Waspada Pig Butchering, Penipuan yang Berawal dari Salah Kirim

- Pig butchering, atau shu zhu pan, pertama kali teridentifikasi di China pada akhir 2010-an dan menyasar korban dari berbagai negara.
- Penipu memakai pesan seolah salah kirim, membangun kepercayaan, lalu mengarahkan percakapan ke investasi kripto, emas, atau forex palsu.
- Korban didorong terus mengirim uang dengan grafik, aplikasi, atau grup palsu hingga penipu memutus komunikasi atau menguras rekening.
Jakarta, IDN Times - Penipuan pig butchering dilakukan dengan cara mendekati calon korban dan membangun komunikasi dalam waktu cukup lama. Setelah korban percaya, penipu perlahan mengarahkan mereka untuk menyerahkan uang dalam jumlah semakin besar.
Dilansir National Cybersecurity Alliance, modus ini juga dikenal sebagai accidental text scam karena sering dimulai dari pesan yang seolah-olah salah kirim. Percakapan kemudian terus berlanjut hingga penipu membawa korban ke berbagai bentuk investasi palsu.
Modus tersebut dapat berlangsung lama dan menggabungkan beberapa teknik penipuan sekaligus. Karena itu, penting untuk mengenali pola komunikasi yang digunakan penipu dan menjaga data pribadi.
1. Istilah pig butchering berasal dari China

Ilustrasi peringatan indikasi penipuan (pexels.com/Gustavo Fring) Istilah pig butchering berasal dari istilah China shu zhu pan, yang dapat diterjemahkan sebagai “papan pembantaian babi”. Istilah tersebut menggambarkan cara penipu memperlakukan korban seperti “babi” yang digemukkan sebelum uangnya diambil sebanyak mungkin.
Penipuan shu zhu pan pertama kali teridentifikasi di China pada akhir 2010-an. Saat itu, jaringan penipuan menyasar penjudi China yang berada di luar negeri. Sejumlah kelompok kejahatan terorganisasi yang menjalankan modus pig butchering masih berbasis di Asia. Namun, korbannya berasal dari berbagai negara.
Modus ini punya kemiripan dengan romance scam yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Polanya juga mirip dengan sejumlah penipuan kripto yang berkembang ketika aset kripto mulai banyak digunakan dalam satu dekade terakhir.
2. Diawali pesan salah kirim berujung investasi

ilustrasi penipuan (freepik.com/stockking) Salah satu ciri pig butchering adalah cara penipu membuka komunikasi. Mereka biasanya berpura-pura menghubungi korban karena salah nomor atau salah kirim pesan. Kontak bisa dilakukan lewat pesan singkat, pesan langsung di media sosial, situs kencan, hingga berbagai layanan komunikasi elektronik lainnya.
Setelah percakapan berjalan, penipu mulai membicarakan investasi. Korban bisa ditawari investasi kripto, emas, atau perdagangan valuta asing (forex). Investasi tersebut sebenarnya tidak ada. Uang yang diberikan korban langsung masuk ke penipu.
Penipu juga tidak terburu-buru. Mereka akan menjaga komunikasi agar korban tetap percaya dan mau terus mengeluarkan uang. Salah satu caranya dengan menunjukkan grafik palsu yang seolah-olah memperlihatkan keuntungan.
Dalam beberapa kasus, penipu bahkan mengirimkan sejumlah kecil uang dan menyebutnya sebagai hasil penarikan. Korban juga bisa diarahkan menggunakan aplikasi palsu yang dibuat menyerupai platform keuangan.
Karena itu, masyarakat perlu curiga jika mendapat pesan dari orang yang tidak dikenal dan pengirimnya terus berusaha mengajak bicara meski awalnya mengaku salah nomor.
Pesan pembuka juga tidak selalu terlihat mencurigakan. Bisa hanya berupa sapaan singkat, ajakan berbicara seolah sudah lama tidak bertemu, atau cerita tertentu yang dibuat untuk menarik perhatian.
Jangan membalas pesan dari orang yang tidak dikenal, termasuk hanya untuk memberi tahu bahwa mereka salah menghubungi nomor.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Pesan awal terlihat seperti salah kirim, tetapi pengirim terus mengajak berbicara.
- Percakapan mulai mengarah ke investasi kripto, emas, atau forex.
- Pengirim terus menjaga komunikasi dan mendorong korban mengirim uang lagi.
3. Korban terus didorong menambah investasi

ilustrasi stock market, pasar saham, investasi, risiko (vecteezy.com/Asih Wahyuni) Penipuan ini biasanya terorganisasi. Sebagian pelaku bekerja dari kantor dan berada di bawah kendali sindikat kejahatan. Sebagian pelaku juga merupakan korban perdagangan manusia yang sebelumnya dijebak dengan tawaran pekerjaan, seperti bekerja di pusat layanan pelanggan (call center).
Untuk mencari korban, penipu bisa menggunakan nomor telepon yang diperoleh dari kebocoran data atau pialang data. Mereka kemudian mengirim pesan kepada jutaan nomor dengan harapan ada yang merespons.
Begitu seseorang membalas, penipu akan melanjutkan percakapan. Dari sana, pembicaraan perlahan diarahkan ke investasi.
Penipu bisa mengaku mengetahui aset kripto baru atau platform perdagangan yang menjanjikan. Mereka kemudian menunjukkan tangkapan layar atau foto gaya hidup mewah untuk membuat investasi tersebut terlihat meyakinkan.
Korban juga bisa dimasukkan ke grup percakapan yang tampak berisi banyak orang yang sedang membahas investasi. Padahal, anggota grup tersebut bisa saja seluruhnya penipu. Bisa juga satu orang menggunakan banyak akun untuk menciptakan kesan bahwa banyak orang sudah berhasil berinvestasi.
Setelah korban mulai mengirim uang, penipu akan terus meminta tambahan dana. Mereka dapat menunjukkan gambar yang telah dimanipulasi seolah-olah investasi korban menghasilkan keuntungan besar.
Dalam beberapa kasus, penipu bahkan mengirimkan sejumlah uang kepada korban untuk membuat transaksi terlihat nyata.
Setelah uang korban habis, penipu dapat mendorong mereka menggunakan tabungan pensiun atau meminjam uang. Ketika korban ingin menarik uangnya, penipu bisa meminta pembayaran tambahan dengan alasan untuk pajak atau biaya pialang.
Pada akhirnya, penipu akan memutus komunikasi ketika korban tidak lagi punya uang atau mulai menyadari bahwa dirinya ditipu. Jika penipu sudah mendapatkan akses ke rekening bank, dana di dalamnya juga bisa dikuras.
Jika merasa menjadi korban, segera hentikan komunikasi dan jangan lagi mengirimkan uang. Laporkan penipuan kepada bank dan IC3 sesegera mungkin karena semakin lama menunggu, semakin sulit membatalkan transaksi yang sudah dilakukan.
Menjaga data pribadi saat beraktivitas di internet dan menerapkan langkah dasar keamanan siber juga penting untuk mengurangi risiko menjadi korban.

















