Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Galaxy S26 dan S26 Plus di Indonesia Pakai Exynos 2600?

Kenapa Galaxy S26 dan S26 Plus di Indonesia Pakai Exynos 2600?
Samsung Galaxy S26+ (samsung.com)
Intinya Sih
  • Samsung memastikan Galaxy S26 dan S26 Plus di Indonesia memakai chipset Exynos 2600, sementara varian Ultra tetap menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 tanpa pembagian wilayah.
  • Kebijakan ini mengikuti strategi regional Samsung untuk menyesuaikan kebutuhan pasar dan efisiensi produksi, sekaligus menjaga stabilitas pasokan perangkat di berbagai negara.
  • Exynos 2600 menjadi chip 2nm pertama Samsung dengan peningkatan efisiensi daya dan performa NPU hingga 39 persen, mendukung fitur AI on-device yang lebih cepat dan hemat energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Samsung resmi mengonfirmasi strategi pembagian chipset pada Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus di berbagai wilayah. Untuk pasar Indonesia, kedua model tersebut dipastikan mengandalkan Exynos 2600 sebagai dapur pacu utama. Kebijakan ini berbeda dengan sejumlah negara lain yang memperoleh prosesor Snapdragon.

Langkah tersebut langsung menjadi sorotan karena perbedaan prosesor hampir selalu menjadi topik penting dalam setiap peluncuran flagship Samsung. Selain itu, pengguna kini semakin memahami bahwa chipset berperan besar terhadap performa, efisiensi daya, dan pengalaman penggunaan dalam jangka panjang. Lantas, apa yang melatarbelakangi keputusan ini? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Perbedaan segmentasi masing-masing model pada seri Galaxy S26

Samsung Galaxy S26 Ultra
Samsung Galaxy S26 Ultra (samsung.com)

Samsung kembali mengadopsi chipset Exynos pada Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus setelah sebelumnya Galaxy S25 kompak mengusung Snapdragon di semua model. Mengutip pernyataan MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia yang disampaikan kepada CNN Indonesia, Kamis (26/2/2025), alasan utama penggunaan konfigurasi ini berkaitan erat dengan perbedaan segmen pengguna Ultra, Plus, dan Basic. Ia menjelaskan bahwa masing-masing varian memiliki target pengguna yang tidak sama dari sisi preferensi maupun ekspektasi performa. Karena itu, pemilihan chipset disesuaikan agar pengalaman penggunaan tetap optimal. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dibanding menyamaratakan spesifikasi di seluruh model flagship.

Lebih lanjut, varian Ultra ditujukan bagi pengguna antusias tinggi yang membutuhkan performa CPU dan GPU paling maksimal. Kelompok ini umumnya mengandalkan perangkat untuk aktivitas berat seperti gaming, multitasking intensif, hingga pengolahan konten. Oleh sebab itu, Snapdragon 8 Elite Gen 5 dipilih untuk menjaga kinerja tinggi yang stabil di berbagai skenario penggunaan. Fokus utama pada model Ultra memang terletak pada performa puncak tanpa kompromi.

Sementara itu, Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus diarahkan pada keseimbangan antara efisiensi daya dan performa. Segmen pengguna Base dan Plus dinilai membutuhkan perangkat yang tetap kencang, namun lebih hemat daya untuk pemakaian harian. Meski memakai Exynos 2600, Samsung menegaskan selisih performa terhadap Snapdragon 8 Elite Gen 5 di varian Ultra tidak terpaut jauh. Artinya, pengguna masih mendapatkan pengalaman flagship yang kompetitif meski memakai chipset berbeda.

2. Strategi regional yang sudah jadi pola Samsung

Samsung Galaxy S26+
Samsung Galaxy S26+ (samsung.com)

Di luar faktor segmentasi model, Samsung membekali sebagian besar pasar global Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus dengan Exynos 2600. Berdasarkan laporan SamMobile, Kamis (26/2/2025), sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Cina, dan Jepang justru memperoleh prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Skema ini menunjukkan bahwa Samsung masih mempertahankan strategi pembagian dapur pacu berdasarkan wilayah pemasaran, sebagaimana yang telah diterapkan pada generasi sebelumnya.

Indonesia sendiri termasuk dalam wilayah yang menggunakan SoC Exynos 2600. Kebijakan ini memberi Samsung fleksibilitas dalam menjaga stabilitas pasokan perangkat sekaligus menyesuaikan kebutuhan tiap pasar. Dari sisi produksi, strategi regional juga membantu efisiensi manufaktur dalam skala besar tanpa mengorbankan peningkatan performa generasi terbaru.

3. Exynos 2600 jadi chip 2nm perdana Samsung

Exynos 2600
Exynos 2600 (semiconductor.samsung.com)

Alasan penting lain di balik penggunaan Exynos 2600 terletak pada teknologi fabrikasi 2nm yang diusungnya. Proses manufaktur ini diklaim menjadi yang pertama digunakan Samsung pada prosesor mobile, sehingga menawarkan efisiensi daya lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Efisiensi tersebut berperan besar dalam menjaga konsumsi baterai tetap stabil saat menjalankan aplikasi berat maupun fitur berbasis AI. Selain itu, arsitektur baru juga membawa peningkatan pada kinerja CPU dan GPU secara keseluruhan.

Tidak hanya berfokus pada efisiensi, peningkatan unit pemrosesan saraf (NPU) hingga 39 persen menjadi nilai jual utama Exynos 2600. Peningkatan ini membuat pemrosesan AI on-device dapat berjalan lebih cepat dan responsif tanpa terlalu bergantung pada cloud. Tren ini sejalan dengan arah pengembangan smartphone flagship yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan langsung di perangkat. Oleh karena itu, penggunaan Exynos 2600 dinilai mendukung optimalisasi fitur AI yang menjadi fokus utama pada generasi Galaxy terbaru.

4. Samsung Galaxy S26 Ultra tetap menggunakan chipset Snapdragon

vapor chamber pada Samsung Galaxy S26 Ultra
vapor chamber pada Samsung Galaxy S26 Ultra (samsung.com)

Berbeda dari Samsung Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus, model tertinggi Galaxy S26 Ultra dibekali Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy di seluruh pasar. Artinya, Samsung tidak menerapkan pembagian SoC berdasarkan wilayah untuk varian Ultra, termasuk di Indonesia. Strategi ini menempatkan performa Galaxy S26 Ultra sebagai tolok ukur tertinggi secara konsisten di berbagai negara.

Samsung juga turut menyempurnakan sistem pendingin vapor chamber pada Galaxy S26 Ultra. Desain terbaru ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi pembuangan panas hingga 21 persen tanpa memperbesar ukuran fisik komponen pendingin. Peningkatan efisiensi termal tersebut berperan penting menjaga performa tetap stabil saat menjalankan tugas berat, seperti gaming, perekaman video resolusi tinggi, hingga pemrosesan AI intensif. Kombinasi Snapdragon dan sistem pendingin yang lebih optimal membuat varian Ultra tetap berfokus pada performa maksimal dan konsistensi kinerja.

Pada akhirnya, adopsi chipset Exynos 2600 di pasar Indonesia tidak semata mencerminkan perbedaan spesifikasi teknis antarwilayah. Kebijakan ini menjadi bagian strategi global Samsung yang mencakup distribusi, efisiensi produksi, dan optimalisasi fitur berbasis AI di perangkat. Teknologi fabrikasi 2nm serta peningkatan NPU yang signifikan membuat Exynos 2600 tetap dirancang untuk menghadirkan pengalaman flagship yang kompetitif. Karena itu, pengguna di Indonesia tetap memperoleh peningkatan performa dan efisiensi yang relevan bagi kebutuhan penggunaan modern.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Tech

See More