logo Amazon (unsplash.com/Christian Wiediger)
Keputusan Amazon mengakuisisi Globalstar merupakan strategi untuk mengamankan aset spektrum nirkabel yang terbatas di pasar global. Dalam perjanjian ini, Amazon menawarkan nilai kompetitif bagi pemegang saham Globalstar. Mereka dapat memilih untuk menerima pembayaran tunai sebesar 90 dolar AS (Rp1,54 juta) per saham atau menukarnya menjadi 0,3210 saham biasa Amazon.
Fokus utama akuisisi ini bukan sekadar menambah jumlah armada satelit, melainkan untuk menguasai spektrum Band 53 atau n53 yang telah diharmonisasi secara internasional. Spektrum ini memberikan akses langsung bagi Amazon untuk menjalankan layanan D2D tanpa harus mengulang proses perizinan frekuensi dari awal. Langkah ini krusial untuk mendukung rencana peluncuran layanan komersial Amazon pada 2028.
Dampak pengumuman ini langsung terlihat di pasar modal. Nilai kapitalisasi perusahaan Amazon meningkat hingga 125 miliar dolar AS (Rp2,14 kuadriliun) dalam satu hari perdagangan, menunjukkan kepercayaan investor terhadap strategi infrastruktur luar angkasa tersebut.
"Amazon masih tertinggal dari Starlink dalam hal internet satelit. Dengan membeli Globalstar, mereka bisa mengejar posisi frekuensi untuk layanan langsung ke ponsel dan mempercepat penerapannya," kata Armand Musey, Presiden dan Pendiri Summit Ridge Group, dilansir Investing.
Secara teknis, integrasi armada Globalstar ke dalam jaringan Amazon Leo akan memberikan efisiensi dalam penyediaan layanan suara dan data di wilayah yang sulit dijangkau menara seluler terestrial. Amazon Leo, yang sebelumnya bernama Project Kuiper, menargetkan peluncuran 3.200 satelit pada akhir 2029. Strategi ini didukung anggaran belanja modal Amazon sebesar 200 miliar dolar AS (Rp3,43 kuadriliun) pada tahun 2026 untuk pengembangan teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan semikonduktor.
"Alasan utama kesepakatan ini adalah frekuensi. Globalstar menguasai sebagian spektrum layanan satelit seluler yang sangat berharga karena bisa digunakan secara global dan minim gangguan dengan jaringan di darat," kata Luke Pearce, analis senior dari CCS Insight, dilansir The Guardian.