Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Amazon Akuisisi Globalstar Rp198,83 Triliun untuk Saingi Starlink

Amazon Akuisisi Globalstar Rp198,83 Triliun untuk Saingi Starlink
Amazon (unsplash.com/BoliviaInteligente)
Intinya Sih
  • Amazon resmi mengakuisisi Globalstar senilai Rp198,83 triliun untuk memperkuat bisnis internet satelit Amazon Leo dan mengamankan spektrum nirkabel global guna mendukung layanan Direct-to-Device pada 2028.
  • Kemitraan dengan Apple tetap berlanjut, memastikan fitur darurat iPhone dan Apple Watch terhubung lewat jaringan Amazon Leo, sekaligus memperluas layanan data cepat bagi sektor penerbangan dan logistik.
  • Meski akuisisi ini memperkuat posisi Amazon, perusahaan masih menghadapi tantangan regulasi FCC dan keterbatasan peluncuran satelit dibanding Starlink yang sudah mengoperasikan sekitar 10 ribu satelit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amazon secara resmi mengumumkan aksi korporasi dengan menyetujui akuisisi operator satelit Globalstar pada Selasa (14/4/2026). Kesepakatan senilai 11,57 miliar dolar AS (Rp198,83 triliun) ini diproyeksikan menjadi landasan utama bagi Amazon dalam mempercepat pengembangan bisnis internet satelitnya, Amazon Leo.

Langkah strategis ini diambil di tengah kompetisi pasar konektivitas satelit yang saat ini dipimpin oleh Starlink milik Elon Musk. Dengan menggabungkan infrastruktur Globalstar, Amazon berupaya menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi serta fitur komunikasi langsung ke perangkat seluler (Direct-to-Device/D2D) secara global.

Table of Content

1. Amazon mengamankan aset spektrum nirkabel melalui akuisisi

1. Amazon mengamankan aset spektrum nirkabel melalui akuisisi

Amazon Akuisisi Globalstar Rp198,83 Triliun untuk Saingi Starlink
logo Amazon (unsplash.com/Christian Wiediger)

Keputusan Amazon mengakuisisi Globalstar merupakan strategi untuk mengamankan aset spektrum nirkabel yang terbatas di pasar global. Dalam perjanjian ini, Amazon menawarkan nilai kompetitif bagi pemegang saham Globalstar. Mereka dapat memilih untuk menerima pembayaran tunai sebesar 90 dolar AS (Rp1,54 juta) per saham atau menukarnya menjadi 0,3210 saham biasa Amazon.

Fokus utama akuisisi ini bukan sekadar menambah jumlah armada satelit, melainkan untuk menguasai spektrum Band 53 atau n53 yang telah diharmonisasi secara internasional. Spektrum ini memberikan akses langsung bagi Amazon untuk menjalankan layanan D2D tanpa harus mengulang proses perizinan frekuensi dari awal. Langkah ini krusial untuk mendukung rencana peluncuran layanan komersial Amazon pada 2028.

Dampak pengumuman ini langsung terlihat di pasar modal. Nilai kapitalisasi perusahaan Amazon meningkat hingga 125 miliar dolar AS (Rp2,14 kuadriliun) dalam satu hari perdagangan, menunjukkan kepercayaan investor terhadap strategi infrastruktur luar angkasa tersebut.

"Amazon masih tertinggal dari Starlink dalam hal internet satelit. Dengan membeli Globalstar, mereka bisa mengejar posisi frekuensi untuk layanan langsung ke ponsel dan mempercepat penerapannya," kata Armand Musey, Presiden dan Pendiri Summit Ridge Group, dilansir Investing.

Secara teknis, integrasi armada Globalstar ke dalam jaringan Amazon Leo akan memberikan efisiensi dalam penyediaan layanan suara dan data di wilayah yang sulit dijangkau menara seluler terestrial. Amazon Leo, yang sebelumnya bernama Project Kuiper, menargetkan peluncuran 3.200 satelit pada akhir 2029. Strategi ini didukung anggaran belanja modal Amazon sebesar 200 miliar dolar AS (Rp3,43 kuadriliun) pada tahun 2026 untuk pengembangan teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan semikonduktor.

"Alasan utama kesepakatan ini adalah frekuensi. Globalstar menguasai sebagian spektrum layanan satelit seluler yang sangat berharga karena bisa digunakan secara global dan minim gangguan dengan jaringan di darat," kata Luke Pearce, analis senior dari CCS Insight, dilansir The Guardian.

2. Kerja sama Apple dan masa depan layanan D2D

Amazon Akuisisi Globalstar Rp198,83 Triliun untuk Saingi Starlink
ilustrasi logo Apple (unsplash.com/Laurenz Heymann)

Keterlibatan Apple menjadi salah satu aspek penting dalam akuisisi ini. Sebelumnya, Globalstar merupakan mitra utama Apple dalam menyediakan fitur keselamatan darurat pada iPhone. Apple juga telah berinvestasi sekitar 1,5 miliar dolar AS (Rp25,79 triliun) dan memiliki 20 persen saham di anak perusahaan Globalstar untuk menjamin ketersediaan layanan Emergency SOS dan Find My.

Setelah akuisisi, ketiga pihak telah menyepakati kontrak baru. Pengguna iPhone dan Apple Watch dipastikan akan tetap mendapat dukungan koneksi satelit melalui infrastruktur Amazon Leo. Layanan D2D yang dikembangkan Amazon nantinya dirancang untuk mencakup layanan suara dan transmisi data cepat dengan tingkat latensi rendah.

"Banyak pelanggan yang tinggal atau bepergian di area tanpa jangkauan jaringan seluler. Kami mengembangkan Amazon Leo untuk membantu menghubungkan mereka," kata Panos Panay, Senior Vice President of Devices & Services Amazon.

Integrasi teknologi Globalstar ke platform Amazon juga memperluas layanan bagi sektor korporasi dan pemerintah melalui Amazon Web Services (AWS). Sektor penerbangan, maritim, dan logistik dapat memanfaatkan transmisi data tanpa hambatan antara satelit dan pusat data di darat. Beberapa maskapai, seperti Delta Air Lines dan JetBlue, telah berkomitmen menggunakan layanan Amazon Leo untuk menyediakan Wi-Fi berkecepatan tinggi di pesawat.

3. Kompetisi dengan Starlink

Amazon Akuisisi Globalstar Rp198,83 Triliun untuk Saingi Starlink
ilustrasi Starlink (unsplash.com/maria_shalabaieva)

Kendati telah mengakuisisi Globalstar, Amazon masih menghadapi tantangan operasional untuk menyamai kapasitas Starlink yang kini mengoperasikan sekitar 10 ribu satelit. Amazon saat ini menghadapi tenggat waktu dari Komisi Komunikasi Federal AS (FCC), yang mewajibkan peluncuran minimal separuh dari 3.236 target satelit mereka pada Juli 2026.

Akuisisi ini menjadi landasan argumen Amazon untuk mengajukan perpanjangan waktu selama 24 bulan kepada regulator. Selain masalah regulasi, Amazon juga memiliki keterbatasan pada armada roket peluncuran. Untuk sementara, Amazon menyewa jasa SpaceX guna mengirimkan sebagian satelitnya ke orbit, sembari menunggu kesiapan roket New Glenn milik Blue Origin.

Perbedaan infrastruktur antara Amazon dan Starlink turut dipengaruhi oleh ekosistem peluncuran. SpaceX mampu meluncurkan satelit secara berkala dengan biaya yang lebih efisien. Para analis menilai, tanpa kemampuan peluncuran satelit mandiri, Amazon akan membutuhkan waktu lebih lama untuk merebut pangsa pasar Starlink. Namun, melalui target kecepatan internet hingga 1 gigabit per detik, Amazon Leo berupaya menawarkan alternatif dengan spesifikasi teknis yang bersaing.

"Jika Amazon tidak mampu meningkatkan frekuensi peluncuran satelitnya, mereka akan tetap tertinggal dari Starlink secara struktural, bukan sekadar dalam hal jumlah satelit," kata Gregory Radisic, peneliti senior di Bond University.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More