Airlangga: Jerman Tertarik Investasi Mineral Kritis-Serap Tenaga Kerja

- Delegasi bisnis Jerman menjajaki peluang investasi baru di Indonesia setelah kesepakatan IEU-CEPA, dengan fokus pada kerja sama ekonomi dan industri.
- Jerman tertarik berinvestasi di sektor mineral kritis seperti rare earth dan nikel untuk mendukung kebutuhan bahan baku industri kendaraan listrik dan energi bersih Eropa.
- Pemerintah Indonesia menyiapkan agenda kerja sama ketenagakerjaan dan pelatihan dalam forum Joint Commission on Industry and Economy pada September 2026 guna memperkuat kolaborasi dua negara.
Jakarta, IDN Times - Delegasi bisnis Jerman mulai menjajaki berbagai peluang investasi dan kerja sama baru di Indonesia setelah tercapainya kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, minat tersebut mengemuka dalam pertemuannya dengan delegasi bisnis Jerman yang berlangsung usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman di Istana Kepresidenan.
Menurut Airlangga, para pelaku usaha Jerman ingin mengetahui peluang investasi dan kerja sama yang dapat dikembangkan setelah implementasi IEU-CEPA.
"Mereka menanyakan pasca IEU-CEPA ini apa yang menjadi peluang untuk Indonesia," ujar Airlangga usai bertemu delegasi bisnis Jerman di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (15/6/2026).
Selain peluang investasi, delegasi bisnis Jerman juga mengapresiasi kesiapan sumber daya manusia Indonesia. Airlangga menyebut Jerman tengah menghadapi tantangan demografi akibat berkurangnya jumlah penduduk usia produktif sehingga membuka peluang kerja sama di bidang ketenagakerjaan.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, pemerintah berencana memasukkan agenda kerja sama penempatan tenaga kerja dan pelatihan dalam forum Joint Commission on Industry and Economy yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
"Tadi saya tawarkan nanti dalam Joint Commission on Industry and Economy di bulan September mendatang, kita bisa persiapkan rencana dua belah pihak untuk penempatan tenaga kerja ataupun pelatihan, baik itu orang Indonesia maupun Jerman. Dan tadi saya minta langsung kepada Ketua Umum Kadin (Anindya Bakrie) untuk mengorganisasi hal tersebut," ungkapnya.
Di bidang investasi, Airlangga mengungkapkan perusahaan-perusahaan Jerman juga menunjukkan ketertarikan pada sektor mineral kritis Indonesia, terutama rare earth dan nikel. Ketertarikan tersebut sejalan dengan kebutuhan Eropa untuk mengamankan pasokan bahan baku bagi pengembangan industri kendaraan listrik, baterai, dan teknologi energi bersih.
"Mereka menanyakan sektor apa lagi yang bisa mendorong kerja sama Indonesia dan Jerman. Terutama mereka tertarik terkait dengan rare earth, juga termasuk mengenai nikel," tegasnya.
Meski demikian, Airlangga mengingatkan bahwa kerja sama investasi perlu mempertimbangkan kondisi industri global. Menurutnya, industri baja Eropa saat ini tengah menghadapi kelebihan kapasitas produksi sehingga sejumlah produsen berencana memangkas kapasitas produksi dari sekitar 80 juta ton menjadi 40 juta ton.
Karena itu, pemerintah mendorong investasi Jerman diarahkan ke sektor-sektor yang masih memiliki ruang pertumbuhan dan tidak menambah kelebihan kapasitas produksi yang tengah dihadapi sejumlah industri global.
"Kita harapkan kerja sama yang dilakukan tidak menambah excess capacity, tetapi masuk ke sektor lain yang masih sangat terbuka," ungkap Airlangga.


















