Seorang petugas Sensus Ekonomi mendata warga Dukuh Sigandul Kecamatan Reban Kabupaten Batang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Masalah kualitas pertumbuhan ekonomi ini berimbas langsung pada penurunan jumlah kelas menengah. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS rentang tahun 2019 hingga 2025, ekonomi memang tumbuh rata-rata mendekati 5 persen per tahun, namun pendapatan riil masyarakat stagnan.
Dalam kurun waktu 2019–2025, jumlah kelas menengah menurun dari 57 juta orang menjadi hanya 47 juta orang (turun 10 juta orang), di saat jumlah penduduk Indonesia justru mengalami peningkatan sebanyak 13 juta orang.
Berdasarkan data Susenas BPS, rincian pergeseran populasi menurut kategori pengeluaran (tahun 2019 dibandingkan 2025) adalah sebagai berikut:
Poor/Miskin (Garis Kemiskinan BPS dengan belanja bulanan Rp670 ribu/kapita): Berubah dari 25 juta orang (2019) menjadi 24 juta orang (2025).
Vulnerable/Rentan: Meningkat dari 55 juta orang (2019) menjadi 68 juta orang (2025).
Aspiring Middle Class/Menuju Kelas Menengah (Belanja bulanan Rp1 juta/kapita): Meningkat dari 129 juta orang (2019) menjadi 142 juta orang (2025).
Middle Class/Kelas Menengah (Belanja bulanan Rp2,34 juta/kapita): Menurun drastis dari 57 juta orang (2019) menjadi 47 juta orang (2025).
Upper Class/Kelas Atas (Belanja bulanan Rp11,38 juta/kapita): Stagnan di angka 1 juta orang (2019) dan 1 juta orang (2025).
Selain itu, data menunjukkan bahwa jumlah pekerja formal dengan pendapatan di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) hanya mencapai 26 juta orang. Sebaliknya, sebanyak 60-70 persen rakyat bekerja di sektor informal tanpa kepastian pendapatan.
Apabila menggunakan standar garis kemiskinan World Bank yang setara dengan Rp1,5 juta, maka tingkat kemiskinan sesungguhnya di Indonesia berada di angka lebih dari 60 persen.