Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Pesona Desa Penglipuran yang Jadi Desa Terindah di Dunia 2026

5 min read
4 Pesona Desa Penglipuran yang Jadi Desa Terindah di Dunia 2026
Potret para wanita berjalan di Desa Adat Penglipuran, Bali (unsplash.com/Ruben Hutabarat)
  • Desa Penglipuran di Bangli masuk daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi Condé Nast Traveller pada Maret 2026.

  • Tata ruang Tri Mandala, jalan batu, pekarangan rapi, dan rumah berarsitektur Bali seragam menjaga identitas budaya serta kehidupan spiritual warga.

  • Sekitar 40 persen wilayah berupa hutan bambu; saat Galungan, penjor menghiasi jalan utama dan memperkuat suasana tradisi desa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, menjadi salah satu destinasi yang menarik perhatian wisatawan karena keindahan lingkungan dan tradisi masyarakatnya yang masih terjaga. Desa adat yang berada di dataran tinggi ini memiliki jalan utama berlapis batu, pekarangan rumah yang tertata rapi, hingga kawasan hutan bambu yang memberikan suasana asri.

Pesona tersebut turut mendapat pengakuan internasional. Majalah perjalanan dan gaya hidup Condé Nast Traveller memasukkan Desa Penglipuran dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World yang diterbitkan pada Maret 2026. Dalam ulasannya, Penglipuran disebut sebagai salah satu tempat terbaik untuk merasakan kehidupan Bali melalui lanskap pedesaan dan budaya tradisionalnya.

Lantas, apa saja pesona Desa Penglipuran yang membuatnya masuk dalam daftar desa terindah di dunia 2026? Berikut beberapa daya tariknya yang menarik untuk kamu ketahui.

  1. 1. Tata ruang desa tradisional yang masih terjaga

    Salah satu hal yang langsung mencuri perhatian saat memasuki Desa Penglipuran adalah tata ruangnya yang rapi dan seragam. Jalan utama berlapis batu membentang di tengah desa, diapit pekarangan rumah dan taman yang tertata apik. Jalur tersebut mengarah ke kawasan pura yang menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat setempat.

    Keseragaman lingkungan ini bukan sekadar untuk mempercantik kawasan desa. Masyarakat Penglipuran masih mempertahankan konsep tata ruang tradisional Bali yang dikenal sebagai Tri Mandala. Konsep ini membagi wilayah menjadi tiga zona berdasarkan tingkat kesuciannya.

    Zona utama Mandala berada di bagian utara dan dianggap sebagai kawasan paling suci, sehingga menjadi lokasi tempat ibadah. Di bagian tengah terdapat Madya Mandala yang difungsikan sebagai permukiman penduduk. Sementara itu, Nista Mandala berada di bagian selatan dan salah satunya digunakan sebagai kawasan pemakaman.

    Pembagian ruang tersebut menunjukkan bahwa tata letak Desa Penglipuran memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan kepercayaan mereka. Hal inilah yang membuat Desa Penglipuran terasa berbeda dari kawasan wisata pada umumnya.

  2. 2. Memiliki kawasan hutan bambu

    Potret Desa Penglipuran, Bali
    Potret Desa Penglipuran, Bali (pexels.com/Relaxing Journeys)

    Selain pemukiman tradisional, Desa Penglipuran juga memiliki kawasan hutan bambu yang menjadi bagian penting dari lanskapnya. Sekitar 40 persen dari total luas desa merupakan kawasan hutan bambu. Terdapat sekitar 15 spesies bambu yang tumbuh di kawasan ini dan turut memperkuat suasana hijau serta asri di sekitar desa.

    Hutan bambu tersebut bukan hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan, melainkan juga memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat setempat. Bambu yang tumbuh di sana dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, dengan prioritas penggunaan untuk laba pura, yakni mendukung pemeliharaan dan kebutuhan bangunan pura. Bambu juga dapat digunakan untuk bangunan lain, termasuk rumah warga.

    Pemanfaatan bambu memperlihatkan hubungan erat antara masyarakat Penglipuran, alam, dan tradisi leluhur. Material tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus membantu mempertahankan karakter arsitektur tradisional desa.

    Bagi wisatawan, kawasan hutan bambu bisa menjadi tempat untuk menikmati suasana alam yang lebih teduh di tengah perjalanan menyusuri desa. Keberadaannya juga memperlihatkan bahwa pesona Penglipuran tidak hanya berasal dari bangunan tradisional, tetapi juga dari lingkungan alam yang tetap dipelihara.

  3. 3. Rumah penduduk dengan arsitektur tradisional yang seragam

    Keunikan Desa Penglipuran juga terlihat dari rumah-rumah penduduk yang masih mempertahankan unsur arsitektur tradisional Bali. Sebagian besar pekarangan memiliki tampilan yang relatif seragam. Mulai dari bentuk angkul-angkul atau gerbang rumah, luas lahan bangunan, hingga pembagian ruang di dalamnya.

    Gerbang rumah menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali. Deretan angkul-angkul yang berjajar di sepanjang jalan utama menciptakan pemandangan khas sekaligus memperkuat identitas visual desa. Penataan halaman yang rapi membuat kawasan permukiman terlihat harmonis dengan jalan dan taman di sekitarnya.

    Bambu juga memiliki peran dalam arsitektur tradisional masyarakat Penglipuran. Penggunaannya sebagai material bangunan menunjukkan bagaimana sumber daya alam setempat telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga.

    Meski demikian, tidak semua bagian rumah harus menggunakan bambu. Sebab bentuk dan material bangunan dapat menyesuaikan fungsi serta kebutuhan masing-masing.

    Keberadaan rumah-rumah tradisional ini membuat Penglipuran menarik untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Wisatawan bisa mengamati detail arsitektur sekaligus mengenal cara masyarakat mempertahankan warisan budaya di tengah perkembangan zaman. Namun, karena rumah-rumah tersebut merupakan tempat tinggal warga, pengunjung tetap perlu menghormati privasi dan aturan yang berlaku.

  4. 4. Suasana desa semakin semarak saat Hari Raya Galungan

    Potret Desa Wisata Penglipuran, Bali
    Potret Desa Wisata Penglipuran, Bali (pexels.com/Luke Robin Way)

    Desa Penglipuran juga memiliki daya tarik budaya yang dapat dirasakan melalui perayaan hari besar keagamaan. Salah satunya adalah Hari Raya Galungan.

    Dalam ulasannya, Condé Nast Traveller merekomendasikan untuk mengunjungi Desa Penglipuran dalam momen ini. Pengunjung dapat menikmati suasana desa yang semakin istimewa dengan berbagai hiasan tradisional.

    Salah satu pemandangan yang dapat dijumpai adalah deretan penjor yang menghiasi jalan utama. Penjor merupakan bambu melengkung yang dihias dengan janur dan ornamen lainnya, lalu dipasang di depan rumah saat perayaan keagamaan Hindu Bali. Deretan penjor tersebut menciptakan suasana khas yang memperkuat nuansa budaya di sepanjang jalan desa.

    Galungan sendiri merupakan hari raya umat Hindu Bali untuk memperingati kemenangan dharma atau kebaikan atas adharma atau keburukan. Perayaan ini juga menjadi momen penting bagi masyarakat untuk menjalankan tradisi dan mempererat hubungan keluarga.

    Meski suasana Galungan menawarkan pengalaman tersendiri, wisatawan tetap bisa mengunjungi Penglipuran pada waktu lain. Lingkungan yang tertata, rumah tradisional, dan hutan bambu tetap menjadi daya tarik desa sepanjang tahun. Jika ingin datang saat Galungan, sebaiknya periksa kalender hari raya terlebih dahulu agar perjalanan dapat direncanakan dengan baik.

    Itu dia pesona Desa Penglipuran yang masuk dalam daftar desa terindah di dunia 2026 versi Condé Nast Traveller. Penglipuran menjadi contoh bagaimana warisan budaya dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Selain itu, menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal Bali lebih dekat.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More