Pesona Candi Prambanan Siang dan Malam yang Tak Pernah Padam

Musim liburan kerap dimanfaatkan untuk traveling bersama orang terdekat hingga study tour. Demikian pula dengan penulis, kali ini berkesempatan menikmati liburan singkat di Yogyakarta, tepatnya Candi Prambanan. Kepopuleran candi bercorak Hindu terbesar di Indonesia itu tidak diragukan lagi, terbukti selalu ramai pengunjung nyaris sepanjang tahun.
Agak berbeda dari biasanya, penulis menikmati waktu di kawasan Prambanan dan sekitarnya selama dua hari satu malam. Dengan begitu akan mendapati pesona kemegahan Candi Prambanan siang dan malam hari. Tanpa perlu berlama-lama lagi, berikut ini perjalanan lengkapnya.
1. Bersantai di homestay bernuansa asri di tengah perkampungan

Perjalanan ratusan kilometer hingga berujung di pintu keluar Tol Prambanan telah ditempuh. Lalu lintas padat, tetapi tidak menimbulkan kemacetan yang berarti seperti di tengah kota Yogyakarta. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, sembari menunggu waktu check in penginapan, penulis mampir sejenak ke Plaza Ambarrukmo Jogja.
Salah satu mal kelas atas di Yogyakarta itu tidak terlalu ramai, masih banyak ruang yang tersedia untuk parkir maupun dine in di berbagai tempat makan. Penulis hanya menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam, kemudian kembali menuju arah Prambanan. Tidak langsung ke penginapan, melainkan mampir sebentar untuk makan siang di Soto Timlo Ayam Goreng Samson, Kecamatan Kalasan.
Setelah mengisi perut dengan seporsi empal gentong, perjalanan pun berlanjut menuju penginapan. Bukan hotel mewah, melainkan homestay di tengah perkampungan dengan harga ramah di kantong, Rp380 ribuan per malam. Namanya Ndalem Katresnan, berlokasi di Kalongan, Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.
Homestay tersebut terdiri dari dua kamar dengan kapasitas berbeda. Satu kamar berisi dua tempat tidur king size berkapasitas 4-5 orang. Kamar lainnya berisi sebuah tempat tidur king size yang lebih dari cukup untuk 2 orang.
Fasilitasnya lengkap, sudah termasuk AC, TV, Wifi, kamar mandi, dapur, dan tempat duduk empuk di ruang tamu. Nuansa homey nan asri semakin terasa dengan gazebo, beberapa tanaman hias maupun buah-buahan, serta halaman yang luas. Sebuah kolam ikan melengkapi suasana yang tenang saat bersantai.
2. Menikmati hiburan malam Ramayana Ballet Prambanan

Penulis mengawali aktivitas di kompleks Candi Prambanan dengan menonton sendratari. Ramayana Ballet Prambanan menjadi hiburan malam dengan jadwal reguler setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Ketika musim liburan, biasanya terdapat tambahan jadwal pementasan.
Perjalanan dari penginapan menuju pintu masuk Ramayana Candi Prambanan kurang dari 15 menit. Jaraknya hanya sekitar 1,5–2 km dan mudah untuk memesan jasa transportasi online. Tarifnya pun dapat kurang dari Rp20 ribu untuk kategori mobil berkapasitas 4 orang.
Kemegahan kompleks Candi Prambanan yang diterangi cahaya lampu tampak dari area parkir dan tempat penurunan penumpang. Abaikan sebentar, karena penulis masih perlu mengantre untuk menukarkan tiket di loket biar bisa masuk Gedung Kesenian Tri Murti. Gedung ini merupakan tempat pementasan Ramayana Ballet Prambanan kategori indoor.
Para petugas berpakaian tradisional, mengenakan kain jarik dan batik lurik sudah menyambut di dekat pintu masuk. Mereka memeriksa tiket dan membantu pengunjung mencari tempat duduk sesuai nomor kursi yang tertera dengan ramah. Pengunjung mulai berdatangan, rombongan pelajar dari beberapa sekolah, rombongan keluarga, hingga sejumlah wisatawan mancanegara pun mengisi bangku penonton.
Ramayana Ballet Prambanan mulai pukul 19.30 WIB, dibuka oleh iringan musik tradisional Jawa dan pembawa acara. Sendratari tersebut mengisahkan Rama Wijaya, Pangeran Ayodya dan Dewi Shinta, putri Raja Manthili. Kisah lengkapnya dibagi menjadi dua babak dengan durasi masing-masing sekitar 30 menit.
3. Kisah lengkap Ramayana Ballet Prambanan

Kisah Ramayana Ballet Prambanan diawali dengan tampilnya Rama Wijaya yang memenangkan kompetisi memanah untuk mencari ksatria terbaik. Kemudian dinikahkan dengan putri Raja Mathili, Dewi Shinta. Mereka menikah dan pergi ke Hutan Dandakan bersama Laksmana, saudara laki-laki Rama.
Rahwana meminta pamannya bernama Kalamarica untuk berubah wujud menjadi Kijang Kencana. Kehadiran Kijang Kencana di Hutan Dandaka berhasil menarik perhatian Shinta. Hal ini menjadi pemicu penculikan Shinta dan awal hancurnya Kerajaan Alengka.
Rahwana berhasil menculik Shinta dengan mudah setelah mengubah dirinya menjadi Brahmana. Ia juga berhasil mengalahkan Jatayu, burung raksasa yang berusaha menyelamatkan Shinta. Rahwana lalu membawa Shinta ke Alengka.
Rama yang mendengar kabar tersebut tentu tidak tinggal diam. Ia dibantu oleh Hanoman dan pasukan kera berusaha membebaskan Shinta. Pertempuran besar antara dua kerajaan, Alengka dan Ayodya pun tidak terelakkan. Kemenangan berada di tangan Rama, setelah Rahwana meninggal terkena panah.
Kisahnya belum berakhir, Rama dan Shinta dapat bertemu kembali. Namun, Rama meragukan kesucian Shinta setelah beberapa waktu bersama Rahwana. Dewi Shinta membakar diri untuk membuktikan kesuciannya.
Shinta terselamatkan dari api, yang menjadi bukti bahwa ia masih suci. Akhir cerita yang bahagia ditutup dengan bersatunya kembali Rama dan Shinta. Selang beberapa menit, seluruh penari naik ke atas panggung dan penonton mendapat kesempatan untuk berfoto bersama.
Kisah klasik Rayamana terasa lebih hidup dan membekas dalam ingatan saat dibawakan dalam wujud tarian serta iringan musik. Sesekali penari unjuk kebolehan, seperti salto dan berinteraksi dengan penonton. Hal ini menjadikannya hiburan malam sekaligus wisata budaya yang antibosan.
4. Kemegahan Candi Prambanan saat malam hari

Pementasan Ramayana Ballet Prambanan berakhir pukul 21.10 WIB. Penonton satu per satu beranjak dari tempat duduk, sebagian langsung keluar gedung dan sebagian lagi masih berswafoto bersama para penari. Penulis memilih untuk segera keluar dari Gedung Tri Murti.
Hujan lebat di tengah pementasan kini telah reda. Pandangan tidak bisa terlepas dari kemegahan kompleks Candi Prambanan yang dihiasi cahaya saat malam hari. Tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikannya.
Panggung terbuka, restoran, dan taman di dekat Gedung Tri Murti menjadi sejumlah spot terbaik untuk menyaksikan Candi Prambanan saat malam hari. Pengunjung silih berganti untuk mengambil potret memukau itu. Setelah puas menikmati aktivitas malam di kawasan Candi Prambanan, penulis pun kembali ke penginapan.
5. Pagi di Candi Prambanan, bonus potret gagah Gunung Merapi

Hari kedua, penulis kembali mengunjungi kompleks Candi Prambanan melalui pintu masuk yang berbeda dari semalam. Cuaca lebih bersahabat, pagi terasa sejuk karena diguyur hujan sejak subuh. Perlahan mendung tergantikan oleh langit biru dan sinar mentari.
Pengunjung sudah berdatangan dan tidak perlu antrean panjang untuk masuk ke area candi. Tampak di kejauhan kompleks Candi Prambanan dan Gunung Merapi di sisi yang berbeda. Perpaduan sempurna antara hijaunya alam dan situs bersejarah yang sudah berusia ribuan tahun.
Penulis menyusuri satu per satu bangunan candi utama, beberapa perlu bergantian dengan wisatawan lain. Setiap candi menyuguhkan patung yang berbeda sesuai dengan namanya. Ada Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Setiap spot menyuguhkan kesan berbeda. Candi Brahma tampak paling besar dan ramai pengunjung, bahkan antreannya panjang dibanding yang lain. Detail kecil lainnya tidak kalah menarik, pintu Candi Kelir seolah menjadi frame reruntuhan Candi Perwara berlatar Gunung Merapi.
Pesona tempat wisata ini tidak hanya terletak pada bangunan candi, tapi juga aktivitas lain yang lebih seru. Di sekitar kompleks candi, terdapat beberapa penyewaan wahana bermain, seperti kereta, sepeda wisata, hingga permainan tradisional di Analana Park. Tampak keseruan para pengunjung yang sekadar berjalan santai maupun menjajal setiap wahana bermain untuk segala usia.
6. Temukan kuliner tradisional di Pasar Medang

Penulis menjumpai adanya Pasar Medang yang tidak jauh dari pintu keluar, sebelum melewati pasar wisata, tepatnya Lapangan Sentono. Spot ini merupakan bagian dari event temporer di kawasan Candi Prambanan. Kuliner tradisional maupun kekinian dapat dijumpai di sini, sering disebut daharan lawasan dan anyaran.
Sederet tenant menjajakan aneka kuliner dalam negeri. Beberapa set kursi dan meja pun tersedia untuk pengunjung yang ingin dine in sambil menikmati suasana asri. Konsep tradisional juga terasa dan tampak pada beberapa ornamennya.
Setelah puas menyusuri setiap sudut kompleks Candi Prambanan, penulis mengakhiri perjalanan saat siang pada hari kedua. Siang terasa semakin terik, tetapi pengunjung lebih ramai dari pagi hari. Sampai jumpa dengan kisah perjalanan lainnya!



















