- Pembuatan prosesor berbasis ARM terhitung lebih murah karena tak memerlukan banyak alat mahal dalam proses produksinya
- Prosesor berbasis ARM memiliki konsumsi daya yang kecil sehingga sangat cocok digunakan di perangkat mobile atau perangkat hemat daya
- Prosesor berbasis ARM sangat unggul dalam menjalankan satu perintah atau operasi sehingga mampu memberikan hasil yang cepat
- Prosesor berbasis ARM memiliki sirkuit yang sederhana dan ukuran yang kecil, membuatnya ideal untuk perangkat mobile yang kecil seperti smartphone dan smartwatch
- Prosesor berbasis ARM menggunakan arsitektur load store yang menyimpan data di berbagai register.
Apa Itu Prosesor Berbasis ARM? Begini Penjelasan Lengkapnya

- Prosesor ARM memakai arsitektur RISC dari ARM Holdings, dikenal menyeimbangkan performa dan efisiensi daya serta berukuran ringkas untuk perangkat mobile.
- Berbeda dari x86 yang komponennya terpisah, ARM mengintegrasikan CPU, RAM, modem, dan GPU dalam SoC serta lisensinya dapat digunakan banyak perusahaan.
- ARM unggul untuk operasi sederhana dan hemat daya, tetapi terbatas untuk multitasking berat, gaming, kalkulasi, serta tidak menjalankan aplikasi x86 secara native.
Jika membahas prosesor atau CPU, pasti kamu lebih akrab dengan istilah fabrikasi, core, clock speed, atau transistor. Semua hal tersebut biasanya menjadi aspek yang diiklankan dan ditonjolkan oleh produsen. Namun, ada satu hal yang jarang diulik, yaitu basis dari prosesor itu sendiri. Dalam hal ini, ada beberapa jenis proses berdasarkan basisnya, yaitu x86 dan ARM.
Perbedaan prosesor berbasis ARM dan x86 tak hanya di nama, tapi mencakup banyak hal seperti spesifikasi, kemampuan AI, hingga efisiensi dayanya. Prosesor berbasis ARM juga punya beberapa kelebihan yang tak ada di prosesor berbasis x86. Lantas, sebenarnya apa itu prosesor berbasis ARM? Berikut penjelasan lengkapnya!
1. Apa itu prosesor berbasis ARM?

Dilansir Assured Systems, prosesor berbasis ARM adalah sebuah prosesor atau CPU yang dibuat menggunakan arsitektur Reduced Instruction Set Computing (RISC). Arsitektur tersebut dikembangkan oleh perusahaan semikonduktor asal Inggris bernama ARM Holdings. Prosesor berbasis ARM terkenal karena beberapa hal, salah satunya kemampuannya untuk menyeimbangkan antara performa tinggi dan efisiensi daya yang optimal. Selain itu, prosesor berbasis ARM juga memiliki ukuran yang kecil dan compact sehingga sangat ideal digunakan di perangkat mobile seperti smartphone.
2. Perbedaan prosesor ARM dengan x86

Prosesor berbasis ARM sering dibandingkan dengan prosesor x86 yang lebih populer dan usianya lebih tua. Di samping itu, keduanya juga memiliki beberapa perbedaan yang cukup mencolok. Dilansir Red Hat, prosesor ARM memiliki satu hardware bernama System on Chips (SoC) yang di dalamnya sudah berisi CPU/prosesor, RAM, modem, hingga GPU. Prosesor x86 berbeda karena semua komponen tersebut dibuat terpisah dan punya chip tersendiri.
Prosesor ARM umumnya juga lebih efisien daya karena bentuknya yang kecil. Sementara itu, prosesor x86 mampu memberikan performa sangat tinggi tapi kurang efisien. Prosesor ARM juga lebih mudah dikustomisasi atau dibuat secara mandiri oleh banyak perusahaan karena ARM Holdings menjual lisensinya ke berbagai perusahaan. Prosesor x86 memiliki beberapa perusahaan utama yang menjadi manufakturnya (seperti Intel dan AMD).
3. Kelebahan prosesor berbasis ARM

Prosesor berbasis ARM mulai populer di berbagai industri karena mampu memberikan banyak kelebihan. Semua kelebihan tersebut bisa dicapai karena sistemnya yang berbeda dengan prosesor x86. Prosesor ARM juga mampu memberikan hal baru yang tak ada di prosesor x86. Di bawah ini beberapa kelebihannya yang dirangkum dari laman GeeksforGeeks.
4. Kekurangan prosesor berbasis ARM

Meski memiliki banyak kelebihan, prosesor berbasis ARM jauh dari kata sempurna. Prosesor tersebut tetap memiliki beberapa kekurangan yang harus menjadi perhatian sebelum kamu menggunakannya. Berikut daftar kekurangannya yang dirangkum dari laman Total Phase dan Assured Systems.
- Prosesor berbasis ARM hanya ideal untuk menjalankan satu operasi atau operasi yang sederhana. Ia bisa kewalahan jika dipaksa menjalankan operasi berat atau banyak operasi sekaligus
- Prosesor berbasis ARM punya kecepatan yang terbatas di beberapa model
- Prosesor berbasis ARM kurang ideal untuk gaming berat
- Prosesor berbasis ARM memiliki keterbatasan pada kalkukasi atau perhitungan
- Performanya sangat bergantung pada kemampuan programmer untuk mengeksusi perintah. Karena itu, programmer dengan skill tinggi sangat dibutuhkan dalam mengeksekusi prosesor berbasis ARM pada sebuah sistem
- Prosesor berbasis ARM tidak bisa menjalankan aplikasi berbasis x86 secara native
- Perangkat yang menggunakan prosesor berbasis ARM tergolong minim.
5. Prosesor berbasis ARM yang sering dipakai oleh konsumen

Pamor prosesor berbasis ARM mulai melonjak di beberapa tahun terakhir. Sebab, ada banyak perusahaan yang menggunakan prosesor tersebut di produknya. Apple menjadi yang paling terkenal karena chipset Apple A series (iPhone) dan M series (Mac dan iPad) merupakan salah satu prosesor berbasis ARM pertama yang dikenal secara luas. Kedua chipset tersebut terkenal akan efisiensi, performa, dan dukungan aplikasinya yang melimpah.
Chipset lain seperti MediaTek dan Qualcomm Snapdragon juga merupakan prosesor berbasis ARM. Chipset MediaTek umumnya dipakai di smartphone. Sementara itu, Snapdragon mulai melebarkan sayapnya ke laptop, mini PC, hingga wearables. Ada juga chipset ARM baru bernama NVIDIA RTX Spark yang ditunjukan untuk laptop serta mengedepankan kemampuan AI, performa, dan efisiensi.
Hadirnya prosesor berbasis ARM membuat pilihan prosesor semakin luas. Tak hanya bergantung pada prosesor x86, prosesor ARM juga bisa menjadi opsi yang menarik buat kamu yang memiliki kebutuhan spesifik. Berbagai perusahaan juga terus mengembangkan prosesor berbasis ARM. Hal tersebut menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas, performa, dan efisiensi dari prosesor tersebut.






















