus menyerap pengetahuan baru, termasuk pendidikan formal yang tetap dijaga serius oleh akademi. Sementara Effective team player dan effective mover melengkapi gambaran pemain modern yang paham situasi kolektif serta mampu beradaptasi secara fisik dan taktis.

Melalui pendekatan ini, Mertesacker menempatkan akademi sebagai ruang pembentukan manusia sebelum pembentukan pesepak bola. Nilai-nilai seperti respek, disiplin, dan kerendahan hati menjadi dasar yang konsisten digaungkan. Filosofi tersebut selaras dengan identitas historis Arsenal yang sejak era Arsene Wenger menempatkan pengembangan pemain sebagai bagian dari DNA klub.

2. Akademi Arsenal era Per Mertesacker menghasilkan kualitas sekaligus pendapatan

Keberhasilan sebuah akademi kerap diukur dari jumlah pemain yang menembus tim utama, dan dalam konteks ini, era Per Mertesacker memberikan bukti konkret. Bukayo Saka dan Emile Smith Rowe menjadi contoh paling menonjol dari generasi awal Hale End di bawah kepemimpinannya. Keduanya berkembang menjadi pemain inti Arsenal hingga mencapai level internasional.

Gelombang berikutnya datang melalui nama-nama seperti Ethan Nwaneri, Myles Lewis-Skelly, Max Dowman, dan Marli Salmon. Mereka bukan produk instan, melainkan hasil proses hampir 1 dekade sejak direkrut pada usia sangat muda. Debut Nwaneri dan Lewis-Skelly bersama tim utama menunjukkan kesinambungan sistem yang dirancang sejak fase usia dini.

Integrasi pemain-pemain ini ke tim utama tidak terjadi secara seragam. Mertesacker dan staf akademi menekankan fleksibilitas posisi sebagai bagian dari pengembangan, dengan banyak pemain diuji di berbagai peran sebelum menemukan posisi ideal. Lewis-Skelly, misalnya, dikembangkan sebagai gelandang sebelum diuji sebagai full-back di level lebih tinggi.

Kesiapan mental juga menjadi aspek krusial dalam proses transisi. Mertesacker secara terbuka menekankan pentingnya manajemen emosi setelah debut, ketika pemain muda harus kembali ke level usia mereka dan menghadapi potensi kesalahan. Pendekatan ini membantu pemain memahami, pengalaman di tim utama bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar yang berkelanjutan.

Dampak akademi terhadap Arsenal tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga finansial. Kehadiran lulusan Hale End menghemat ratusan juta pound sterling potensial dalam belanja transfer, sekaligus memberi fleksibilitas dalam perencanaan skuad. Selain pemain yang bertahan, penjualan nama-nama seperti Joe Willock, Folarin Balogun, Emile Smith Rowe, dan Eddie Nketiah turut menghasilkan pemasukan signifikan.

Dalam era regulasi keuangan yang makin ketat, kontribusi akademi menjadi penopang daya saing Arsenal. Tim utama dapat berkembang tanpa ketergantungan penuh pada pasar transfer, sementara identitas klub tetap terjaga. Dalam hal inilah peran Mertesacker melampaui fungsi administratif dan menyentuh inti strategi klub.

3. Akademi Arsenal akan dihadapkan fase transisi besar usai kepergian Per Mertesacker

Keputusan Per Mertesacker untuk meninggalkan jabatannya pada akhir musim 2025/2026 menciptakan kekosongan yang tidak mudah diisi. Ia bukan hanya manajer akademi, melainkan juga penjaga nilai dan penghubung budaya antara Hale End dan London Colney. Selama 8 tahun, ia menjadi figur konstan di tengah perubahan struktur manajemen Arsenal.

Kepergiannya juga mencerminkan dinamika internal klub yang terus berevolusi. Arsenal dalam beberapa tahun terakhir meninjau ulang operasional akademi, termasuk kebutuhan akan ide baru dan peningkatan agresivitas rekrutmen. Struktur teknis yang berubah dan keterbatasan anggaran turut memengaruhi ruang gerak Mertesacker dalam beberapa aspek.

Di sisi lain, kepergian ini membuka peluang pembaruan. Arsenal kini menghadapi tantangan untuk mengoptimalkan jalur peminjaman, meningkatkan nilai jual pemain akademi, dan bersaing lebih agresif dalam perekrutan domestik pasca-Brexit. Tantangan tersebut menuntut kepemimpinan baru tanpa menghilangkan fondasi yang sudah ada.

Warisan Mertesacker terletak pada sistem yang ia tinggalkan. Hale End kini beroperasi dengan kerangka nilai yang jelas, jalur pengembangan yang terstruktur, dan identitas yang terintegrasi dengan tim utama. Pemain-pemain yang telah dan akan muncul membawa kualitas teknis sekaligus karakter yang dibentuk dalam proses panjang tersebut.

Per Mertesacker mungkin tidak lagi hadir di Hale End, tetapi jejaknya tetap hidup dalam sistem dan nilai yang ia tanamkan. Arsenal ke depan akan bergerak dengan wajah baru, tetapi fondasi yang ia bangun memastikan arah itu tidak kehilangan identitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Sport

See More

5 Pembalap Tim Satelit Jadi Runner-up Kejuaraan MotoGP, Alex Terbaru

17 Jan 2026, 06:22 WIBSport