Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bolehkah Iktikaf di Masjid Nabawi saat High Season Ramadan?

Bolehkah Iktikaf di Masjid Nabawi saat High Season Ramadan?
Masjid Nabawi, Makkah (unsplash.com/Amien Taryamin)
Intinya Sih
  • Iktikaf di Masjid Nabawi saat Ramadan tetap diperbolehkan, namun harus mengikuti aturan ketat karena lonjakan jemaah yang sangat tinggi terutama pada sepuluh malam terakhir.
  • Pendaftaran iktikaf dilakukan secara daring melalui platform resmi pemerintah Arab Saudi dengan kuota terbatas, dan peserta wajib memiliki izin khusus sebelum masuk area masjid.
  • Selama high season, peluang mendapat tempat iktikaf sangat kecil tanpa pendaftaran awal, sehingga banyak pelancong memilih ibadah malam seperti tarawih dan qiyamul lail sebagai alternatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Wisata religi ke Madinah saat Ramadan selalu memiliki magnet tersendiri, karena banyak peziarah ingin merasakan ibadah langsung di Masjid Nabawi ketika suasana kota berada pada puncak keramaian. Pada masa high season, terutama menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan, lonjakan jemaah terjadi dari berbagai negara, sehingga aktivitas ibadah tidak hanya dipengaruhi oleh niat pribadi, tetapi juga aturan pengelola masjid.

Kondisi tersebut membuat banyak pelancong bertanya apakah iktikaf masih bisa dilakukan ketika area masjid sudah dipadati ribuan orang yang datang dengan tujuan serupa. Selain persoalan hukum ibadah, hal yang sering menjadi pertimbangan ialah prosedur pendaftaran, peluang mendapatkan tempat, hingga kesiapan fisik selama berada di lokasi yang sangat ramai. Berikut penjelasan lengkap agar rencana wisata religi ke Madinah tetap berjalan lancar tanpa kebingungan di lapangan.

1. Jemaah perlu memahami arti iktikaf dan tujuannya di Masjid Nabawi

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (commons.wikimedia.org/Haidan)

Iktikaf merupakan ibadah dengan cara menetap di dalam masjid untuk fokus pada kegiatan seperti salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa selama periode tertentu, biasanya dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Praktik ini sudah ada sejak masa Nabi Muhammad dan menjadi tradisi ibadah yang sangat dianjurkan karena berkaitan dengan pencarian malam Lailatul Qadar. Di Masjid Nabawi, iktikaf memiliki daya tarik khusus karena dilakukan di lokasi yang sangat bersejarah sekaligus menjadi tujuan utama wisata religi umat Islam dari seluruh dunia.

Namun, penting dipahami bahwa iktikaf di masjid ini bukan sekadar datang lalu duduk semalaman, melainkan harus mengikuti sistem yang diatur pengelola. Hal ini disebabkan oleh jumlah jemaah yang sangat besar, sehingga pengaturan ketat diperlukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Tanpa pemahaman awal tentang aturan serta tujuan ibadahnya, pelancong bisa keliru mengira iktikaf sama dengan sekadar beribadah malam biasa tanpa prosedur khusus.

2. Otoritas Masjid Nabawi menentukan kuota dan prosedur pendaftaran resmi

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (unsplash.com/Haidan)

Pada setiap Ramadan, khususnya menjelang high season, pengelola Masjid Nabawi membuka pendaftaran iktikaf melalui platform resmi pemerintah Arab Saudi. Pendaftaran biasanya dilakukan secara daring beberapa minggu sebelum Ramadan dimulai dan kuotanya sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah peminat. Data yang diminta meliputi identitas paspor, nomor visa, serta jadwal keberadaan di Madinah agar petugas dapat memastikan peserta benar-benar berada di kota selama masa iktikaf.

Setelah proses verifikasi selesai, peserta akan menerima izin berupa kartu atau kode khusus yang wajib dibawa saat memasuki area iktikaf. Tanpa izin tersebut, jemaah tidak diperbolehkan membawa perlengkapan untuk menginap di dalam masjid. Sistem ini diberlakukan untuk menghindari kepadatan berlebih serta memastikan area ibadah tetap nyaman bagi seluruh jemaah yang hadir.

3. Harus mengetahui waktu paling ramai dan peluang mendapat tempat

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (commons.wikimedia.org/Imam Khairul Annas)

High season Ramadan di Madinah umumnya dimulai pada malam ke-21 hingga akhir bulan, karena pada periode tersebut banyak jemaah sengaja datang untuk memaksimalkan ibadah malam. Pada waktu ini, area Masjid Nabawi bisa dipenuhi ratusan ribu orang setiap malam, sehingga peluang mendapatkan izin iktikaf menjadi sangat kecil jika tidak mendaftar jauh hari. Bahkan, banyak jemaah lokal sudah mengajukan permohonan sejak sebelum Ramadan dimulai.

Bagi pelancong yang datang melalui paket wisata dengan jadwal singkat, peluang mengikuti iktikaf penuh biasanya cukup terbatas. Alternatif yang sering dilakukan ialah memperbanyak ibadah malam tanpa menginap, seperti mengikuti tarawih, qiyamul lail, serta membaca Al-Qur’an hingga menjelang sahur. Cara ini tetap memberi pengalaman suasana Ramadan di Masjid Nabawi meskipun tidak termasuk kategori iktikaf resmi.

4. Peserta iktikaf wajib mengikuti aturan ketat mengenai barang dan lokasi

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (commons.wikimedia.org/Bluemangoa2z)

Pengelola Masjid Nabawi menerapkan aturan sangat rinci mengenai barang bawaan peserta iktikaf. Jemaah hanya diperbolehkan membawa perlengkapan sederhana seperti sajadah tipis, Al-Qur’an, botol minum, serta tas kecil yang mudah dipindahkan. Barang besar seperti koper, kasur lipat, atau perlengkapan tidur tebal dilarang masuk karena dapat mengganggu mobilitas jemaah lain.

Selain itu, peserta tidak diperbolehkan menempati area terlalu luas atau memesan tempat bagi orang lain. Petugas masjid secara rutin melakukan pemeriksaan untuk memastikan aturan dipatuhi oleh seluruh peserta. Bagi pelancong yang tidak terbiasa dengan kondisi masjid yang sangat padat, memahami aturan ini sangat penting agar tidak mengalami kendala selama menjalankan ibadah.

5. Agen wisata religi menyediakan opsi berbeda terkait program iktikaf

Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (commons.wikimedia.org/بلال الدويك)

Tidak semua paket wisata religi ke Madinah memasukkan agenda iktikaf karena kegiatan ini membutuhkan waktu panjang serta prosedur administratif yang cukup rumit. Sebagian besar agen perjalanan hanya menawarkan program ibadah malam seperti salat tarawih dan kunjungan ke area Raudhah. Hal ini disebabkan oleh jadwal perjalanan umrah yang biasanya terbatas dan harus disesuaikan dengan rencana keberangkatan pulang.

Beberapa agen premium memang menyediakan layanan tambahan berupa bantuan pendaftaran iktikaf serta pengaturan jadwal khusus. Namun, fasilitas ini biasanya terbatas dan dikenakan biaya tambahan karena memerlukan koordinasi langsung dengan otoritas setempat. Oleh sebab itu, pelancong sebaiknya menanyakan detail program sejak awal agar tidak memiliki ekspektasi yang keliru saat merencanakan perjalanan Ramadan.

Melakukan iktikaf di Masjid Nabawi saat high season Ramadan tetap memungkinkan, tetapi membutuhkan persiapan. Tanpa persiapan tersebut, pelancong bisa kesulitan mendapatkan izin meskipun sudah berada di Madinah. Jika semua syarat terpenuhi, kamu bisa menghabiskan 10 malam terakhir Ramadan di tempat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More