Jerman Dorong CEPA Indonesia-Uni Eropa, Investasi Baru Mengalir

- Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menegaskan dukungan penuh terhadap penyelesaian IEU-CEPA guna memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-Uni Eropa dan menghapus hingga 90 persen bea cukai.
- Steinmeier menilai CEPA membuka peluang investasi baru, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah Jerman untuk memperluas usaha di Indonesia serta mendorong kolaborasi riset dan inovasi.
- Kedua negara juga membidik kerja sama di sektor energi terbarukan dan teknologi sebagai langkah menghadapi perubahan iklim serta mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Jakarta, IDN Times - Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menegaskan dukungan negaranya terhadap penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang telah dinegosiasikan selama bertahun-tahun.
Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Senin (15/6/2026), Steinmeier menyebut penyelesaian CEPA menjadi langkah penting untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman.
Menurut Steinmeier, Indonesia dan Jerman memiliki kepentingan yang sama untuk menciptakan kerangka kerja yang lebih baik bagi perdagangan dan investasi. Karena itu, kedua negara menyambut baik perkembangan perundingan CEPA yang kini mendekati tahap akhir.
“Kami harap perjanjian Indonesia-Eropa CEPA itu yang perundingan terselesaikan sesudah waktu yang lama akhirnya juga ditandatangani,” kata Steinmeier dalam keterangan pers bersama.
Ia menilai perjanjian tersebut akan menjadi tonggak penting dalam hubungan ekonomi kedua kawasan karena mampu mengurangi berbagai hambatan perdagangan yang selama ini dihadapi pelaku usaha.
“Dengan itu sampai 90 persen dari bea cukai ditiadakan. Dan kami juga di Jerman merasa tetap bertanggung jawab untuk segera meratifikasikan perjanjian ini,” ujarnya.
1. CEPA dinilai buka peluang investasi baru

Steinmeier mengatakan, manfaat CEPA tidak hanya terbatas pada sektor perdagangan, tetapi juga akan membuka peluang investasi yang lebih luas bagi pelaku usaha dari kedua belah pihak. Menurut dia, kesepakatan tersebut dapat menjadi landasan bagi masuknya investasi baru ke Indonesia sekaligus mempererat hubungan bisnis antara perusahaan Indonesia dan Eropa.
“Perjanjian ini mengandung potensi yang sangat besar dan dengan itu dimungkinkan investasi baru,” katanya.
Ia menjelaskan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dari Jerman akan memperoleh akses yang lebih besar untuk mengembangkan usaha dan menanamkan modal di Indonesia apabila perjanjian tersebut mulai berlaku.
Selain mendorong investasi, Steinmeier menilai CEPA juga dapat memperkuat kerja sama di bidang inovasi dan penelitian yang selama ini menjadi salah satu fokus hubungan Indonesia dan Jerman.
“Juga memberi peluang bagi perusahaan kecil dan menengah dari Jerman untuk mereka dibuka jalan untuk mengadakan investasi di Indonesia, dan juga pertumbuhan ekonomi yang meningkat, dan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan Jerman dan Indonesia di bidang inovasi dan riset,” ujarnya.
2. Perusahaan Jerman sudah lama beroperasi di Indonesia

Dalam kesempatan itu, Steinmeier menyoroti keberadaan sejumlah perusahaan Jerman yang telah lama beroperasi di Indonesia. Menurut dia, kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar Indonesia sekaligus daya tariknya sebagai tujuan investasi.
“Sudah sejak lama ada beberapa perusahaan Jerman yang hadir di pasaran dan di negara Indonesia: Siemens, Daimler, Infineon, dan sebagainya,” katanya.
Ia menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar yang besar, tetapi juga sebagai lokasi strategis untuk pengembangan industri dan investasi jangka panjang.
“Indonesia tidak hanya merupakan pasar yang makin memiliki daya tarik, melainkan juga menjadi lokasi untuk investasi,” ujar Steinmeier.
Pandangan tersebut, lanjut dia, tercermin dari komposisi delegasi yang ikut mendampinginya dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Delegasi tersebut terdiri atas sejumlah pelaku usaha dan perwakilan perusahaan besar dari berbagai sektor.
“Hal itu juga tercermin dalam delegasi yang mendampingi saya dari perusahaan yang sangat besar dan penting dari berbagai bidang ekonomi dan produksi,” katanya.
3. Bidik kerja sama energi dan teknologi

Selain perdagangan dan investasi, Steinmeier menyebut kedua negara juga melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama di sektor energi, khususnya energi terbarukan.
Menurut dia, perubahan iklim dan dinamika geopolitik global menunjukkan pentingnya pengembangan sumber energi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
“Diusahakan membuka jalan baru untuk energi terbarukan. Dan itu hanya bisa dijalankan secara bersama,” ujarnya.
Steinmeier mengatakan isu tersebut turut menjadi salah satu topik pembahasan dengan Presiden Prabowo. Ia meyakini perusahaan-perusahaan Jerman dan Indonesia memiliki banyak ruang untuk membangun kemitraan di sektor energi masa depan.
“Kita melihat perkembangan iklim dan geopolitik di dunia, di sana kita melihat betapa ketergantungannya negara dan pasokan energi dari sumber energi fosil. Dan hal itu tadi kita juga bicarakan,” katanya.
Ia menambahkan kerja sama ekonomi Indonesia dan Jerman tidak hanya terbatas pada perdagangan barang, tetapi juga mencakup pengembangan teknologi, riset, inovasi, dan transisi energi yang menjadi kebutuhan bersama kedua negara.
“Dan saya yakin ada banyak kemungkinan untuk kerja sama antara perusahaan Jerman dan Indonesia,” ujar Steinmeier.

















