Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Dampak Perang Israel-AS vs Iran ke Perekonomian Indonesia
Sebuah kapal tanker minyak terlihat di lepas pantai Dubai pada 1 Maret 2026. Karena konflik baru di Timur Tengah berisiko menyebabkan harga minyak melonjak tajam, Arab Saudi, Rusia, dan enam anggota kunci lainnya dari aliansi OPEC+ diperkirakan akan mengumumkan peningkatan produksi pada 1 Maret, kata para analis. (FADEL SENNA/AFP)
  • Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, termasuk isu Iran, menimbulkan tekanan terhadap harga BBM domestik dan memicu dilema antara menjaga daya beli serta kestabilan fiskal pemerintah.
  • Posisi Indonesia sebagai net importer membuat kenaikan harga minyak global berdampak besar pada inflasi melalui peningkatan biaya produksi, distribusi, dan beban subsidi energi yang bisa mencapai puluhan triliun rupiah.
  • Pelemahan rupiah dan lonjakan biaya energi memperbesar risiko inflasi impor, sementara volatilitas pasar global belum tentu memicu arus keluar modal namun tetap perlu diantisipasi oleh otoritas ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kenaikan harga minyak dunia di tengah dinamika geopolitik, termasuk isu konflik yang melibatkan Iran, dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga domestik, terutama bahan bakar minyak (BBM). Prasasti Center for Policy Studies menilai situasi ini menjadi momentum untuk meninjau keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, dan ketahanan ekonomi nasional.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengatakan kenaikan harga minyak global hampir selalu diikuti tekanan terhadap kebijakan harga energi domestik. Menurutnya, pemerintah menghadapi dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan kesehatan fiskal.

“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

1. Ketergantungan impor minyak berdampak ke harga barang

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/abdo alshreef)

Dia menjelaskan posisi Indonesia sebagai net importer membuat sensitivitas terhadap harga minyak global semakin tinggi. Konsumsi minyak nasional mendekati 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik kurang dari setengahnya sehingga ketergantungan impor tetap besar.

Menurut Piter, dampak harga energi terhadap inflasi tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui biaya produksi dan distribusi. Efek lanjutan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan harga barang konsumsi secara bertahap, bergantung pada respons kebijakan pemerintah.

2. Kenaikan harga minyak tekan ruang fiskal subsidi

Ilustrasi minyak dunia (unsplash.com/Timothy Newman)

Dalam konteks makroekonomi, ruang fiskal dinilai menjadi faktor kunci. Ia menyebut setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp50 triliun.

“Tentu ketika harga minyak naik dan kita berada dalam posisi sebagai net importer BBM, akan ada dorongan kenaikan harga BBM di dalam negeri. Tinggal seberapa jauh pemerintah bisa menahan kenaikan itu dan seberapa mampu menjaganya dengan kemampuan fiskal yang terbatas,” ujarnya.

3. Rupiah dan biaya energi dorong risiko inflasi

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Selain harga minyak, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi variabel penting. Kombinasi kenaikan energi global dan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan tekanan harga impor.

“Dampak perang ini besar. Satu, menaikkan harga BBM. Kedua, mendorong dolar menjadi lebih mahal sehingga rupiah tertekan. Kombinasi keduanya akan membuat harga barang impor lebih mahal dan tekanan inflasi ke depan menjadi lebih besar. Ini yang harus diantisipasi oleh otoritas moneter dan pemerintah,” jelasnya.

Dari sisi sektor riil, Piter menilai risiko utama saat ini lebih berasal dari kenaikan biaya energi dibanding gangguan pasokan fisik.

“Saya tidak melihat indikasi disrupsi struktural dalam waktu dekat. Antisipasi tetap diperlukan terhadap efek rambatan kenaikan biaya energi terhadap sektor produksi dan logistik domestik,” tutur Piter.

4. Volatilitas global dan pergerakan modal asing

ilustrasi dolar Amerika (pixabay.com/Sandra Gabriel)

Pada sektor pasar keuangan, ia menilai volatilitas global tidak otomatis memicu arus keluar modal. Kondisi fluktuatif justru dapat menjadi momentum akumulasi aset domestik.

“Gejolak seperti ini tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi timing untuk masuk dan mengoleksi aset-aset keuangan kita,” ujarnya.

5. Risiko umrah dan haji di tengah ketidakpastian global

Masjid Quba, masjid pertama umat Islam yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah, Arab Saudi, kini mengalami perluasan yang dilengkapi cafe shop di halamannya. (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Dia juga menyoroti potensi dampak terhadap aktivitas umroh dan haji seiring pembatalan sejumlah penerbangan menuju Jeddah, Arab Saudi.

“Apabila terjadi pembatasan atau penurunan aktivitas dalam periode yang berkepanjangan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor perjalanan, tetapi juga dapat menimbulkan efek rambatan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.

Editorial Team