Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan Psikologis Orang Rela Antre Berjam-jam Demi Brand Viral
ilustrasi orang sedang antre (pexels.com/PROSPER MBEMBA KOUTIHOU)
  • FOMO mendorong orang mengantre demi tidak merasa tertinggal tren, terutama saat produk viral terus muncul di media sosial dan unggahan teman.
  • Antrean panjang menciptakan social proof serta validasi sosial: banyaknya pembeli membuat brand dianggap menarik, sementara membagikan pengalaman pembelian memberi rasa menjadi bagian percakapan.
  • Bandwagon effect membuat orang mengikuti antusiasme mayoritas, sedangkan persepsi stok atau waktu terbatas melalui scarcity effect meningkatkan urgensi untuk membeli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat orang rela antre berjam-jam hanya untuk membeli produk dari brand yang sedang viral? Fenomena ini semakin sering terlihat ketika sebuah merek baru, produk makanan, atau barang tertentu ramai dibicarakan di media sosial. Bahkan, lamanya antrean justru bisa membuat orang semakin penasaran dan ikut datang meski sebelumnya tidak terlalu mengenal produknya.

Ternyata, keputusan untuk bertahan di antrean panjang tidak selalu soal kualitas produk atau kebutuhan semata. Ada sejumlah faktor psikologis yang dapat memengaruhi seseorang sampai rela menghabiskan waktu demi mendapatkan sesuatu dari brand yang sedang populer. Lantas, apa alasan psikologis orang rela antre berjam-jam demi brand viral?

1. Fear of missing out (FOMO)

ilustrasi orang antre (pexels.com/Maxim Titov)

Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah fear of missing out atau FOMO, yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu yang sedang dinikmati atau dibicarakan banyak orang. Ketika sebuah brand viral di media sosial, seseorang bisa merasa harus ikut mencoba supaya tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Misalnya, kamu melihat teman-teman mengunggah foto produk dari brand tertentu secara berulang. Pastinya bakal muncul sebuah pikiran rasa ingin tak mau tertinggal dari yang lain. Dorongan tersebut dapat membuat seseorang rela datang lebih awal dan mengantre lama demi merasakan pengalaman yang sama.

FOMO juga semakin kuat karena media sosial membuat tren menyebar dengan cepat. Semakin sering sebuah produk muncul di linimasa, semakin besar pula kesan bahwa produk tersebut sedang menjadi sesuatu yang penting untuk dicoba.

2. Social proof dan validasi sosial

ilustrasi orang sedang mengantre (pexels.com/Zhengdong Hu)

Manusia cenderung menggunakan perilaku orang lain sebagai petunjuk ketika menentukan apakah sesuatu layak dicoba. Konsep ini dikenal sebagai social proof, yaitu kecenderungan menganggap sesuatu lebih bernilai atau dapat dipercaya ketika banyak orang juga memilihnya.

Antrean panjang secara tidak langsung menjadi tanda bahwa sebuah brand sedang diminati. Ketika kamu melihat puluhan atau bahkan ratusan orang rela menunggu, muncul persepsi bahwa produk tersebut pasti memiliki sesuatu yang menarik.

Validasi sosial ini juga bisa muncul setelah membeli produk. Mengunggah pengalaman mencoba brand viral ke media sosial dapat memberikan rasa puas karena seseorang merasa menjadi bagian dari percakapan yang sedang berlangsung. Jadi, pengalaman membeli bukan cuma soal barang yang didapat, tetapi juga pengakuan sosial dari lingkungan.

3. Bandwagon effect atau mentalitas ikut-ikutan

ilustrasi orang sedang antre di siang hari (pexels.com/freestocks.org)

Bandwagon effect menggambarkan kecenderungan seseorang mengikuti pilihan yang sudah dilakukan banyak orang. Dalam konteks brand viral, efek ini dapat terlihat ketika seseorang awalnya tidak tertarik, tetapi kemudian berubah pikiran setelah melihat antusiasme orang lain.

Antrean yang panjang justru dapat menjadi pemicu. Ketika melihat banyak orang rela menunggu, seseorang bisa berpikir bahwa ada alasan tertentu mengapa brand tersebut begitu diminati.

Dorongan untuk ikut tren juga membuat keputusan terasa lebih mudah. Daripada mencari tahu sendiri apakah produk tersebut memang cocok, seseorang cukup melihat popularitasnya sebagai pertimbangan. Akibatnya, semakin ramai sebuah brand, semakin mudah pula orang lain ikut tertarik.

4. Efek kelangkaan atau scarcity effect

ilustrasi orang sedang antre makanan (pexels.com/Jason Renfrow Photography)

Produk yang dianggap terbatas biasanya terasa lebih berharga. Inilah yang dikenal sebagai scarcity effect, ketika persepsi bahwa sesuatu sulit didapat dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk memilikinya.

Brand viral sering memanfaatkan kondisi ini, baik secara sengaja maupun karena tingginya permintaan. Misalnya, stok produk cepat habis, varian tertentu hanya tersedia dalam jumlah terbatas, atau pembelian hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu.

Situasi tersebut menciptakan rasa urgensi. Kamu mungkin sebenarnya tidak terlalu membutuhkan produknya, tetapi ketika tahu kesempatan mendapatkannya terbatas, keinginan untuk membeli bisa meningkat. Antrean panjang akhirnya terasa seperti harga yang harus dibayar agar tidak kehilangan kesempatan.

Alasan psikologis orang rela antre berjam-jam demi brand viral ternyata cukup beragam, mulai dari FOMO, validasi sosial, mentalitas ikut-ikutan, hingga efek kelangkaan. Keempat faktor tersebut bisa saling memperkuat, terutama ketika sebuah brand terus mendapatkan perhatian di media sosial. Jadi, kalau kamu pernah ikut mengantre demi produk yang sedang viral, keputusan tersebut bisa saja dipengaruhi lebih dari sekadar rasa penasaran terhadap produknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article