Antisipasi Krisis Energi, Ini 5 Jurus RI Amankan Stok BBM-LPG

- Pemerintah melalui Ditjen Migas ESDM menyiapkan lima langkah strategis untuk menjaga pasokan BBM dan LPG nasional di tengah gangguan distribusi akibat konflik di Timur Tengah.
- Langkah utama meliputi pengaturan konsumsi energi, diversifikasi sumber impor di luar Selat Hormuz, serta prioritas penggunaan minyak mentah domestik untuk kebutuhan dalam negeri.
- Pemerintah juga mengoptimalkan produksi kilang dan mengamankan stok LPG 3 kg dengan memanfaatkan sumber baru, termasuk kerja sama dengan kilang swasta dan negara-negara Asia serta ASEAN.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memitigasi gangguan pasokan energi nasional di subsektor migas.
Gangguan tersebut dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada blokade Selat Hormuz. Ketegangan yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu menyebabkan gangguan arus keluar-masuk kapal tanker pengangkut bahan bakar.
Sekretaris Ditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam memaparkan upaya mitigasi mencakup pengaturan konsumsi hingga pengalihan jalur impor guna memastikan stok bahan bakar tetap aman.
"Dengan seluruh langkah strategis mitigasi yang telah kami lakukan, dapat kami tegaskan bahwa pasokan BPM dan LPG nasional saat ini dalam kondisi aman," kata dia dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (9/4/2026).
1. Pengetatan konsumsi BBM dan LPG yang bijak

Pemerintah mulai memberlakukan pengaturan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Ditjen Migas melaporkan surat resmi terkait aturan tersebut telah diterbitkan, sementara BPH Migas bertugas memfasilitasi ketentuan teknis di lapangan.
"Kami melakukan pengaturan konsumsi BBM dan LPG secara wajar dan bijak. Surat pengaturan terkait dengan pengaturan ini sudah diterbitkan oleh Ditjen Migas dan BPH Migas," katanya.
2. Diversifikasi sumber impor di luar Selat Hormuz

Untuk mengantisipasi hambatan distribusi di wilayah konflik, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan pengadaan sumber impor yang semula melewati Selat Hormuz. Sebagai gantinya, pasokan akan didatangkan dari wilayah lain.
"Kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di Selat Hormuz menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia dan negara-negara di ASEAN," paparnya.
3. Prioritas minyak mentah untuk kebutuhan domestik

Terkait ketersediaan minyak mentah (crude oil), Ditjen Migas telah memberikan instruksi tegas kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Mereka diminta untuk mengalihkan alokasi ekspor mereka demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
"Artinya, produksi dalam negeri diupayakan untuk seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk hilang minyak di dalam negeri," ujar dia.
4. Optimalisasi kilang untuk produksi LPG

Pemerintah juga memaksimalkan kinerja kilang-kilang dalam negeri agar produksi BBM dan LPG meningkat. Salah satu contohnya adalah di RDMP Balikpapan, di mana produksi propylene dikurangi meski memiliki harga jual tinggi.
"Produk ini kemudian dikurangi produksinya dan bahan baku naftanya kemudian digeser untuk memperkaya produk LPG, untuk memperkuat pasokan LPG secara nasional," katanya.
5. Pengamanan stok LPG 3 kg dari berbagai sumber

Langkah terakhir difokuskan pada pengamanan stok LPG 3 kg dengan mencari sumber baru, baik dari impor maupun hasil produksi dalam negeri. Pasokan LPG yang biasanya dijual ke sektor industri kini mulai dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain mencari sumber di Asia dan ASEAN, Ditjen Migas juga menginstruksikan kilang LPG swasta untuk memberikan penawaran pertama hasil produksinya kepada Pertamina Patra Niaga sebelum dijual ke pihak lain.
"Kami memberikan usulan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patraniaga yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat," paparnya.

















