Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

170 Juta Pekerjaan Baru Bakal Lahir Sampai 2030

170 Juta Pekerjaan Baru Bakal Lahir Sampai 2030
ilustrasi teknologi di bidang kesehatan (pexels.com/ThisIsEngineering)
  • World Economic Forum memproyeksikan 170 juta pekerjaan baru tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan tergeser otomatisasi, menghasilkan tambahan bersih 78 juta peluang kerja.
  • Sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah; bidang teknologi, industri hijau, kesehatan, dan sosial tumbuh pesat, sedangkan pekerjaan rutin serta administratif menurun akibat adopsi AI.
  • ACG School Jakarta menggabungkan kurikulum IB dan Cambridge untuk membangun kemampuan berpikir kritis, analisis, bahasa, pemecahan masalah, serta kemandirian siswa menghadapi kebutuhan industri masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lanskap ekonomi global tengah mengalami transformasi struktural yang diproyeksikan bakal memengaruhi 22 persen lapangan kerja hingga akhir dekade ini.

Menurut hasil riset World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025, sebanyak 170 juta pekerjaan baru diperkirakan akan lahir pada 2030, meski di saat bersamaan ada 92 juta pekerjaan yang tergeser oleh otomatisasi.

Dengan demikian, ada penambahan 78 peluang kerja, yang menunjukkan dinamika pasar tenaga kerja masa depan yang menuntut kesiapan angkatan kerja baru secara lebih adaptif.

  1. 1. Kebutuhan keterampilan pekerja terus berubah

    Ilustrasi teknologi (Pexels.com/Flo Dahm)
    Ilustrasi teknologi (Pexels.com/Flo Dahm)

    Dalam laporan itu disebutkan, dampak dari disrupsi membuat sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diproyeksikan berubah dalam periode yang sama. Profesi dengan pertumbuhan paling cepat akan bertumpu pada bidang teknologi, industri hijau, serta layanan kesehatan dan sosial.

    Sebaliknya, pekerjaan rutin dan administratif dipastikan terus berkurang seiring pesatnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perubahan peta ekonomi itu menegaskan, pembekalan generasi muda tidak lagi cukup sekadar mengarahkan mereka pada profesi konvensional tertentu.

  2. 2. Dimulai dari ruang kelas buat bangun SDM yang adaptif

    ilustrasi belajar di kelas (pexels.com/Jeswin Thomas)
    ilustrasi belajar di kelas (pexels.com/Jeswin Thomas)

    Di usia 81 tahun kemerdekaan, dan menuju Indonesia Emas 2045, tantangan terbesar bagi perekonomian nasional adalah mencetak modal manusia (human capital) yang siap menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat. Kepala ACG School Jakarta, Myles D’Airelle, menilai fondasi pendidikan di ruang kelas menjadi kunci utama penciptaan SDM berdaya saing tersebut.

    "Siswa pergi ke sekolah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas kami sebagai pendidik juga untuk memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berani mempertanyakan gagasan, mencari solusi, dan memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan," kata Myles, dikutip Rabu, (26/8/2026).

    Dia mengatakan, kemampuan itu akan membawa generasi muda Indonesia untuk bisa menentukan masa depan dan berkontribusi pada masyarakat.

  3. 3. Integrasi kurikulum jadi kunci

    Foto 2_Keberagaman Sebagai Bagian dari Belajar di ACG School Jakarta.jpeg
    Potret siswa ACG School Jakarta. (dok. ACG School Jakarta)

    Untuk menjembatani jurang antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masa depan, ACG School Jakarta mengintegrasikan kurikulum internasional International Baccalaureate (IB) dan Cambridge.

    Melalui pembelajaran berbasis inkuiri dan lingkungan multikultural, siswa dibekali keterampilan analisis, bahasa, hingga pemecahan masalah nyata yang sangat dibutuhkan pasar kerja global—seperti yang diambil lulusannya di bidang Teknik Kimia UI dan Teknik Dirgantara NTU Singapura. Koordinator Diploma IB ACG School Jakarta, Kieran Pascoe, menambahkan kurikulum itu mengasah mentalitas future-ready siswa.

    "IB menantang siswa untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan berdasarkan rasa ingin tahu, merefleksikannya, dan menganalisis jawaban. Proses ini membantu siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memecahkan masalah, baik untuk pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari," tutur Kieran.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More