Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BPS: Gini Rasio Naik Jadi 0,368 pada Maret 2026, Ketimpangan Melebar

BPS: Gini Rasio Naik Jadi 0,368 pada Maret 2026, Ketimpangan Melebar
ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Ridwan Abdurrohman)
Intinya Sih
  • BPS mencatat rasio gini Indonesia naik menjadi 0,368 pada Maret 2026, meningkat 0,005 poin dari September 2025, yang menandakan ketimpangan pengeluaran melebar.
  • Ketimpangan perkotaan mencapai 0,387 dan perdesaan 0,296; keduanya meningkat. Sementara itu, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen dengan 22,93 juta penduduk miskin.
  • Susenas Maret 2026 menunjukkan kemiskinan menurun, tetapi pertumbuhan pengeluaran belum merata. Kemiskinan perdesaan 10,67 persen, lebih tinggi daripada perkotaan yang sebesar 6,34 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat Indonesia meningkat pada Maret 2026. Hal ini tercermin dari rasio gini yang naik menjadi 0,368, atau meningkat 0,005 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,363.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy mengatakan, rasio gini merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk. Nilai rasio gini berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi pula tingkat ketimpangan pengeluaran di suatu wilayah.

"Pada Maret 2026, ketimpangan di Indonesia tercatat sebesar 0,368 atau naik sebesar 0,005 poin dibandingkan September 2025," ujar Edy dalam konferensi pers, Selasa (5/8/2026).

1. Ketimpangan di kota melebar dibandingkan di desa

potret kemiskinan
ilustrasi potret kemiskinan (pexels.com/Pixs Storage)

BPS mencatat ketimpangan di wilayah perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan. Pada Maret 2026, rasio gini di perkotaan mencapai 0,387, meningkat 0,004 poin dibandingkan September 2025.

Sementara itu, rasio gini di wilayah perdesaan tercatat sebesar 0,296. Angka tersebut naik 0,010 poin dibandingkan September 2025, menunjukkan ketimpangan pengeluaran di desa juga mengalami peningkatan dalam enam bulan terakhir.

Menurut Edy, secara umum peningkatan rasio gini menunjukkan distribusi pengeluaran masyarakat menjadi lebih timpang dibandingkan periode sebelumnya.

2. Jumlah penduduk miskin turun tipis jadi 22,39 juta orang

ilustrasi kemiskinan
ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Jordan Opel)

Lebih lanjut, Edy menjelaskan profil kemiskinan Indonesia per Maret tercatat sebesar 8,07 persen, turun 0,18 poin persentase dibandingkan September 2025 yang sebesar 8,25 persen.

Dari sisi jumlah penduduk, penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang. Jumlah tersebut berkurang sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 yang mencapai 23,36 juta orang.

BPS juga mencatat disparitas tingkat kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih cukup lebar.

"Tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 10,67 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kemiskinan di perkotaan yang sebesar 6,34 persen," jelasnya.

3. Kenaikan rasio gini menunjukkan pertumbuhan pengeluaran masyarakat belum merata

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/C.T. PHAT)
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/C.T. PHAT)

Dengan demikian, Edy menjelaskan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026 menunjukkan dua kondisi yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, tingkat kemiskinan dan jumlah penduduk miskin berhasil menurun. Namun di sisi lain, ketimpangan pengeluaran justru meningkat, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

BPS menegaskan, peningkatan rasio gini mengindikasikan bahwa pertumbuhan pengeluaran masyarakat belum dinikmati secara merata oleh seluruh kelompok penduduk. Karena itu, upaya pengentasan kemiskinan ke depan juga perlu diikuti dengan kebijakan yang mampu mempersempit kesenjangan kesejahteraan antarkelompok masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More