Jakarta, IDN Times - Maskapai asal Amerika Serikat, Alaska Airlines, memutus hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 200 karyawan akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat yang menekan keuntungan perusahaan. Manajemen Alaska Air Group memperingatkan bahwa kenaikan biaya operasional tersebut berisiko memicu kerugian hingga 700 juta dolar AS (Rp12,69 triliun) per tahun tanpa langkah penghematan yang ketat.
Pihak maskapai saat ini tengah meninjau ulang seluruh pengeluaran demi menjaga stabilitas keuangan jangka panjang. Kebijakan efisiensi ini difokuskan pada jajaran staf kantor pusat, sementara operasional penerbangan dan layanan penumpang dipastikan tetap berjalan normal.