Sejarah Kelam 1977 Hantui Tottenham Hotspur

- Tottenham Hotspur terpuruk di posisi 16 klasemen Premier League setelah kalah 1-3 dari Crystal Palace, hanya terpaut satu poin dari zona degradasi.
- Micky Stead, saksi degradasi Spurs tahun 1977, memperingatkan tekanan mental pemain bisa menghancurkan performa tim jika situasi genting tak segera diatasi.
- Stead menilai kepergian Harry Kane ke Bayern Munich menjadi titik balik kemunduran klub, menyoroti lemahnya visi manajemen meski fasilitas sudah modern.
Jakarta, IDN Times - Tottenham Hotspur sedang berada dalam situasi genting usai kekalahan memalukan 1-3 dari Crystal Palace, Kamis (5/3/2026). Klub London Utara itu kini terancam mengulangi sejarah kelam 49 tahun silam, yakni terdegradasi dari kasta tertinggi.
Spurs saat ini terjebak di posisi 16 klasemen sementara, akibat baru mengoleksi 29 poin. Mereka hanya terpaut satu angka dari West Ham United yang berada di urutan 18, alias zona degradasi.
Situasi mencekam ini memantik komentar Micky Stead, mantan pemain yang menjadi saksi hidup saat Spurs turun kasta pada musim 1976/77. Stead memberikan peringatan keras kepada The Lilywhites, betapa menyakitkannya terdegradasi.
1. Rasanya mual dan bikin sakit perut
Stead, yang kini berusia 69 tahun dan menjadi sopir taksi, menggambarkan degradasi sebagai pukulan telak yang mengubah perasaannya secara fisik dan mental di atas lapangan. Dia mengaku dihantui rasa bersalah, yang membuat perutnya terasa mual.
Tekanan mental semacam ini dinilai mengancam kepercayaan diri pemain muda, bahkan bintang sekalipun. Sekali mental pemain terganggu oleh tekanan degradasi, performa mereka diyakini tidak akan sama lagi.
"Anda merasa mual di perut. Saya beritahu, jika membuat kesalahan, Anda benar-benar sakit," kenang Stead, dikutip dari Football London.
2. Punya bintang besar bukan jaminan selamat
Berkaca pada pengalaman pahit 1977, Stead mengingatkan memiliki pemain besar di skuad bukan jaminan tim akan selamat dari ancaman turun kasta. Kala itu, Spurs diperkuat legenda seperti Glenn Hoddle dan Pat Jennings, namun tetap finis di posisi juru kunci.
Stead merasa timnya saat itu sebenarnya memiliki cukup pengalaman dan tidak pantas untuk terdegradasi ke divisi dua. Namun, ketika tim sedang dalam tren negatif, keberuntungan sering kali menjauh dan momentum seolah berjalan melawan mereka.
"Saya mungkin memang tidak cukup bagus untuk bermain di Spurs saat itu. Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk tim. Sebenarnya, kami punya cukup banyak pemain berpengalaman di tim, dan menurut saya seharusnya tidak terdegradasi," ujar Stead.
3. Kepergian Harry Kane jadi awal kehancuran?
Menurut Stead, kehancuran The Lilywhites berawal dari perginya Harry Kane ke Bayern Munich pada Agustus 2023 lalu. Stead mengklaim manajemen tidak memiliki visi yang jelas untuk membesarkan klub meski sudah memiliki stadion dan fasilitas latihan super mewah.
"Kenapa Spurs tidak bisa menahannya? Karena dia ingin memenangkan sesuatu, jadi pasti sudah tahu (nasib klub)," sindir Stead.


















