Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Perbedaan Tektok dan Summit dalam Pendakian Gunung

5 Perbedaan Tektok dan Summit dalam Pendakian Gunung
ilustrasi rombongan pendaki (pexels.com/Eric Sanman)

Setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati keindahan alam, salah satunya dengan mendaki. Aktivitas tersebut termasuk hobi yang membutuhkan fisik prima dan perencanaan matang. Alih-alih sekadar mengikuti tren, sebaiknya kamu memikirkan risiko kesehatan dan keselamatan sebelum melakukannya.

Bicara soal mendaki, terdapat istilah yang sering digunakan, yakni tektok dan summit. Keduanya berkaitan dengan skenario perjalanan saat mendaki. Lantas, apa bedanya tektok dan summit dalam pendakian? Yuk, cari tahu!

1. Apa itu tektok dan summit dalam pendakian?

ilustrasi pendaki di puncak gunung
ilustrasi pendaki di puncak gunung (pexels.com/Alex Aparicio)

Sebelum membahas lebih jauh tentang perbedaannya, kamu perlu tahu apa itu tektok dan summit dalam pendakian. Tektok merujuk pada perjalanan naik dan turun gunung tanpa menginap di pos atau basecamp. Tujuannya untuk menghemat waktu atau menghindari cuaca buruk.

Sementara summit identik dengan titik tertinggi sebuah gunung, sehingga menjadi destinasi utama yang menjadi puncak perjalanan. Pendaki akan mendapatkan kepuasan tersendiri saat bisa summit, seperti kemenangan setelah perjalanan panjang. Biasanya dilakukan dengan menginap atau sistem camp sebelum summit attack.

2. Durasi pendakian

ilustrasi smart watch menunjukkan panjang jalur dan durasi pendakian
ilustrasi smart watch menunjukkan panjang jalur dan durasi pendakian (pexels.com/omar-ramadan)

Tujuan berbeda, maka memerlukan rencana pendakian yang berlainan pula. Tektok punya durasi pendakian yang lebih singkat, yakni 1 hari, bisa 8–20 jam, tergantung pada ketinggian gunung. Biasanya pendakian dimulai pada dini hari untuk menuju puncak, kemudian kembali ke titik awal pada hari yang sama.

Sedangkan summit punya durasi pendakian yang lebih santai, karena bisa bermalam di tenda sebelum menuju puncak pada hari berikutnya. Umumnya berdurasi 2–3 hari atau lebih, tergantung pada jalur yang dipilih dan ketinggian gunung. Skenario pendakian ini sering kali disarankan untuk jalur pendakian dengan tingkat kesulitan sedang hingga tinggi, sehingga terdapat larangan tektok. 

3. Logistik dan perlengkapan

ilustrasi rombongan pendaki memasang tenda
ilustrasi rombongan pendaki memasang tenda (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

Perbedaan lain terletak pada logistik dan perlengkapan yang menyesuaikan dengan durasi pendakian. Jika ingin tektok, ransel berukuran 25 liter sudah cukup untuk menyimpan logistik. Karena tidak perlu menginap, maka bahan makanan yang dibawa pun lebih sedikit dan bisa tanpa pakaian ganti.

Selain itu, bisa mengenakan kaus dan jaket tipis yang ringan serta membuat pergerakan lebih leluasa. Alih-alih mengenakan sepatu hiking tradisional, kamu bisa menggantinya dengan sepatu trail running. Jenis sepatu ini dapat membantu menjaga kecepatan serta kenyamanan selama pendakian.

Lain halnya dengan summit yang bisa membutuhkan waktu lebih dari satu hari. Kamu tidak hanya berfokus pada makanan, minuman, dan obat-obatan. Namun, juga perlu tenda, sleeping bag, serta peralatan memasak portabel. 

4. Tantangan fisik dan mental

ilustrasi badai salju saat mendaki
ilustrasi badai salju saat mendaki (pixabay.com/simon)

Tantangan fisik dan mental tektok lebih menantang daripada pendakian biasa. Sebab, pendaki harus memastikan dirinya dalam kondisi prima dan memiliki manajemen waktu yang baik, untuk durasi singkat tanpa istirahat panjang. Biasanya dilakukan oleh pendaki berpengalaman dan sudah mengenal medan, serta tidak disarankan bagi pemula.

Walau summit terkesan lebih santai, tapi bukan berarti tantangannya semakin ringan. Kondisi fisik dan mental tetap perlu dipersiapkan untuk bisa sampai puncak. Perubahan cuaca yang ekstrem, medan sulit, serta motivasi kuat untuk menghadapi tantangan tersebut.

5. Risiko dan keamanan

ilustrasi pendaki turun gunung
ilustrasi pendaki turun gunung (pexels.com/Marek Piwnicki)

Setiap pendakian punya risiko tersendiri, demikian pula dengan tektok. Meski barang yang dibawa ringan, tetapi menguji stamina para pendaki, karena perjalanan non-stop hingga turun kembali pada hari yang sama. Saat kondisi fisik menurun atau cuaca berubah tiba-tiba, maka pendaki perlu segera mengambil keputusan supaya tetap aman di jalurnya.

Summit juga menghadapi risiko serta keamanan yang hampir mirip, meski punya waktu yang lebih banyak untuk istirahat. Summit fever dan acute mountain sickness (AMS) dapat dialami oleh pendaki, jika memaksakan diri mencapai puncak tanpa mempertimbangkan cuaca maupun kondisi fisik. Hal tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan fatal.

Nah, sekarang kamu sudah tahu perbedaan tektok dan summit dalam pendakian. Kamu bisa menuju puncak alias summit dengan tektok maupun nge-camp. Sedangkan tektok merujuk pada pendakian tanpa menginap yang dilakukan dalam satu hari. 


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

7 Masjid Paling Indah di Timur Tengah, Arsitekturnya Memukau

09 Mar 2026, 20:30 WIBTravel