potret national park di Selandia Baru (unsplash.com/Eyrie Photography)
Selandia Baru menunjukkan bagaimana hutan dapat menjadi bagian dari industri wisata alam yang lebih luas. Negara ini memiliki taman nasional, hutan asli, pegunungan, fjord, dan lanskap liar yang menjadi daya tarik wisatawan internasional. Dalam model pengelolaan Selandia Baru, hutan tidak selalu dijual sebagai destinasi tunggal. Ia menjadi bagian dari produk pengalaman alam yang lebih besar. Wisatawan dapat melakukan pendakian, treking, pengamatan satwa, wisata lanskap, hingga berbagai aktivitas petualangan yang berlangsung di dalam atau di sekitar kawasan alami.
Salah satu kekuatannya adalah kemampuan mengemas lanskap alam sebagai pengalaman wisata bernilai tinggi. Jalur pendakian, kawasan konservasi, akomodasi, operator wisata, transportasi, dan jasa pemandu membentuk ekosistem bisnis yang saling berkaitan. Karena itu, nilai ekonomi hutan tidak selalu dapat dihitung hanya dari tiket masuk. Ada nilai ekonomi tidak langsung yang muncul dari wisatawan yang datang karena ingin menikmati alam. Mereka menginap, makan, menyewa kendaraan, membeli perlengkapan, menggunakan jasa pemandu, dan membayar berbagai aktivitas wisata. Model seperti ini memperlihatkan bahwa hutan dapat menjadi fondasi industri jasa, bukan hanya industri ekstraktif. Selama ekosistemnya dipertahankan, ia dapat terus menjadi alasan wisatawan datang dari generasi ke generasi.
Kelima negara di atas memperlihatkan satu perubahan cara pandang dalam melihat hutan. Selama ini, keuntungan dari hutan sering diasosiasikan dengan kayu, lahan, atau komoditas yang dapat diambil dari dalamnya. Ekowisata menawarkan logika yang berbeda—nilai ekonomi justru muncul, karena ekosistemnya dilestarikan. Mulai dari Kosta Rika yang menjual pengalaman hutan tropis. Rwanda menjadikan gorila sebagai wisata premium. Uganda mengembangkan wisata primata di hutan Bwindi. Madagaskar menawarkan keunikan lemur dan fauna endemiknya. Hingga Selandia Baru mengemas hutan dan lanskap alaminya menjadi pengalaman wisata bernilai tinggi.
Tentu, ekowisata bukan solusi ajaib. Jika jumlah wisatawan tidak dikendalikan, pembangunan fasilitas terlalu agresif, atau pendapatan hanya mengalir kepada perusahaan besar, wisata alam tetap dapat menimbulkan persoalan ekologis dan sosial. Karena itu, kuncinya bukan sekadar berapa banyak uang yang dihasilkan hutan, tetapi berapa banyak nilai ekonomi yang bisa diciptakan sambil memastikan hutan tetap sehat.
Pada akhirnya, model bisnis terbaik mungkin bukan yang menghasilkan uang paling cepat. Model terbaik adalah yang membuat masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk berkata, "Lebih baik hutan ini tetap hidup daripada ditebang."
Referensi:
Conservation Through Public Health. (2026). “The Number That Proves It Works”. Article of Gorilla Health and Conservation.
Emmanuel Ntirenganya. (2026). “Rwanda’s tourism revenues hit Rwf1tn in 2025 – report”. Article of The New Times.
Jessica Wynne Lockhart. (2023). “Kohutapu Lodge: A model for regenerative tourism in New Zealand”. Article of BBC.
Snyman, S., et al. (2023). “Benefit-sharing from protected area tourism: A 15-year review of the Rwanda tourism revenue sharing programme”. Frontiers in Sustainable Tourism, Vol. 1(1052052): 1—16.
The Wild Ginger Beast. (2023). “Ecotourism and Conservation in Madagascar: Protecting a Global Biodiversity Hotspot”. Article Listicle.
The World Bank. (2023). “Project Information Document”. Report, pp. 1—17.