Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Negara Raup Cuan dari Wisata Hutan, Alam Dijaga Malah Menghasilkan
ilustrasi wisata hutan di sebuah negara (unsplash.com/Tushar Arya)
  • Kosta Rika, Rwanda, Uganda, Madagaskar, dan Selandia Baru menjadikan hutan serta satwa liar sebagai fondasi ekowisata, dari wisata gorila hingga pendakian dan pengamatan fauna endemik.
  • Pendapatan ekowisata mengalir melalui tiket konservasi, penginapan, pemandu, transportasi, restoran, dan layanan lokal; beberapa negara juga membagikan manfaat kepada masyarakat sekitar kawasan.
  • Model ini memberi insentif ekonomi untuk melestarikan ekosistem, tetapi keberhasilannya bergantung pada pengendalian wisatawan, perlindungan habitat, serta distribusi pendapatan yang tidak hanya menguntungkan perusahaan besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama ini hutan sering dipandang sebagai sumber kayu, lahan, atau komoditas yang bisa menghasilkan uang ketika dibuka dan dieksploitasi. Namun, sejumlah negara justru mengambil jalan berbeda. Mereka mempertahankan hutan, melindungi satwa di dalamnya, lalu menjadikannya fondasi bisnis pariwisata. Wisatawan datang untuk melihat sesuatu yang justru harus tetap hidup; yakni pepohonan, satwa liar, dan ekosistem alami.

Model seperti ini melahirkan ekowisata bernilai ekonomi tinggi. Uang mengalir dari tiket masuk kawasan konservasi, jasa pemandu, penginapan, transportasi, restoran, hingga berbagai aktivitas wisata. Bahkan dalam beberapa kasus, sebagian pendapatan dikembalikan kepada masyarakat sekitar agar mereka ikut memperoleh manfaat dari keberadaan hutan. Jadi, menjaga alam bukan sekadar pengeluaran negara, melainkan dapat menjadi investasi ekonomi jangka panjang. Nah, berikut daftar negara yang berhasil menjadikan hutan sebagai aset ekologis yang menjanjikan. Yuk, kita telusuri!

1. Kosta Rika

potret canopy tour di bawah hutan Kosta Rika (commons.wikimedia.org/S. Rae)

Kosta Rika merupakan salah satu contoh paling terkenal ketika berbicara tentang bagaimana alam bisa menjadi mesin pariwisata. Negara kecil di Amerika Tengah ini memiliki hutan hujan tropis, hutan awan, gunung berapi, pantai, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Kombinasi tersebut membuat wisata berbasis alam menjadi bagian penting dari industri pariwisatanya.

Yang dijual Kosta Rika bukan sekadar pemandangan. Wisatawan membayar untuk pengalaman berada di dalam ekosistem: mengamati burung, melihat monyet dan kungkang, berjalan di hutan awan, mengikuti canopy tour, hingga menjelajahi taman nasional. Artinya, semakin sehat ekosistemnya, semakin bernilai pula produk wisata yang ditawarkan.

Model ini menciptakan efek ekonomi berlapis. Wisatawan tidak hanya membayar tiket masuk kawasan konservasi. Mereka juga membutuhkan hotel, restoran, transportasi, pemandu lokal, penyewaan kendaraan, hingga berbagai jasa wisata. The World Bank bahkan mencatat bahwa pemulihan tutupan hutan Kosta Rika berjalan beriringan dengan perkembangan pariwisata dan ekonomi berbasis alam.

Menariknya, Kosta Rika juga memiliki skema Payments for Environmental Services (PES). Melalui mekanisme tersebut, pemilik lahan mendapatkan kompensasi karena mempertahankan jasa lingkungan seperti penyerapan karbon, perlindungan air, dan konservasi keanekaragaman hayati. Dengan demikian, terdapat insentif ekonomi untuk mempertahankan hutan tetap berdiri.

2. Rwanda

potret national park di Rwanda (commons.wikimedia.org/Nina R)

Rwanda memberikan contoh yang lebih ekstrem. Di negara kecil di Afrika Timur ini, salah satu aset wisata alam paling berharga bukan bangunan mewah atau taman hiburan, melainkan gorila gunung yang hidup di hutan. Volcanoes National Park menjadi salah satu destinasi utama wisata gorila. Pengunjung dapat mengikuti perjalanan khusus untuk mengamati gorila di habitat alaminya. Karena jumlah wisatawan dan interaksi dengan satwa harus dikontrol, pengalaman tersebut memiliki karakter wisata premium. Wisatawan membayar bukan untuk membawa pulang satwa atau produk hutan, tetapi untuk memperoleh kesempatan melihatnya dari jarak yang telah diatur.

Model tersebut menghasilkan pemasukan besar bagi sektor pariwisata Rwanda. Pada 2025, pendapatan pariwisata Rwanda mencapai sekitar US$685 juta, meningkat 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Rwanda menyebut pengalaman berbasis alam, termasuk wisata gorila, sebagai salah satu komponen penting dalam performa sektor tersebut.

Yang lebih menarik dari sisi bisnis adalah mekanisme pembagian manfaatnya. Rwanda menjalankan skema Revenue Sharing Scheme, yang mengalokasikan 10 persen pendapatan pariwisata taman nasional kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai proyek masyarakat. Dari perspektif bisnis berkelanjutan, model ini menciptakan hubungan yang menarik. Gorila membutuhkan hutan, wisatawan membutuhkan gorila, dan masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari hutan yang tetap terjaga. Satwa liar akhirnya memiliki nilai ekonomi justru ketika dibiarkan hidup.

3. Uganda

potret wisata hutan di Uganda (unsplash.com/william pietermans)

Uganda juga memanfaatkan hutan sebagai aset wisata bernilai tinggi. Salah satu contohnya adalah Bwindi Impenetrable National Park, kawasan hutan pegunungan yang menjadi habitat penting gorila gunung. Wisata gorila membuat hutan Bwindi memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekadar hasil kayu. Wisatawan yang datang membutuhkan akomodasi, makanan, kendaraan, porter, pemandu, jasa perjalanan, dan berbagai layanan lainnya. Dengan demikian, satu aktivitas wisata dapat menciptakan rantai ekonomi yang panjang.

World Bank pernah menghitung bahwa wisata alam di Uganda menghasilkan sekitar US$31,7 juta manfaat ekonomi, sementara biaya pengelolaan taman pada periode yang dianalisis sekitar US$2,3 juta. Angka tersebut menunjukkan betapa besar nilai ekonomi yang dapat muncul ketika kawasan hutan dipertahankan sebagai destinasi wisata. Bahkan, menurut Conservation Through Public Health, gorila dan simpanse menyumbang lebih dari 60 persen pendapatan internal lembaga tersebut. Artinya, primata yang hidup di habitat alami bukan hanya aset konservasi, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap pembiayaan pengelolaan kawasan.

Di sinilah model bisnis Uganda menjadi menarik. Satu ekosistem dapat menghasilkan pendapatan bagi negara sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Semakin besar nilai wisata hutan, semakin kuat pula alasan ekonomi untuk mempertahankan kawasan tersebut.

4. Madagaskar

ilustrasi kawasan wisata hutan di Madagaskar (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Madagaskar mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki negara lain dalam skala yang sama; yaitu keanekaragaman hayati yang sangat khas dan tingkat endemisme yang luar biasa tinggi. Lemur menjadi salah satu ikon paling terkenal dari negara kepulauan tersebut. Hewan seperti lemur, bunglon, dan berbagai tumbuhan endemik menjadi daya tarik wisatawan yang ingin melihat satwa yang tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain. Bagi industri pariwisata, keunikan tersebut merupakan keunggulan kompetitif yang sangat kuat.

Model bisnisnya pun tidak berhenti pada tiket masuk taman nasional. Wisata alam menggerakkan bisnis penginapan, restoran, transportasi, pemandu, jasa perjalanan, kerajinan, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. World Bank menemukan bahwa belanja wisatawan di sekitar kawasan seperti Nosy Be dapat menghasilkan efek ekonomi lokal yang signifikan. Dalam salah satu analisisnya, setiap US$1 yang dibelanjakan wisatawan di kawasan tersebut menghasilkan sekitar US$2,48 pendapatan lokal.

Ini menunjukkan konsep multiplier effect dalam pariwisata alam. Uang wisatawan tidak berhenti di loket taman nasional. Sebagian bergerak dari wisatawan ke pemandu, dari pemandu ke pedagang, dari hotel ke pemasok makanan, dan seterusnya. Namun, Madagaskar juga menghadapi tantangan besar berupa deforestasi dan tekanan terhadap habitat. Karena itu, ekowisata tidak otomatis menjadi solusi tunggal. Justru keberhasilan bisnisnya sangat bergantung pada kemampuan menjaga ekosistem yang menjadi “produk” utama pariwisata tersebut.

5. Selandia Baru

potret national park di Selandia Baru (unsplash.com/Eyrie Photography)

Selandia Baru menunjukkan bagaimana hutan dapat menjadi bagian dari industri wisata alam yang lebih luas. Negara ini memiliki taman nasional, hutan asli, pegunungan, fjord, dan lanskap liar yang menjadi daya tarik wisatawan internasional. Dalam model pengelolaan Selandia Baru, hutan tidak selalu dijual sebagai destinasi tunggal. Ia menjadi bagian dari produk pengalaman alam yang lebih besar. Wisatawan dapat melakukan pendakian, treking, pengamatan satwa, wisata lanskap, hingga berbagai aktivitas petualangan yang berlangsung di dalam atau di sekitar kawasan alami.

Salah satu kekuatannya adalah kemampuan mengemas lanskap alam sebagai pengalaman wisata bernilai tinggi. Jalur pendakian, kawasan konservasi, akomodasi, operator wisata, transportasi, dan jasa pemandu membentuk ekosistem bisnis yang saling berkaitan. Karena itu, nilai ekonomi hutan tidak selalu dapat dihitung hanya dari tiket masuk. Ada nilai ekonomi tidak langsung yang muncul dari wisatawan yang datang karena ingin menikmati alam. Mereka menginap, makan, menyewa kendaraan, membeli perlengkapan, menggunakan jasa pemandu, dan membayar berbagai aktivitas wisata. Model seperti ini memperlihatkan bahwa hutan dapat menjadi fondasi industri jasa, bukan hanya industri ekstraktif. Selama ekosistemnya dipertahankan, ia dapat terus menjadi alasan wisatawan datang dari generasi ke generasi.

Kelima negara di atas memperlihatkan satu perubahan cara pandang dalam melihat hutan. Selama ini, keuntungan dari hutan sering diasosiasikan dengan kayu, lahan, atau komoditas yang dapat diambil dari dalamnya. Ekowisata menawarkan logika yang berbeda—nilai ekonomi justru muncul, karena ekosistemnya dilestarikan. Mulai dari Kosta Rika yang menjual pengalaman hutan tropis. Rwanda menjadikan gorila sebagai wisata premium. Uganda mengembangkan wisata primata di hutan Bwindi. Madagaskar menawarkan keunikan lemur dan fauna endemiknya. Hingga Selandia Baru mengemas hutan dan lanskap alaminya menjadi pengalaman wisata bernilai tinggi.

Tentu, ekowisata bukan solusi ajaib. Jika jumlah wisatawan tidak dikendalikan, pembangunan fasilitas terlalu agresif, atau pendapatan hanya mengalir kepada perusahaan besar, wisata alam tetap dapat menimbulkan persoalan ekologis dan sosial. Karena itu, kuncinya bukan sekadar berapa banyak uang yang dihasilkan hutan, tetapi berapa banyak nilai ekonomi yang bisa diciptakan sambil memastikan hutan tetap sehat.

Pada akhirnya, model bisnis terbaik mungkin bukan yang menghasilkan uang paling cepat. Model terbaik adalah yang membuat masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk berkata, "Lebih baik hutan ini tetap hidup daripada ditebang."

Referensi:

Conservation Through Public Health. (2026). “The Number That Proves It Works”. Article of Gorilla Health and Conservation.

Emmanuel Ntirenganya. (2026). “Rwanda’s tourism revenues hit Rwf1tn in 2025 – report”. Article of The New Times.

Jessica Wynne Lockhart. (2023). “Kohutapu Lodge: A model for regenerative tourism in New Zealand”. Article of BBC.

Snyman, S., et al. (2023). “Benefit-sharing from protected area tourism: A 15-year review of the Rwanda tourism revenue sharing programme”. Frontiers in Sustainable Tourism, Vol. 1(1052052): 1—16.

The Wild Ginger Beast. (2023). “Ecotourism and Conservation in Madagascar: Protecting a Global Biodiversity Hotspot”. Article Listicle.

The World Bank. (2023). “Project Information Document”. Report, pp. 1—17.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article