Pernah Merespon Pesan Epstein dengan Emoji Jempol, Ketua WEF Resign

- Borge Brende, Ketua World Economic Forum, resmi mundur setelah tinjauan internal menyoroti interaksinya dengan Jeffrey Epstein, termasuk respons emoji jempol pada pesan dari pengacara Epstein.
- Kasus Epstein terus mengguncang tokoh global, dari mantan pejabat Norwegia hingga elite bisnis dan akademisi Amerika Serikat, memicu gelombang pengunduran diri serta krisis reputasi di berbagai institusi.
- Setidaknya enam pejabat pemerintahan Donald Trump disebut dalam berkas Epstein, sementara Departemen Kehakiman AS menghadapi sorotan atas dugaan hilangnya dokumen penting terkait penyelidikan kasus tersebut.
Jakarta, IDN Times - Dampak kasus Jeffrey Epstein kembali meluas pekan ini dan menyentuh sejumlah institusi paling berpengaruh di dunia. Perkembangan itu terjadi ketika pemerintahan Presiden Donald Trump di Gedung Putih sejauh ini belum menghadapi konsekuensi langsung terkait pusaran isu tersebut.
Pada Kamis (26/2/2026), Borge Brende, pimpinan World Economic Forum (WEF) yang dikenal melalui pertemuan tahunan para pejabat dan kalangan elite bisnis di Davos, Swiss, mengundurkan diri. Keputusan itu diambil setelah dilakukan peninjauan internal mengenai hubungannya dengan Epstein.
1. WEF: Hasil tinjauan tidak menemukan persoalan baru selain yang sebelumnya telah dipublikasikan

Borge Brende termasuk di antara sejumlah tokoh publik yang pernyataan terbukanya mengenai hubungan dengan Jeffrey Epstein dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan bukti yang belakangan terungkap. Mengutip laporan The New York Times, sebelumnya Brende mengatakan kepada penyiar publik Norwegia bahwa ia sama sekali tidak mengetahui tindakan kriminal maupun latar belakang Epstein, serta menyatakan tidak akan pernah bertemu dengannya jika mengetahui hal tersebut. Namun, pada Maret 2019, Epstein disebut mengirim pesan teks kepada Brende berisi surat dari tim pengacaranya yang juga dipublikasikan oleh The New York Times.
Dalam surat itu, para pengacara menyinggung hukuman Epstein sebelumnya dan mengklaim bahwa jumlah perempuan muda yang terlibat dalam penyelidikan telah dibesar-besarkan, di antara pernyataan lain. Brende dilaporkan merespons pesan tersebut dengan emoji jempol.
2. Dampak global kasus Epstein menjalar ke berbagai tokoh berpengaruh

Sebagian publik mungkin mengingat Borge Brende saat mewawancarai Donald Trump dalam KTT di Davos pada Januari lalu. Wawancara itu sempat berlangsung canggung setelah Trump membuka dengan pernyataan bahwa ia tidak mengetahui agenda tersebut dan merasa dijebak.
Menurut catatan The New York Times, Brende, yang merupakan mantan menteri luar negeri Norwegia, termasuk di antara sejumlah figur terkemuka dari Norwegia yang menghadapi konsekuensi institusional atas hubungan mereka dengan Jeffrey Epstein. Secara lebih luas, sejumlah tokoh berpengaruh di berbagai negara ikut terseret dalam gelombang pengawasan akibat dampak kasus Epstein, mulai dari mantan anggota keluarga kerajaan, pengusaha Timur Tengah, hingga eks duta besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat sendiri, beberapa eksekutif puncak telah melepas jabatan strategis, sementara sejumlah kampus elite menghadapi tekanan terkait relasi Epstein dengan anggota fakultas maupun jajaran pimpinan mereka. Meski dokumen-dokumen yang terungkap belum memunculkan dakwaan pidana baru terkait kejahatan seksual Epstein, banyak pihak tetap menanggung dampak reputasi akibat kedekatan dengan terpidana kasus tersebut, dilansir MS NOW.
3. Setidaknya setengah lusin pejabat pemerintahan Trump muncul dalam Epstein Files

Akuntabilitas dinilai paling sulit diterapkan di lingkaran terdekat Donald Trump. Setidaknya enam pejabat dalam pemerintahannya disebut muncul dalam berkas Jeffrey Epstein, sebagaimana dilaporkan NBC News pada awal bulan ini.
Trump, yang berulang kali menyatakan agar publik mengalihkan perhatian ke isu lain, disebut ratusan kali dalam dokumen yang disebut tidak berada dalam penahanan United States Department of Justice. Departemen tersebut menyatakan tengah melakukan peninjauan internal setelah sejumlah media, termasuk MS NOW, melaporkan adanya dugaan dokumen yang hilang terkait tuduhan yang belum terverifikasi mengenai pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Trump membantah melakukan pelanggaran apa pun yang berkaitan dengan Epstein. Muncul pula pertanyaan mengenai alasan dokumen-dokumen tersebut tidak termasuk dalam rilis berkas terbaru. Keraguan diarahkan pada independensi peninjauan internal departemen, terutama setelah pimpinannya secara terbuka mengkritik para senator yang lebih menyoroti berkas Epstein ketimbang isu ekonomi seperti pasar saham. Situasi itu disebut menjadi salah satu alasan Partai Demokrat menjalankan penyelidikan secara terpisah.


















