Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 8,2 Persen Jadi Rp94,75 Triliun Semester I

Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 8,2 Persen Jadi Rp94,75 Triliun Semester I
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp94,75 triliun. (Dok/Istimewa).
  • Pendapatan premi asuransi jiwa mencapai Rp94,75 triliun pada semester I-2026, tumbuh 8,2 persen secara tahunan, menandakan kebutuhan perlindungan masyarakat tetap terjaga.
  • Produk tradisional menyumbang Rp59,03 triliun, sementara premi unit link Rp35,73 triliun tumbuh lebih cepat; AAJI menekankan edukasi, transparansi, dan kualitas penjualan.
  • Klaim serta manfaat yang dibayarkan mencapai Rp75,75 triliun, naik 4,3 persen, dengan 5,01 juta penerima manfaat; klaim kesehatan menjadi kontributor terbesar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp94,75 triliun hingga semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 8,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp87,60 triliun.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan, pertumbuhan premi tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan asuransi masih terjaga.

“Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan asuransi tetap terjaga,” ujar Albertus dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Periode Semester I-2026 di Jakarta, Senin (31/8/2026).

  1. 1. Produk asuransi tradisional dominasi pendapatan premi dengan kontribusi 62,3 persen

    ilustrasi asuransi (vecteezy.com/tapanakornkaow39714)
    ilustrasi asuransi (vecteezy.com/tapanakornkaow39714)

    Berdasarkan jenis produknya, produk asuransi tradisional masih mendominasi pendapatan premi dengan kontribusi 62,30 persen atau sebesar Rp59,03 triliun. Premi produk tradisional tersebut tumbuh 6,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

    Sementara itu, produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link menyumbang 37,71 persen dari total premi. Nilai premi unit link mencapai Rp35,73 triliun atau tumbuh 10,3 persen yoy.

    “Jadi, kita lihat kebutuhan atau animo masyarakat terhadap unit link itu meningkat lebih tinggi dibandingkan tradisional. Jadi, sama-sama tumbuh,” tegasnya.

    Menurutnya, komposisi tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap produk asuransi semakin beragam. Sebagian masyarakat mengutamakan perlindungan, sementara sebagian lainnya membutuhkan produk yang mengombinasikan perlindungan dengan unsur investasi.

    “Bagi industri, keberagaman pilihan produk perlu diimbangi dengan edukasi dan transparansi agar masyarakat dapat memilih produk sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing,” ujarnya.

  2. 2. Pertumbuhan premi perlu dibarengi peningkatan kualitas penjualan

    ilustrasi asuransi (freepik.com/freepik
    ilustrasi asuransi (freepik.com/freepik

    Albertus menilai pertumbuhan premi tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas penjualan, pemahaman nasabah terhadap produk, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah.

    “Kalau kita lihat premi baru tumbuhnya dua digit, jadi ini satu perkembangan positif. Selama ini kita tumbuhnya tidak sebesar itu, satu digit sudah cukup lama,” kata Albertus.

    Menurut dia, pertumbuhan tersebut perlu dijaga agar tidak hanya mengejar peningkatan volume, tetapi juga memperhatikan kualitas bisnis yang dihasilkan.

    “Jadi ini kita kembali lagi bisa tumbuh dua digit. Ini tentunya hal yang positif dan tentunya kita perlu jaga, bukan hanya tumbuh besar tapi juga kualitasnya,” ucapnya.

  3. 3. Klaim dan manfaat asuransi jiwa tembus Rp75,75 Triliun di semester I-2026

    Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 8,2 Persen Jadi Rp94,75 Triliun Semester I
    Ilustrasi asuransi bisnis (freepik.com)

    Pertumbuhan lebih tinggi tercatat pada premi bisnis baru. Premi bisnis baru produk tradisional tumbuh 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp37,97 triliun. Sementara itu, premi bisnis baru unit link melonjak 34,5 persen yoy menjadi Rp19,78 triliun pada semester I-2026.

    Albertus mengatakan, pertumbuhan premi bisnis baru tersebut mencerminkan masih terjaganya permintaan masyarakat terhadap produk perlindungan asuransi.

    “Pertumbuhan bisnis baru ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perlindungan baru tetap tumbuh dan masyarakat masih mencari solusi asuransi yang sesuai dengan kondisi serta tujuan finansialnya,” kata Albertus.

    Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM (Center of Excellence) AAJI Freddy Thamrin mengatakan, total klaim dan manfaat yang dibayarkan industri mencapai Rp75,75 triliun pada semester I-2026.

    Nilai tersebut meningkat 4,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    “Angka ini meningkat 4,3 persen dibandingkan semester pertama tahun 2025,” ujar Freddy.

    Peningkatan pembayaran klaim dan manfaat tersebut juga diikuti kenaikan jumlah penerima manfaat. Jumlah penerima manfaat naik dari sekitar 4,82 juta orang pada semester I-2025 menjadi 5,01 juta orang pada semester I-2026.

    Freddy mengatakan, kenaikan jumlah penerima manfaat menunjukkan cakupan perlindungan asuransi jiwa semakin luas, selain adanya peningkatan dari sisi nilai pembayaran.

    “Artinya, manfaat perlindungan tidak hanya meningkat dari sisi pembayaran jumlah uangnya, tapi juga menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” katanya.

    Menurut Freddy, kondisi tersebut menunjukkan industri asuransi jiwa tetap menjalankan fungsi perlindungannya di tengah dinamika ekonomi dan kesehatan.

    Berdasarkan jenisnya, klaim kesehatan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp13,58 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut meningkat 11,3 persen yoy.

    Freddy menjelaskan, kenaikan klaim kesehatan dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan perlindungan, khususnya pada segmen kumpulan, serta kenaikan biaya layanan kesehatan.

    “Pertumbuhan klaim kesehatan terutama perlu dilihat dalam konteks meningkatnya pemanfaatan perlindungan pada segmen kumpulan sekaligus dinamika biaya layanan kesehatan yang seperti kita tahu biaya layanan kesehatan terus meningkat,” ucap Freddy.

    Selanjutnya, klaim meninggal dunia tercatat Rp6,50 triliun atau tumbuh 25,5 persen yoy. Sementara itu, klaim lainnya mencapai Rp2,51 triliun atau turun 22,1 persen yoy pada semester I-2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More